Olahraga Lansia: Siapa Bilang Tak Boleh Angkat Beban?
Olahraga buat para lansia bukan sebatas jalan kaki. Ada kalanya, angkat beban diperlukan untuk menjaga kualitas hidup nyaman di usia…
Line dance atau tarian baris adalah salah satu sumber kebahagiaan Tatiana di usia lanjut. "Badan jadi enak kalau bergerak dan yang penting kita enggak merasa sendiri karena ada orang lain dan teman juga yang olahraga,” kata perempuan 72 tahun itu.
Namun, beberapa tahun belakangan, ia belum bisa berdansa lagi akibat cedera kaki dan tulang belakang setelah dua kali terjatuh.
Ada dokter yang menyarankannya untuk operasi, tetapi Tatiana yakin bahwa olahraga juga bisa membantu proses penyembuhan. Ia pun mulai mengikuti berbagai kelas olahraga serta terapi di sejumlah tempat.
“Kalau setelah jatuh kita tidak olahraga, mungkin kondisi tubuhnya jadi semakin lemah,” kata Tatiana. Setiap gerakan olahraga yang dilakukan Tatiana bertujuan untuk memulihkan kekuatan kedua kaki dan keseimbangan tubuh.
“Ketika konsultasi dengan dokter, saya baru tahu bahwa untuk bisa berdiri kuat, bukan hanya nembutuhkan tulang yang kuat, tapi juga didukung otot yang kuat,” lanjutnya.
“Setelah latihan dan terapi saya bisa berdiri dengan satu kaki, pelan-pelan naik tangga, berjalan.” Ia juga rutin berolahraga untuk memperbaiki postur tubuh dan keseimbangan. “Ini saya juga yang saya rasakan manfaatnya,” tambahnya.
Kesadaran untuk terus aktif berolahraga juga ada pada Andy Alexander Dotulong yang berusia 82 tahun. Selama delapan tahun belakangan, Andy rutin berolahraga yoga dan pilates di rumahnya. “Tapi anak saya sempat bilang dua olahraga itu dirasa masih kurang. Perlu latihan yang memperkuat otot,” kata Andy.
Ia mendengarkan kata anaknya dan mulai mengikuti kelas latihan otot di studio kebugaran.
Seminggu sekali, ia datang ke studio olahraga untuk latihan angkat beban dan berbagai gerakan body resistance lainnya.
“Ternyata benar ada manfaatnya. Tangan jadi lebih kuat, ototnya lebih keluar. Tangan tidak mengecil karena ada otot,” kata Andy.
Olahraga lansia sebagai solusi masalah kesehatan?
Dua tahun belakangan, Retna Kinanti, seorang postural specialist dan pendiri studio olahraga Ifit, melihat ada lonjakan klien lansiayang berlatih di studionya.
“Sekarang lebih dari 80% orang yang latihan di sini adalah lansia. Mayoritas usianya 70-80an tahun,” kata Kinan.
Ia sebenarnya sudah muali membuat program olahraga untuk lansia pada 2009. Karena Kinan melihat ada berbagai permasalahan kesehatan lansia yang menurutnya bisa diatasi dengan olahraga untuk melatih otot dan keseimbangan.
“Masih ada anggapan bahwa solusi utama adalah operasi. Padahal olahraga juga bisa jadi solusi untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia,” tutur Kinan.
Setiap lansia yang datang untuk berolahraga punya masalah berbeda. “Ada yang sakit lutut, jalan tidak bisa lurus, sakit pinggang, sakit bahu,” lanjutnya. Karena itu, Kinan membuatkan program latihan untuk lansia sesuai dengan kondisi tubuh. “Yang penting kita mengetahui kesehatannya. Jadi program olahraga disesuaikan dengan kondisi tubuh. Berapa kali seminggu, harus angkat beban berapa kilogram,” ujarnya.
Para lansia peserta program olahraga juga dievaluasi berkala.
Kinan menyadari ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam melatih lansia. “Risiko jatuh lebih besar. Jadi harus dipastikan bahwa pelatih berada dekat dengan mereka selama latihan berlangsung, baik di belakang atau di sampingnya,” tutur Kinan.
Namun, manfaat yang ia lihat tak hanya soal fisik. Banyak peserta lansia datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk berinteraksi dan bertemu orang lain.
“Di situ kita juga melatih lagi kemampuan mereka berkomunikasi. Ada yang menganggap pelatih seperti saudara sendiri untuk diajak ngobrol dan bercanda. Jadi ada dampak positif ke kondisi psikologis para lansia juga.”
Kini, Kinan membuka tiga studio kebugaran di Jakarta dengan lokasi yang dekat permukiman agar lebih mudah diakses.
Bukan cuma soal pilihan, tapi juga akses bagi lansia
Kinan bukan satu-satunya orang yang melihat peluang dan kebutuhan programolahraga untuk lansia.
Belakangan, semakin banyak studio olahraga juga mempromosikan program tersebut. Fenomena ini berjalan beriringan dengan jumlah populasi lansia di Indonesia yang terus meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 65,82 juta jiwa atau 20,31 persen pada 2045.
Pada saat yang sama, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga meningkat. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan angka harapan hidup naik dari sekitar 70 tahun pada 2015 menjadi sekitar 72 tahun pada 2024.
Menurut dr. Sophia Hage, Sp.KO, dokter spesialis kedokteran olahraga, berbagai organisasi kesehatan sudah lama menekankan pentingnya agar lansia tetap rutin berolahraga.
“Bukan cuma WHO, tapi juga American College of Sports Medicine yang menganjurkan bahwa orang-orang di usia lanjut perlu melakukan penekanan khusus di latihan penguatan otot serta latihan-latihan yang akan menjaga keseimbangan,” tutur Sophia.
Namun, menjaga tubuh tetap aktif di usia lanjut bukan hanya soal kemauan individu. Akses terhadap fasilitas, pelatih, hingga edukasi turut menentukan agar lansia bisa tetap bergerak dengan aman. Sehingga, Sophia menilai pemerintah perlu mengambil peran agar program olahraga lansia bisa lebih mudah dijangkau di berbagai daerah.
“Kalau kita bicara di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya di Jawa, pihak swasta sudah mumpuni untuk mengedukasi dan melakukan kegiatan-kegiatan berbasis komunitas untuk lansia. Tapi misalnya di Sumba atau Aceh, kalau tidak ada bantuan pemerintah, saya rasa akan sangat-sangat sulit untuk memulai kegiatan untuk lansia,” tambahnya.
Menurut Sophia, inisiatif seperti Posyandu Lansia bisa menjadi jembatan untuk memperluas edukasi program olahraga untuk lansia. Sehingga tidak hanya senam rutin, tetapi juga latihan kekuatan dan keseimbangan yang lebih terstruktur.
Di samping itu, tantangan lain adalah soal stigma tentang lansia di tengah masyarakat. “Sering kali yang jadi hambatan lansia memulai olahraga datang dari orang terdekat. Keluar kalimat agar 'orang tua diam di rumah atau enggak perlu olahraga berat'. Komentar yang terkesan tidak berbahaya ini, justru akan menumbuhkan paradigma yang kurang tepat,” katanya.
Karena itu, menurut Sophia, persoalannya bukan hanya soal akses. Kampanye publik dan pelatihan bagi pelatih olahraga khusus lansia juga diperlukan agar masyarakat memahami bahwa menjadi tua tidak selalu berarti harus mengurangi gerak.
Editor: Tezar Aditya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77418754_403.jpg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.