Mengenal Hantavirus: Cara Penularan, Gejala, dan Risikonya
Tiga orang dilaporkan meninggal dunia di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik, diduga akibat hantavirus. Penyakit ini juga menyerang…
Tiga pelancong dilaporkan meninggal dunia di atas kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde, dengan dugaan kuat terinfeksi hantavirus. Seorang pelancong lain dinyatakan positif terinfeksi virus ini. Menurut laporan media, pria berusia 69 tahun tersebut kini dirawat intensif di Afrika Selatan. Dua anggota kru kapal juga dilaporkan menderita sakit parah.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti bagaimana dan di mana para pelancong tersebut terinfeksi.
"Badan Kesehatan Dunia (WHO) wilayah Eropa menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” demikian pernyataan resmi WHO pada Senin (04/05). "Tidak ada alasan untuk panik atau memberlakukan pembatasan perjalanan.”
Kapal yang dimaksud adalah Hondius, yang dioperasikan oleh perusahaan Belanda, Oceanwide Expeditions. Saat ini terdapat 149 penumpang dan awak kapal di dalamnya.
Hantavirus dan penularannya
Hantavirus adalah penyakit zoonosis, artinya penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Penularan dari manusia ke manusia belum pernah diamati di Eropa.
Di Amerika Selatan, sejumlah kecil kasus penularan antarmanusia pernah dilaporkan, khususnya yang melibatkan virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang ditemukan di Argentina dan Cili. Saat ini, virus Andes merupakan satu-satunya varian hantavirus yang diketahui mampu menular antarmanusia. Namun, sebuah studi tahun 2021 menyebutkan bahwa penularan antarmanusia virus Andes pun belum sepenuhnya dapat dibuktikan secara pasti.
Hewan inang alami hantavirus terutama adalah berbagai jenis tikus dan mencit, meskipun virus ini juga ditemukan pada celurut, tikus tanah, dan kelelawar. Hewan yang terinfeksi mengeluarkan virus melalui air liur, urine, dan kotoran.
Manusia terinfeksi ketika bersentuhan dengan sisa-sisa tersebut. Cara penularan yang paling umum adalah menghirup debu yang terkontaminasi, misalnya saat kotoran kering atau bahan sarang tikus beterbangan ke udara.
Infeksi juga bisa terjadi jika partikel terkontaminasi tertelan atau jika seseorang menyentuh mata atau hidung setelah kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Virus ini dapat bertahan di lingkungan selama beberapa minggu. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi tidak selalu diperlukan, meskipun gigitan hewan yang terinfeksi juga dapat menyebabkan penularan.
Apa saja gejalanya?
Tingkat keparahan penyakit sangat bergantung pada jenis hantavirus yang menginfeksi. Strain yang ditemukan di Eropa dan Asia umumnya menyebabkan gejala mirip flu, seperti:
- Demam tinggi selama tiga hingga empat hari (di atas 38°C)
- Sakit kepala
- Nyeri perut
- Nyeri punggung
Namun, beberapa pasien sama sekali tidak menunjukkan gejala.
Dalam beberapa kasus, penyakit dapat berkembang menjadi demam berdarah dengan sindrom ginjal, yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah dan gangguan fungsi ginjal, bahkan berkembang menjadi gagal ginjal akut.
Menurut tinjauan ilmiah tahun 2023 yang diterbitkan di jurnal The Lancet, tingkat kematian akibat sindrom ini berkisar dari kurang dari 1% hingga 15%, tergantung jenis virusnya.
Sementara itu, strain hantavirus yang ditemukan di Amerika Utara dan Selatan dapat menyebabkan sindrom paru, di mana cairan menumpuk di paru-paru, tekanan darah menurun, dan gangguan pernapasan berat dapat terjadi. Sindrom paru ini berakibat fatal pada sekitar 30-40% kasus, menurut studi yang sama.
Hantavirus di Jerman
Hantavirus telah dikenal di Jerman selama bertahun-tahun, dengan jumlah kasus tahunan biasanya berkisar antara 200 hingga 3.000 kasus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77038827_403.jpg.jpg)