Rabu, 17 Juni 2026
Deutsche Welle

India Kejar Kemandirian Drone di Tengah Ancaman Perang Modern

India bersiap memesan drone militer senilai lebih dari 2 miliar dolar AS kepada produsen di dalam negeri. Pengadaan terbesar dalam…

Tayang:
Deutsche Welle
India Kejar Kemandirian Drone di Tengah Ancaman Perang Modern 

"Perang di Ukraina memperkuat pelajaran bahwa drone bukan lagi alat pendukung, melainkan inti dari peperangan modern," tambah Kartha.

Mengapa India menginginkan drone buatan sendiri

Keputusan India memprioritaskan drone tidak cuma karena keamanan, tapi juga demi kemandirian industri.

Berbeda dari kebanyakan pengadaan alutsista besar India selama ini, pesanan kali ini diperkirakan sebagian besar akan bersumber dari produsen dalam negeri.

Pembelian ini sejalan dengan dorongan Perdana Menteri Narendra Modi untuk kemandirian dalam produksi pertahanan, dan datang di saat India berupaya membangun industri drone lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Pemerintah berulang kali menegaskan bahwa mengurangi ketergantungan pada pemasok asing adalah kunci otonomi strategis jangka panjang. Drone menjadi salah satu sektor di mana India yakin bisa membangun kemampuan mandiri dengan relatif cepat.

Wing Commander Rajiv Kumar Narang menunjukkan bahwa konflik-konflik terkini di Ukraina, Iran, maupun Operasi Sindoor—yang dipicu serangan Pahalgam—semuanya memperkuat pentingnya kemandirian dalam teknologi drone.

Narang, yang merupakan penulis buku "India's Quest for UAVs and Challenges", mengatakan perang Iran menunjukkan bahwa sistem buatan sendiri, kepemilikan teknologi, dan taktik yang cerdas bisa membantu menyeimbangkan keunggulan teknologi lawan.

"Negara-negara yang memiliki teknologi drone mereka sendiri dan bisa berinovasi dengan cepat akan punya keunggulan dalam konflik masa depan," kata Narang kepada DW.

"Bagi India, tantangannya kini bukan lagi sekadar membangun drone, tapi menguasai teknologi di baliknya dan mengintegrasikannya ke dalam layanan militer secara cepat," tambahnya.

Pengadaan dalam negeri ini akan melengkapi rencana India terpisah untuk membeli 31 drone MQ-9B Predator dari Amerika Serikat.

Sementara platform Amerika itu memberikan kemampuan pengawasan dan serangan jarak jauh, sistem buatan India diharapkan beroperasi dalam jumlah lebih besar langsung di garis terdepan.

Keduanya bersama-sama mengarah pada pembentukan jaringan pengawasan dan tempur berlapis yang membentang dari Pegunungan Himalaya hingga Samudra Hindia.

Bisakah strategi mengimbangi pengadaan?

Konark Rai, direktur pelaksana Rudram Dynamics, sebuah startup pertahanan, mengatakan keberhasilan ambisi drone India tidak akan ditentukan oleh besarnya angka pengadaan, melainkan seberapa efektif sistem-sistem itu diintegrasikan ke dalam operasi militer.

"Meski India sudah punya kebijakan untuk mendukung manufaktur dan inovasi drone, pengadaan, pengujian, sertifikasi, dan induksi yang lebih cepat kini menjadi sangat krusial," kata Rai kepada DW.

Membeli drone adalah satu hal, kata Rai, mengintegrasikan ribuan sistem tanpa awak ke dalam operasi militer adalah hal yang sama sekali berbeda. Ini mencakup pelatihan, doktrin, perlindungan perang elektronik, keamanan siber, dan kemampuan memproses data medan perang dalam jumlah masif secara real time.

"Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pengadaan drone diimbangi oleh doktrin, pelatihan, dan konsep operasional yang bisa menerjemahkan kemampuan teknologi menjadi keunggulan di medan perang," katanya.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor Rizki Nugraha

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved