Terjebak di Selat Hormuz selama hampir 100 hari — 'Hanya ada satu jalan keluar'
The uncertainty has weighed heavily on the 20,000 seafarers stranded in the war zone.
Di kapal Khan, mereka "masih memiliki makanan dan air, tetapi sekarang semuanya lebih sederhana".
Dia masih bisa menyantap daging sapi dan ayam, tapi sayuran dan lentil sulit ditemukan.
Kematian dan diplomasi
Kendati demikian, Islam masih menganggap dirinya beruntung.
Pada hari kedua perang, kapalnya hanya berjarak 200 meter dari Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang menjadi sasaran serangan Iran.
Sejak itu, Islam dan 30 awaknya telah kehilangan hitungan berapa banyak serangan yang mereka saksikan.
"Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya," kata kapten tersebut.
"Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur," kata insinyur Hasan.
"Kami telah menyaksikan kengerian dan kehancuran dengan mata kepala sendiri."
Ketakutan mereka beralasan.
Setidaknya 11 pelaut telah tewas—satu lainnya belum ditemukan—dalam 39 insiden terverifikasi, menurut IMO.
Ketegangan sempat mereda setelah gencatan senjata, tetapi aktivitas militer yang berlanjut di selat tersebut menjadi pengingat akan rapuhnya situasi.
Beberapa pelaut masih melihat drone dan jet tempur, sementara yang lain secara rutin melihat kapal perang dan kapal selam.
"Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang. Kami juga mendengar pengumuman melalui pengeras suara. Kapten mengatakan orang Iran melakukan ini untuk mencegah siapa pun melintas," kata Sajid Masood, seorang warga Pakistan yang bekerja sebagai koki di kapal tanker minyak. Namanya telah diubah demi keamanan dirinya.
Jadi, apakah ada jalan keluar bagi para pelaut yang terjebak?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BBC-Indonesiaefac3be0-5e9b-11f1-89a3-d1f559421220.png.jpg)