Artemis II kembali ke Bumi, empat astronaut mendarat di Samudra Pasifik
Setelah menempuh perjalanan selama 10 hari dalam sebuah misi bersejarah mengelilingi Bulan, empat astronaut misi Artemis II kembali…
Pada pukul 20:03, sebuah sistem otomatis mulai mengembangkan parasut yang secara bertahap mengurangi kecepatan penurunan hingga sekitar 32 kilometer per jam sebelum menyentuh air.
Pendaratan di laut terjadi pada pukul 20:07 malam, sesuai dengan rencana.
Sebuah tim militer dan penyelamat menunggu para astronaut di Samudra Pasifik.
Begitu mendarat di laut, kapsul itu didekati perahu-perahu dengan personel khusus guna membantu para astronaut keluar dari kapsul.
Selanjutnya, mereka dipindahkan dengan helikopter ke kapal amfibi USS John P. Murtha.
Akhir dari sebuah perjalanan bersejarah
Pendaratan di Samudra Pasifik mengakhiri perjalanan selama 10 hari dan lebih dari 1,1 juta kilometer.
Astronaut Amerika Serikat: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta warga Kanada Jeremy Hansen melakukan perjalanan lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan manusia mana pun dalam sejarah.
Kedatangan kapsul ini menandai berakhirnya penerbangan berawak ke Bulan yang pertama dalam lebih dari setengah abad.
Keempat penjelajah ini membuka jalan bagi kembalinya umat manusia ke permukaan Bulan di masa depan.
Bagaimana rasanya masuk atmosfer Bumi?
Helen Sharman, astronaut pertama UK
Saya tahu apa yang dialami awak Artemis II. Setelah berhari-hari melayang tanpa berat badan, masuk kembali ke atmosfer bagi saya merupakan cara yang brutal untuk kembali ke kondisi normal.
Ketika kapsul kami menghantam bagian atas atmosfer, keheningan lembut orbit berubah menjadi gemuruh yang semakin keras. Kapsul mulai terguncang, gaya G meningkat dan saya merasa tertekan ke kursi saya.
Saya ingat mencoba mengangkat buku panduan masuk kembali kami dan terkejut betapa beratnya buku itu; bahkan menggerakkan jari kelingking memerlukan usaha.
Setiap gerakan kecil tiba-tiba membutuhkan upaya keras, seolah-olah gravitasi "dinyalakan" kembali.
Meski begitu, saya terlalu fokus untuk merasa takut: mata tertuju pada layar, menunggu setiap tahap tercapai, memercayai perisai panas yang tidak bisa saya lihat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesia62722f00-3542-11f1-9f46-8b61d8780344.png.jpg)