Perompak Somalia bangkit lagi – 'Laut adalah bisnis kami'
Dua nelayan Somalia menuturkan kepada BBC alasan mengapa mereka memutuskan menjadi perompak.
Pemilik kapal tersebut belum mengonfirmasi hal ini, tetapi mengatakan kapal itu dibebaskan setelah negosiasi.
Sumber-sumber di Negara Bagian Puntland yang semi-otonom, tempat Eyl berada, mengatakan kepada BBC bahwa mereka memperkirakan sekitar 10 geng, masing-masing beranggotakan sekitar 12 orang, beroperasi di wilayah tersebut.
Mereka pergi ke laut selama 15 hingga 30 hari setiap kali, memenuhi kapal cepat kecil mereka dengan AK-47, granat berpeluncur roket (RPG), makanan, dan bahan bakar.
Farah dan Diiriye mengatakan tujuan mereka adalah membajak kapal berukuran sedang di Samudra Hindia. Lalu mereka menggunakan sistem pelacakan GPS kapal tersebut untuk menemukan kapal-kapal lain yang lebih besar.
"Kami bisa menyerang kapal dengan perahu cepat kecil," kata Farah.
Peluncur roket mereka juga merupakan bagian penting dari strategi.
"Kami menggunakan RPG untuk menghentikan kapal. Ketika kapal tidak berhenti, kami menembak di atasnya. Kami tidak membunuh. Tujuannya untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk membunuh. [Tujuannya] untuk menakut-nakuti mereka," kata Diiriye.
Semua persenjataan ini tidak murah. Karena itu, geng-geng tersebut mencari pendanaan dari para investor yang tertarik, sering kali pengusaha dari Kota Garowe dan Bosaso. Para nelayan dan investor ini kemudian membentuk sindikat.
Satu investor mungkin mendanai kapal, investor lain mendanai persenjataan, dan investor ketiga mendanai logistik seperti bahan bakar.
Para pengusaha ini terkadang berinvestasi di beberapa kelompok perompak dengan harapan salah satunya akan "dapat jackpot", yaitu ketika sebuah kapal berhasil ditangkap sehingga mereka mendapatkan bagian dari tebusan.
Untuk mendapatkan senjata di Somalia itu mudah. Di Eyl, seorang nelayan bisa membeli AK-47 seharga sekitar US$1.200, warisan dari perang saudara selama dua dekade dan bertahun-tahun tanpa hukum.
Farah dan Diiriye mengatakan mereka tidak terlibat dalam masa keemasan pembajakan dan tidak menerima saran dari perompak pensiunan. Beberapa di antara perompak pensiunan itu juga tadinya adalah nelayan yang kecewa.
Sebagian besar perompak lama ini telah meninggalkan wilayah tersebut. Sering kali mereka pergi ke luar negeri atau bertobat.
Dalam satu kasus terkenal, mantan perompak Abdirahman Bakeyle menyumbangkan kekayaannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesia3a4b0700-b7d4-11ef-aff0-072ce821b6ab.jpg.jpg)