India punya ‘Partai Kecoak’ yang mengusik Pemerintah
Partai Kecoak atau Cockroach Janta Party adalah gerakan satir yang menyuarakan keresahan orang muda India soal dunia pendidikan dan…
Di sisi lain, Abhijeet yang tinggal di Amerika Serikat selama dua tahun terakhir, mengaku dipantau ketat dan diintimidasi akibat aktivitasnya di ‘Partai Kecoak’.
Ia mengatakan keluarga dan teman-temannya khawatir dirinya bisa ditangkap apabila kembali ke India.
Kesenjangan kian meluas
Sosiolog, Avijit Pathak, mengatakan kepada DW bahwa masih terlalu dini untuk menilai apakah tuntutan ‘Partai Kecoak’ mampu direalisasikan.
“Apakah gerakan ini akan bertahan atau tidak, mustahil diprediksi,” kata Avijit. “Yang jelas, ‘Partai Kecoak’ sudah menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara warga dan kelompok elit yang nampaknya semakin enggan mendengarkan.”
Ia turut menambahkan bahwa gerakan ‘Partai Kecoak’ pada dasarnya hanya menyalurkan keresahan yang sebenarnya sudah lama dirasakan masyarakat.
Avijit juga melihat ada pelajaran yang lebih mendalam dari cara gerakan ini menggunakan humor sebagai alat politik.
“Humor tidak pernah sesederhana yang terlihat,” katanya. “Sepanjang sejarah, satir telah menjadi instrumen yang sangat kuat untuk menyampaikan kritik politik."
Bangkitnya perlawanan di ranah digital
Avijit juga berargumen bahwa yang mengusik pihak berkuasa bukan hanya oposisi yang terorganisasi, melainkan kemampuan lelucon, meme, dan olok-olok kolektif untuk meruntuhkan citra kewibawaan yang dibangun pemerintah.
Melonjaknya popularitas gerakan ‘Partai Kecoak’ juga mencerminkan tren global tentang cara masyarakat mengekspresikan ketidakpuasan politik.
‘Partai Kecoak’ mengandalkan partisipasi digital, komunikasi viral, dan organisasi yang terdesentralisasi, alih-alih mesin politik konvensional. Para pendukungnya berkomunikasi melalui meme, video, dan kampanye media sosial, bukan lewat kantor partai atau struktur organisasi yang hierarkis.
Namun, keberhasilan ‘Partai Kecoak’ tidak bisa dijelaskan hanya oleh kekuatan media sosial.
Saat ejekan berubah jadi kritik sosial
Kritikus media dan ombudsman pers, Pamela Philipose, menyebut bahwa keberhasilan gerakan ‘Partai Kecoak’ ada pada kemampuannya mengubah simbol penghinaan menjadi simbol yang menarik perhatian publik.
“Yang menarik adalah bagaimana istilah yang awalnya digunakan untuk merendahkan anak muda pengangguran justru diambil alih dan diubah menjadi lambang perlawanan,” kata Pamela kepada DW.
Bagi Pamela, gerakan orang muda tersebut sukses menarik perhatian publik terhadap hal yang kerap luput dari sorotan dalam masyarakat India.
Mampukah dukungan online berubah jadi kekuatan politik?
Tim ‘Partai Kecoak’ mendorong para pendukungnya untuk membentuk berjejaring, membuat pertemuan anak muda, dan menggagas berbagai kampanye.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77257266_403.jpg.jpg)