Hubungan AS dan India Retak, Trump Jadi Sorotan
Warga India menghadapi tekanan ekonomi akibat perang Iran, dan sentimen publik terhadap Presiden Donald Trump mulai memburuk. Namun…
Dalam tiga bulan terakhir, semuanya telah menerbitkan konten yang menjauh dari narasi “teman baik.” Beberapa video bahkan mempertanyakan kewarasan Trump.
“Sentimen anti-AS jelas berada di titik tertinggi dalam beberapa waktu terakhir,” kata Sundeep Narwani, salah satu pendiri perusahaan riset AI India Narrative Research Lab, yang menggunakan data perilaku dan konsumen untuk memprediksi minat dan memetakan narasi media.
“Pekerjaan utama dalam pembentukan narasi kini dilakukan oleh YouTuber berpengaruh, baik yang pro-pemerintah maupun yang kritis,” katanya.
Narwani menyebut bahkan saluran TV arus utama di India telah meninggalkan posisi pro-Trump.
“Saluran TV sebelumnya lebih pro-Amerika, tetapi sekarang terlihat jelas adanya keseimbangan dalam pemberitaan.”
“Saluran TV kini menampilkan korban dan kehancuran (dalam perang Iran) di kedua sisi secara setara. Koreksi dari simpati yang sebelumnya timpang adalah fenomena baru,” katanya kepada DW.
Narasi yang ditetapkan oleh influencer besar dengan cepat diadopsi oleh kreator yang lebih kecil, kata Narwani.
“Setelah menyebar ke influencer regional, konten analisis geopolitik yang mendalam itu menjadi terlalu disederhanakan dan emosional,” tambahnya.
Apa artinya bagi hubungan AS-India?
Untuk saat ini, sentimen publik di India kemungkinan tidak akan menggagalkan hubungan India–AS, yang tetap berakar pada kepentingan strategis dan ekonomi yang kuat. Namun perubahan yang terjadi di bawah permukaan semakin sulit diabaikan.
Apa yang dulunya merupakan hubungan yang didorong oleh aspirasi dan niat baik kini semakin dibingkai ulang melalui biaya, konsekuensi, dan persepsi ketimpangan.
Bagi banyak warga India, AS tidak lagi sekadar mitra atau model yang ditiru, melainkan kekuatan yang keputusannya dapat mengganggu kehidupan jauh melampaui batas wilayahnya.
Kalibrasi ulang tersebut, yang didorong oleh tekanan ekonomi nyata sekaligus dinamika geopolitik, mungkin akan lebih bertahan lama dibandingkan satu ketegangan diplomatik saja.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle73778279_403.jpg.jpg)