Paus Leo Memberi Hormat di Hadapan "Martabat" Para Migran
Paus Leo mengunjungi Pelabuhan Arguineguin pada Kamis (11/06), salah satu titik krisis migrasi di Kepulauan Kanaria, Spanyol. Ia mengecam…
Paus Leo XIV melanjutkan rangkaian kunjungan selama sepekan di Spanyol pada Kamis (11/06) dengan mendatangi Pelabuhan Arguineguin di Kepulauan Kanaria. Pelabuhan tersebut telah menjadi pusat krisis migrasi besar di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Di sana, ia menyapa para migran dan mengecam komunitas internasional serta para pemimpin dunia, terutama di Eropa, atas cara mereka memperlakukan para migran.
Kunjungan itu sejalan dengan tema besar lawatannya di Spanyol sekaligus memenuhi harapan yang belum sempat terwujud dari pendahulunya, Paus Fransiskus, yang juga menjadikan perlindungan hak-hak migran sebagai salah satu fokus perjuangannya.
Apa yang disampaikan Paus Leo?
Paus melemparkan karangan bunga ke laut untuk mengenang ribuan orang yang meninggal saat berupaya menyeberang menuju Eropa. Tindakan itu serupa dengan yang dilakukan Paus Fransiskus saat mengunjungi Lampedusa, Sisilia, pada 2013, yakni wilayah lain yang juga menjadi titik krisis migrasi.
"Jangan sampai sejarah mencatat bahwa kita menganggap penderitaan mereka adalah hal yang biasa di pesisir kita," ujarnya.
"Hari ini, di tepi laut ini, setiap orang yang datang bertanya kepada kita: apa yang masih tersisa dari kemanusiaan kita?"
Ia mendesak pemerintah di negara-negara asal para migran untuk memperbaiki kondisi keamanan dan ekonomi. Ia juga meminta negara-negara transit melindungi para migran dari penyelundup dan pelaku perdagangan manusia.
Namun, kritik paling tajam ditujukan kepada para politisi Eropa, yang dalam beberapa tahun terakhir justru memperketat kebijakan migrasi di tengah meningkatnya tekanan dari kelompok sayap kanan.
Paus menyerukan agar Eropa mendengarkan "suara hati" mereka. Menurutnya, mereka tidak dapat mengeklaim telah menjunjung tinggi martabat manusia jika tidak peduli ketika Laut Mediterania dan Samudra Atlantik telah berubah menjadi "kuburan tanpa nisan."
"Martabat manusia tidak mengenal paspor, dan tidak kehilangan nilainya hanya karena melintasi perbatasan," kata Paus.
Ia juga berbicara langsung kepada para migran yang berkumpul di sekitarnya. Di lokasi itu terdapat sebuah salib yang dibuat dari kayu kapal-kapal yang karam.
"Saudara-saudari migran, sebelum mengatakan hal lain kepada kalian, saya ingin menundukkan diri di hadapan martabat kalian," kata Paus.
"Kalian bukan sekadar angka atau berkas administrasi. Kalian adalah manusia yang telah meninggalkan keluarga dan rumah. Kalian memiliki impian yang tidak seorang pun berhak merendahkannya."
Mengapa Arguineguin dijuluki "dermaga rasa malu"?
Terletak lebih dari 1.000 kilometer dari daratan utama Spanyol, Kepulauan Kanaria secara geografis lebih dekat ke Afrika daripada ke Eropa. Karena itu, wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi titik kedatangan utama bagi para migran yang mencoba memasuki Eropa dari Afrika.
Pelabuhan Arguineguin dijuluki "dermaga rasa malu" pada 2020 setelah ribuan migran terpaksa tidur di ruang terbuka atau di bawah tenda-tenda darurat, hidup dalam kondisi yang memprihatinkan akibat lonjakan kedatangan selama pandemi.
Pada 2024, lebih dari 46.000 orang tiba di kepulauan tersebut, dan menjadi angka tertinggi yang pernah tercatat. Namun, setelah tercapainya sejumlah kesepakatan antara Uni Eropa, Spanyol, dan beberapa pemerintah Afrika Barat, jumlah kedatangan menurun drastis. Selama lima bulan pertama di tahun 2026, tercatat hanya lebih dari 3.000 orang yang tiba di sana.
Data proyek "Missing Migrants” atau Migran yang Hilang milik Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menunjukkan sekitar 6.600 orang meninggal di jalur Atlantik dari Afrika Barat sejak pencatatan dimulai pada tahun 2014. Jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar karena minimnya informasi dan adanya fenomena "kapal karam yang tak terlihat."
Kelompok pembela hak-hak migran Spanyol, Walking Borders (Caminando Fronteras), memperkirakan lebih dari 25.000 orang meninggal atau hilang saat berusaha mencapai Kepulauan Kanaria sejak 2020.
Pada Kamis (11/06), sebuah papan nama dipasang untuk mengubah sebutan Pelabuhan Arguineguin dari "dermaga rasa malu" menjadi "dermaga harapan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani
Editor: Melisa Lolindu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77511205_403.jpg.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.