Kepercayaan Asia Tenggara terhadap Uni Eropa Meningkat, Indonesia Beda Sendiri
Asia Tenggara semakin melihat Uni Eropa sebagai penyeimbang dalam rivalitas AS-Cina. Namun, analis menilai Brussels perlu memperkuat…
Menurut survei kawasan yang dirilis pekan ini, posisi Eropa di Asia Tenggara menunjukkan perbaikan dalam setahun terakhir.
Untuk tahun keenam berturut-turut, Uni Eropa muncul sebagai "pihak ketiga” yang paling dipercaya untuk menyeimbangkan rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina. Demikian hasil penelitian berdasarkan survei tahunan State of Southeast Asia yang diterbitkan ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Sebanyak 37,7% responden, naik dari 36,3% tahun lalu menyebut Uni Eropa sebagai mitra strategis yang paling dipercaya oleh ASEAN.
Survei itu juga menunjukkan 19,2% responden melihat Uni Eropa sebagai pengusung utama agenda perdagangan bebas global, mengungguli AS, meski masih di bawah ASEAN dan Cina.
Selain itu, 55,9% responden menyatakan percaya Uni Eropa akan "melakukan hal yang benar” dalam menjaga perdamaian, keamanan, kemakmuran, dan tata kelola global. Persentase tersebut meningkat dari 51,9% tahun sebelumnya. Dalam periode yang sama, tingkat ketidakpercayaan turun dari 27,8% menjadi 22,3%.
Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar ketiga ASEAN setelah AS dan Cina, serta sumber investasi asing langsung terbesar kedua bagi kawasan tersebut.
Uni Eropa: mitra yang dapat diprediksi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan negara-negara Asia Tenggara terhadap Uni Eropa terus meningkat, tapi masih terbatas. "Kepercayaan itu lebih didasarkan pada citra EU sebagai pihak yang menjunjung nilai dan aturan internasional, bukan karena kekuatan politik atau militernya," ujar peneliti Melinda Martinus dari ISEAS.
Uni Eropa telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Singapura dan Vietnam, serta menyelesaikan negosiasi kesepakatan besar dengan Indonesia tahun lalu.
Brussels juga tengah mengupayakan perjanjian serupa dengan Filipina, Malaysia, dan Thailand. Harapannya, kesepakatan bilateral ini menjadi fondasi menuju perjanjian perdagangan kawasan dengan ASEAN.
Menurut Martinus, meningkatnya kepercayaan menunjukkan bahwa Uni Eropa semakin dipandang sebagai mitra yang stabil di tengah ketidakpastian kepemimpinan AS.
Ia menambahkan, citra ini diperkuat oleh "asosiasi kuat Uni Eropa dengan hukum internasional, multilateralisme, dan kepemimpinan dalam isu iklim,” yang membuatnya dilihat sebagai penyeimbang.
"Namun, keraguan dalam internal Uni Eropa dan kemampuannya bertindak tegas di panggung global menunjukkan adanya kesenjangan antara reputasi dan dampak nyata,” tambahnya.
Di tengah tren meningkatnya kepercayaan terhadap Uni Eropa,Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN dengan tingkat ketidakpercayaannya lebih tinggi dalam setahun terakhir.
Meski begitu, Indonesia tetap termasuk negara yang paling melihat Uni Eropa sebagai penyeimbang dalam rivalitas AS-Cina. Sebanyak 40,7% responden memilihnya sebagai mitra strategis pihak ketiga.
Mencari alternatif di tengah rivalitas global
Para analis menilai hubungan Uni Eropa dan negara-negara Asia Tenggara yang sebelumnya bersifat normatif, kini bergeser menjadi lebih strategis. Pergeseran ini bukan karena Uni Eropa tiba-tiba menjadi aktor yang kuat. Namun, Asia Tenggara tengah mencari mitra yang dapat diandalkan di tengah gonjang-ganjing kepemimpinan AS dan menguatnya pengaruh Cina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle68160238_403.jpeg.jpg)