Kamis, 4 Juni 2026
Deutsche Welle

Dapatkah Iran Pulihkan Kepercayaan Negara-Negara Teluk?

Sikap saling curiga antara Iran dan negara-negara tetangga Arab di Teluk Persia berpotensi mengganggu stabilitas, pertumbuhan, dan…

Tayang:
Deutsche Welle
Dapatkah Iran Pulihkan Kepercayaan Negara-Negara Teluk? 

Reza Alijani, seorang analis politik yang berbasis di Paris, mengatakan kepada DW bahwa kedekatan geografis antara Iran dan negara-negara tetangganya di Teluk mau tak mau memaksakan terciptanya kompromi.

"Faktor geografis akan selalu lebih kuat daripada politik. Negara-negara ini akan selalu menjadi tetangga,” katanya.

Alijani menambahkan, bagaimanapun, terdapat perbedaan yang jelas antara memulihkan hubungan dan memulihkan kepercayaan. Hasil yang paling mungkin bukan rekonsiliasi penuh, melainkan pengurangan taktik dalam perseteruan terbuka.

Kepentingan bersama terutama dalam hal ekspor energi, perdagangan, dan stabilitas regional, pada akhirnya mendorong kedua belah pihak menuju modus vivendi (kompromi praktis) yang terbatas, katanya.

Namun, hal itu tidak berarti perseteruan telah berakhir. Hal ini mungkin berarti persaingan terjadi secara diam-diam dan dikelola dengan lebih hati-hati.

Proyeksi kekuatan Iran di Timur Tengah

Republik Islam Iran telah membangun sebagian besar pengaruh regionalnya melalui rudal, pesawat nirawak, dan milisi proksi. Model tersebut dirancang untuk menghalangi lawan yang lebih kuat serta memperluas pengaruh Iran tanpa harus terlibat dalam konfrontasi konvensional secara langsung.

Setelah perang ini, serta melemahnya kekuatan kelompok-kelompok proksi Iran seperti Hizbullah dan milisi Syiah di Irak, negara-negara Arab kemungkinan akan lebih menekankan pada pertahanan terpadu, koordinasi ekonomi, serta koridor energi dan perdagangan alternatif untuk mengurangi dampak tekanan dari Iran.

Dorbeiki mengatakan bahwa kecurigaan terhadap Teheran dapat menjadi pendorong terjalinnya kerja sama perdagangan yang lebih erat di antara negara-negara Arab dan mitra-mitra mereka, yang berpotensi membuat Iran semakin terisolasi dari koridor perdagangan yang sedang berkembang,jaringan transportasi, dan infrastruktur energi di masa depan.

Namun, tatanan regional mana pun tidak akan dapat sepenuhnya stabil selama Iran tetap berada secara permanen di luar tatanan tersebut.

Normalisasi hubungan utuh akan menuntut perubahan serius dalam kebijakan regional Teheran, hubungan yang tidak terlalu konfrontatif dengan Barat, dan upaya berkelanjutan untuk meyakinkan negara-negara tetangganya bahwa Iran siap untuk mengejar stabilitas, bukan pengaruh lewat ketakutan.

Saat ini, perseteruan masih berlangsung, dengan rezim Iran yang sama tetap berada dalam pucuk kekuasaan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved