Hormuz Akan Dibuka, tapi Pelayaran Normal Masih Jauh dari Kenyataan
Harapan muncul seiring rencana kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Tapi ranjau liar,…
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (14/06) memuji kerangka kesepakatan dengan Iran yang bertujuan mengakhiri operasi militer AS di Teluk Persia. Konflik selama lebih dari tiga bulan itu membuat lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz nyaris mati total.
Kesepakatan damai dijadwalkan ditandatangani pada hari Jumat (19/6) di Swiss. Isi perjanjian mencakup kewajiban Iran membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran tanpa bea, mencabut blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dan memungkinkan Teheran kembali mengekspor minyak dengan keringanan sanksi terbatas.
Kerangka ini juga memperpanjang gencatan senjata yang berlaku setidaknya 60 hari, sekaligus membuka pembicaraan lebih luas soal program nuklir Iran.
Tapi memulihkan arus minyak, gas, dan peti kemas melalui jalur vital ini tidak mudah. Ada banyak rintangan yang harus dilalui.
Lembaga manajemen risiko maritim asal Yunani, MARISKS, mengingatkan dalam catatan risetnya bahwa kesepakatan ini sebaiknya dipandang sebagai "awal dari proses de-eskalasi, bukan pemulihan kondisi perdagangan normal secara langsung."
Kapan pelayaran di Teluk bisa aman kembali?
Dengan asumsi serangan dari kedua pihak benar-benar berhenti, Iran harus lebih dulu mencari dan membersihkan ranjau laut yang disebar selama konflik agar jalur perairan bisa dilintasi kembali.
Sebagian besar ranjau bisa dilacak cukup cepat menggunakan kapal penyapu ranjau, drone bawah air, dan sonar. Tapi sebagian lainnya mungkin sudah hanyut atau sulit ditemukan, kata para pakar maritim.
Setelah itu, pengamat independen perlu memverifikasi keamanan jalur tersebut.
Keseluruhan proses ini bisa makan waktu 40 hingga 50 hari, menurut sumber-sumber keamanan maritim yang dikutip Reuters Senin (15/06).
Jakob Larsen, kepala keselamatan dan keamanan asosiasi pelayaran BIMCO, mengatakan kepada Reuters bahwa melintas Hormuz saat ini masih "sangat berisiko" dan menyerukan pembentukan "rute bebas ranjau" lebih dulu.
Asuransi risiko perang masih jadi batu sandungan
Bahkan setelah ranjau bersih, perusahaan pelayaran tidak akan langsung melintasi Hormuz sebelum premi asuransi, yang meroket risiko perang, kembali turun.
Saat ini premi masih selangit: 1% hingga 4?ri nilai kapal per pelintasan, jauh di atas tarif sebelum perang yang di bawah 0,1%, menurut laporan New York Times.
Untuk tanker senilai 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,6 triliun), ini berarti tambahan biaya antara 2 juta hingga 8 juta dolar per perjalanan jika dibandingkan dengan premi yang tak sampai 200.000 dolar sebelum perang.
Lloyd's List pada Senin (15/06) mengutip seorang penjamin asuransi anonim di Singapura yang menggambarkan premi sebagai sesuatu yang "cepat naik, lambat turun."
Anoop Singh, kepala riset pelayaran global di Oil Brokerage Ltd, memperingatkan bahwa pemilik kapal akan menghitung sendiri risikonya masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle77561428_403.jpg.jpg)