Senin, 8 Juni 2026
Deutsche Welle

Hizbullah Tolak Gencatan Senjata antara Lebanon dan Israel

Kelompok militan Syiah itu menuntut penarikan penuh militer Israel dari selatan Lebanon sebagai syarat gencatan senjata. Sementara…

Tayang:
Deutsche Welle
Hizbullah Tolak Gencatan Senjata antara Lebanon dan Israel 

Kelompok militan Hizbullah pada Kamis (04/06) menolak perjanjian gencatan senjata terbaru yang disepakati Israel dan pemerintah Lebanon. Organisasi itu menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon, sementara pertempuran yang terus berlangsung menghambat upaya mengakhiri perang yang melibatkan Iran.

Penolakan tersebut disampaikan ketika serangan Israel menewaskan sedikitnya empat orang, menurut otoritas setempat. Seorang pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga tewas dalam baku tembak. Di pihak Israel, seorang prajurit gugur dalam pertempuran di Lebanon selatan.

Dalam pernyataan tertulis yang dibacakan melalui televisi, pemimpin Hizbullah , Naim Kassem, menyebut perundingan itu sebagai sesuatu yang "absurd, merendahkan, dan menghina”.

Menurut Kassem, tuntutan agar para pejuang Hizbullah meninggalkan Lebanon selatan di tengah serangan berarti "menyerah, kalah, dan mewujudkan tujuan musuh”.

"Yang menjadi perhatian kami adalah penghentian agresi, gencatan senjata, dan penarikan Israel,” katanya. Dia menegaskan Hizbullah tidak pernah berkomitmen menghentikan pertempuran.

"Selama desa-desa kami belum aman, masih dibombardir dan dihancurkan, serta rakyat kami terus dibunuh,” ujarnya, "Israel utara juga tidak akan aman.”

Rapuhnya kesepakatan Israel-Lebanon

Israel dan Lebanon berharap dapat melanjutkan perundingan pada akhir bulan ini untuk mencapai kesepakatan damai yang lebih menyeluruh.

Kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat dan diumumkan dalam pernyataan bersama Washington, Israel, dan Lebanon pada Rabu (3/6) itu tercapai setelah pasukan Israel melakukan penetrasi militer terdalam ke wilayah Lebanon dalam lebih dari seperempat abad terakhir.

Namun perjanjian tersebut memuat sejumlah poin kontroversial. Di antaranya pembentukan zona keamanan percontohan di wilayah Lebanon yang akan steril dari kehadiran kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran, serta ketentuan mengenai pembubaran kelompok itu pada masa mendatang.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, pada Kamis menyebut kesepakatan tersebut sebagai "kesempatan terakhir untuk mencapai gencatan senjata final dan menyeluruh”.

Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata yang juga dimediasi Amerika Serikat pada November 2024 gagal menghentikan pertempuran antara Hizbullah dan Israel yang dipicu perang di Gaza.

Kesepakatan terbaru ini muncul hanya beberapa hari setelah eskalasi besar konflik Lebanon nyaris terjadi. Pada Senin (2/6), kedua pihak mencapai kesepakatan terpisah yang membuat Israel menunda rencana serangan ke pinggiran selatan Beirut, sementara Hizbullah menghentikan serangan terhadap wilayah Israel utara.

Tentara Lebanon masuki desa yang ditinggalkan Israel

Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa pasukan Lebanon mulai memasuki desa Dibbine di Lebanon selatan pada Kamis sore, berkoordinasi dengan pasukan penjaga perdamaian PBB setelah militer Israel meninggalkan wilayah tersebut.

Daerah itu sebelumnya menjadi lokasi pertempuran sengit dalam beberapa hari terakhir.

Penarikan tersebut menjadi yang pertama dilakukan Israel dari wilayah Lebanon selatan sejak perang terbaru antara Israel dan Hizbullah pecah sekitar tiga bulan lalu.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved