Tahun Keempat Perang di Sudan, Krisis Kelaparan Anak Kian Parah
Perang di Sudan telah menyebabkan jutaan orang mengungsi dan menjerumuskan mereka dalam krisis kelaparan. Anak-anaklah yang paling…
“Kondisi anak-anak di Sudan semakin memburuk dan waktu terus berjalan,” ungkap Eva Hinds, juru bicara UNICEF (United Nations Children's Fund), pekan lalu, ketika perang saudara di sana memasuki tahun keempat.
Konflik dimulai pada April 2023 melibatkan kelompok Rapid Support Forces (RSF) dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF). Setelah runtuhnya pemerintahan paska konflik sebelumnya pada tahun 2019.
Laporan dari WHO (World Health Organization) sejak pertempuran tersebut menyebar ke berbagai wilayah dan menghancurkan pemukiman warga, lebih dari 13 juta orang harus mengungsi.
UNICEF juga mencatat bahwa lebih dari 4.300 anak telah tewas atau mengalami luka serius sejak perang dimulai. Dengan jumlah korban tertinggi di negara bagian Darfur dan Kordofan.
Ashan Abeywardena, dari War Child, organisasi perlindungan masa depan anak yang terdampak perang, mengatakan bahwa konflik ini berdampak sangat parah bagi anak-anak.
“Konflik yang berlangsung selama 3 tahun memberikan dampak yang sangat besar bagi anak-anak dan perempuan. Sehari-hari mereka harus menerima kabar tentang kematian dan kehancuran,” ujar Abeywardena.
Banyak korban tewas dan luka disebabkan oleh serangan brutal dari drone. Senjata ini semakin sering digunakan dalam konflik yang berlangsung.
“Drone telah membunuh dan melukai anak-anak di rumah, pasar, jalan, sekolah bahkan di fasilitas kesehatan. Di mana seharusnya area itu tidak menjadi sasaran,” ungkap Hinds.
“Dalam tiga bulan pertama di tahun 2026, hampir 700 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan drone,” kata Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher.
RSF dan SAF menggunakan drone untuk menyerang infrastruktur sipil dengan dalih memperlambat pergerakan satu sama lain. Namun dampaknya, fasilitas umum seperti rumah sakit, jalan raya, dan sekolah hancur lebur, membuat kondisi masyarakat semakin buruk.
Krisis Kemanusiaan merembet ke Afrika Timur
Kini, dampak perang Sudan juga meluas ke Afrika Timur.
Koresponden DW di Kenya, Andrew Wasike, mengatakan bahwa konflik ini sudah bukan masalah yang hanya terjadi di Sudan.
“Di Afrika Timur, perang ini bukan sekadar konflik jarak jauh namun menjadi bencana kemanusiaan sekaligus masalah keamanan yang meluas.” Wasike juga menambahkan bahwa pengungsi yang semakin bertambah, terganggunya jalur perdagangan ditambah ketegangan politik yang terjadi telah membebani negara-negara tetangga.
“Pengaruh konflik tidak lagi hanya terjadi di wilayah Khartoum atau Darfur, kini kita semua sudah terdampak,” tambahnya.
Meski dihadapkan dalam derita yang terus terjadi, Sudan justru kesulitan mendapatkan perhatian dunia internasional. Pejabat tertinggi PBB di Sudan, Denise Brown, mengatakan bahwa krisis yang terjadi di Sudan seakan luput dari perhatian internasional.
PBB telah mencatat berbagai kekejaman dalam perang ini di antaranya, kekerasan seksual terstruktur, pengepungan warga yang menyebabkan kelaparan, serta pembantaian massal.
Brown menyoroti satu peristiwa paling mengerikan di tahun lalu. Ketika ribuan orang tewas akibat pertempuran di kota el-Fasher dalam hitungan hari.
“Apa lagi yang ditunggu dunia?” tanya Brown, membandingkan perhatian global pada krisis besar lain yang terjadi saat ini.
Kini, seruan itu mulai terjawab. Pekan lalu, konferensi internasional penggalangan dana bagi para korban perang dilaksanakan di Berlin, Jerman.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul berarap akan ada lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar 17 triliun Rupiah) dana yang terkumpul.
Ia juga menambahkan bahwa dana sebesar 1,3 miliar Euro (seiktar 26 triliun Rupiah) telah terkumpul dan akan disalurkan, beserta 1 miliar dolar AS yang dihimpun dalam konferensi di London tahun lalu.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Athif Aiman
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76762579_403.jpeg.jpg)