Jumat, 1 Mei 2026
Deutsche Welle

Korea Utara Hadapi Kekurangan Pangan Akibat Cuaca Ekstrem

Media pemerintah Korut menyebut sebagian besar wilayah negara dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan parah. Badan PBB menyebut…

Tayang:
Deutsche Welle
Korea Utara Hadapi Kekurangan Pangan Akibat Cuaca Ekstrem 

Menurut kantor berita pemerintah pada Kamis (30/04), Korea Utara tengah berusaha melindungi pertanian mereka akibat kekeringan “parah.”

Dengan keterbatasan infrastruktur, negara yang relatif terisolasi ini sangat rentan terhadap dampak bencana alam.

Warga Korea Utara telah lama menghadapi kerentanan pangan akibat cuaca ekstrem. Hal tersebut diperparah oleh sanksi, penutupan perbatasan, dan terbatasnya sumber daya pertanian.

Kekeringan perburuk kondisi gizi warga Korea Utara

“Belakangan, kekeringan parah sering terjadi di sebagian besar wilayah. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, fenomena ini jarang terlihat,” kata Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) dari Pyongyang.

“Para petani berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi tanaman awal musim dari kekeringan,” tambahnya.

KCNA melaporkan bahwa kota dan kabupaten di Korea Utara tengah melakukan “perbaikan pintu air waduk dan saluran air,” serta mengupayakan supaya gandum dan jelai tidak terdampak kekeringan.

Pada Februari, Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia, Elizabeth Salmon mengatakan bahwa kekurangan pangan sudah menjadi perhatian utama. Badan-badan PBB menyebut, jutaan warga Korut mengalami kekurangan gizi dan rentan terhadap bencana, seperti kekeringan dan banjir.

Upaya perlindungan panen

KCNA menyebut Perdana Menteri Korut Pak Thae Song melakukan inspeksi langsung ke lahan pertanian di Provinsi Pyongan Selatan dan Hwanghae Utara. Ia memeriksa "langkah-langkah penanggulangan untuk meminimalisasi dampak kekeringan."

Pak meminta para petani untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber air yang tersedia secara efisien. Menurut laporan KCNA, Pak menekankan bahwa keberhasilan panen tahun ini bergantung pada kemampuan mengatasi kekeringan.

Korea Selatan juga terdampak kekeringan tahun lalu. Terutama di wilayah Gangneung. Negara itu juga mencatat musim panas terpanasnya. Baik Korut maupun Korsel mencatat bulan Juni terpanas mereka.

Warga Korea Utara juga memiliki akses yang terbatas terhadap pendingin udara. Sebab, mereka kerap kekurangan listrik.

Secara umum, frekuensi dan intensitas cuaca ekstem meningkat akibat perubahan iklim. Ini terutama disebabkan oleh emisi CO2 akibat aktivitas manusia.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Yuniman Farid

Sumber: Deutsche Welle
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved