Apa Peran Milisi Houthi di Yaman dalam Perang Iran?
Setelah dua bulan menahan diri, kelompok Houthi kembali menyerang Israel dan mengancam akan memblokade Laut Merah. Para pengamat menilai,…
Selama dua bulan terakhir, kelompok Houthi di Yaman menahan diri dari aksi militer. Kini mereka kembali melancarkan serangan terhadap Israel.
Pada Senin, juru bicara militer Houthi, Yahya Sari, menyatakan kelompoknya telah menembakkan rudal ke arah Israel. Pada saat yang sama, dia mengumumkan "blokade total" terhadap pelayaran yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Seluruh aktivitas Israel di kawasan tersebut, kata dia, akan dianggap sebagai sasaran militer.
Menurut otoritas Israel, upaya serangan dari Yaman juga masih terjadi hingga Selasa (9/6).
Sejauh ini tidak ada laporan kerusakan besar. Sebagian besar serangan disebut berhasil digagalkan. Pengumuman Houthi muncul bersamaan dengan gelombang serangan terbaru antara Israel dan Iran, dan dipahami sebagai bentuk dukungan terhadap rezim Iran yang bersekutu.
Iran dan Israel pada Senin (8/6) menyatakan konfrontasi militer langsung di antara keduanya telah berakhir, setidaknya untuk sementara waktu.
Dampak perang di Lebanon
Mengapa Houthi kembali aktif pada saat ini?
Bagi Abdulghani Al-Iryani, ilmuwan politik yang berbasis di Yordania dan peneliti lembaga pemikir Sanaa Center for Strategic Studies (SCSS), jawabannya berkaitan erat dengan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Konflik itu juga menjadi salah satu alasan yang dikemukakan Iran untuk membenarkan aksi militernya terhadap Israel.
"Kemajuan pasukan Israel di Lebanon memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Yaman sehingga Houthi merasa harus merespons," kata Al-Iryani kepada DW.
Menurut dia, serangan tersebut sekaligus memenuhi harapan para pendukung Houthi, serta Hizbullah dan Iran, yang menjadi bagian dari aliansi mereka.
Meski demikian, Al-Iryani tidak memperkirakan Houthi akan kembali menerapkan blokade besar-besaran di Laut Merah. Langkah semacam itu dinilai dapat merusak hubungan mereka dengan Arab Saudi, sementara Yaman masih sangat bergantung secara ekonomi kepada negara tetangganya tersebut.
"Menghancurkan hubungan itu sama saja dengan bunuh diri," ujarnya.
Menurut Al-Iryani, yang lebih mungkin terjadi adalah aksi terbatas terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan langsung dengan Israel.
"Lebih dari itu tampaknya tidak akan dilakukan Houthi."
Legitimasi internal dan unjuk kekuatan
Pandangan berbeda disampaikan Christoph Leonhardt, wakil direktur perusahaan analisis dan konsultasi Middle East Minds yang berbasis di Berlin serta pakar kelompok paramiliter.
Menurut Leonhardt, serangan rudal Houthi terutama merupakan sinyal politik dan strategis.
"Penembakan ke arah Israel lebih ditujukan untuk memperoleh legitimasi internal dan menunjukkan kekuatan kepada pihak luar daripada mencapai tujuan operasional yang jelas," katanya kepada DW.
Namun, dia menilai perlu dibedakan antara serangan langsung ke wilayah Israel dan strategi pencegahan di jalur maritim.
Sekalipun Houthi menghentikan serangan rudal, mereka masih dapat melanjutkan aktivitas di Laut Merah.
"Karena itu, Houthi kemungkinan tetap akan melakukan operasi yang terbatas tetapi efektif, misalnya di Selat Bab al-Mandab. Sementara eskalasi langsung dengan Israel relatif kecil kemungkinannya karena keterbatasan kapasitas," kata Leonhardt.
Dalam menjalankan aktivitas tersebut, Houthi masih bergantung pada dukungan Teheran.
Menurut Leonhardt, Iran membantu kelompok itu sebagai bagian dari apa yang disebut "Poros Perlawanan", melalui pasokan senjata, pelatihan, dan dukungan strategis. Namun Houthi tetap mempertahankan tingkat kemandirian operasional tertentu.
Seberapa besar ketergantungan Houthi terhadap Iran masih menjadi perdebatan di kalangan pengamat.
Kekuatan militer yang masih diperhitungkan
Meski mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir, Houthi tetap merupakan kekuatan militer yang patut diperhitungkan. Penilaian itu disampaikan International Crisis Group (ICG) dalam analisis terbarunya.
Menurut ICG, kelompok tersebut "jauh dari kondisi kehabisan tenaga". Berbagai aksinya tidak hanya bertujuan mendukung Iran, tetapi juga mengamankan masa depan politik sendiri.
ICG juga menilai serangan terhadap Israel sebagian didorong oleh pertimbangan politik domestik.
Sejak perang Gaza dimulai, Houthi semakin menampilkan diri sebagai bagian dari aliansi regional yang menentang Israel dan Amerika Serikat. Langkah itu membantu meningkatkan popularitas gerakan sekaligus memperkuat klaim sebagai aktor penting di kawasan.
Pada saat yang sama, konfrontasi dengan musuh eksternal juga dapat mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi yang terus membelit Yaman.
Ambisi kekuatan regionald
Meski demikian, kemampuan Houthi memiliki batas.
Menurut ICG, konflik berkepanjangan berpotensi menguras persediaan rudal, drone dan amunisi. Selain itu, belum jelas sejauh mana Iran dapat terus memasok kebutuhan sekutunya apabila negara itu sendiri menghadapi tekanan militer yang lebih besar.
Kendati demikian, Leonhardt menilai aksi lanjutan dari Houthi masih mungkin terjadi.
Menurut dia, meski bergantung secara militer kepada Iran, Houthi memiliki tujuan strategis dan ambisi kekuatan regional mereka sendiri. Karena itu, bahkan gencatan senjata yang stabil antara Iran dan Israel belum tentu menghentikan serangan mereka.
Kekuatan utama Houthi, kata Leonhardt, bukan terletak pada perang konvensional, melainkan kemampuan mereka menimbulkan kerugian ekonomi besar melalui penggunaan drone, rudal, dan serangan terhadap jalur perdagangan.
Posisi mereka yang strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab memberi bobot penting dalam kalkulasi keamanan kawasan.
"Perluasan aktivitas maritim Houthi dapat semakin mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi," ujarnya.
Risiko bagi Houthi
Namun, serangan yang lebih besar juga membawa risiko besar bagi kelompok itu sendiri.
Jurnalis Arab Saudi Abdulrahman Al-Rashed menulis di platform X bahwa Iran kini telah menggerakkan "lengan ketiganya". Kekuatan tersebut berpotensi mengancam pelayaran di Bab al-Mandab.
Ancaman itu memang dapat meningkatkan tekanan terhadap lawan-lawan Iran, tetapi pada saat yang sama memperbesar risiko bahwa kemampuan militer Houthi yang tersisa akan dihancurkan melalui serangan balasan.
Pandangan serupa disampaikan ilmuwan politik Yaman Abdulkarim Ghanem.
Kepada stasiun televisi Yemen Shabab, dia mengatakan Houthi memang memiliki kemampuan untuk memberlakukan blokade parsial di selat tersebut. Namun penutupan total akan menjadi "bunuh diri strategis demi kepentingan Teheran".
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.