Perang Iran: Citra Pusat Keuangan Dubai Retak, Investor Kabur
Di tengah perang Iran, para elite kaya diam-diam mulai memindahkan aset keluar dari Dubai menuju Singapura dan Swiss. Seberapa tangguh…
Proyeksi dari Citi Research dan Knight Frank menunjukkan potensi koreksi harga sebesar 7–15%.
Meski begitu, sebagian besar orang kaya tidak sepenuhnya keluar dari Dubai, melainkan melakukan diversifikasi. Banyak yang tetap menjalankan bisnis dan gaya hidup di UEA, tetapi memindahkan sebagian kekayaan jangka panjang serta membuka residensi kedua di Singapura atau Swiss.
Lonjakan ekonomi tertahan
Sekitar seperlima klien berbasis Dubai tetap bertahan dan melihat ketidakstabilan ini sebagai sementara, terutama jika serangan Iran mereda dan Selat Hormuz kembali dibuka.
Namun bagi banyak lainnya, memiliki basis di negara lain kini dianggap sebagai “asuransi” yang penting.
Sebelum perang, ekonomi Dubai sedang mengalami lonjakan. Pada 2025, pertumbuhan PDB mencapai sekitar 4,7?lam sembilan bulan pertama.
Sebanyak 9.800 jutawan pindah ke Dubai tahun lalu, membawa sekitar $63 miliar (sekitar Rp1 kuadriliun) kekayaan baru, menurut Henley & Partners.
Dubai menawarkan pajak penghasilan pribadi nol, tanpa pajak capital gain atau warisan, serta pajak perusahaan hanya 9% untuk laba di atas sekitar $100.000 (Rp1,6 miliar). Bahkan perusahaan di zona bebas pajak tidak dikenai pajak atas pendapatan tertentu.
Populer bukan tanpa alasan
Dari kota gurun sederhana, Dubai dalam 50 tahun terakhir terus mendorong batas inovasi dan rekayasa.
Pengamat menilai jika gencatan senjata bertahan dan kepercayaan kembali, kota ini bisa pulih dengan cepat. Mereka juga mengingatkan agar tidak meremehkan kota yang menjadi rumah bagi gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, serta berbagai proyek ikonik lainnya.
Sebelum perang, penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, telah meluncurkan rencana menjadikan bandara Dubai sebagai pusat penerbangan terbesar di dunia dan menggandakan ukuran ekonomi pada 2033.
Proyek ambisius lain juga tengah direncanakan, seperti jalur pejalan kaki ber-AC sepanjang 93 km bernama “The Loop”, terumbu karang buatan terbesar di dunia dengan lebih dari satu miliar karang, serta resor “Artificial Moon”.
Karena itu, meskipun banyak investor kaya mulai melakukan lindung nilai, keluar sepenuhnya dari Dubai berarti meninggalkan kehidupan kosmopolitan yang unik di tengah gurun.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76224896_403.jpg.jpg)