Kerusuhan di Nepal
Aksi Protes di Nepal Dinilai Jadi Alarm untuk Pejabat di Indonesia
Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti aksi protes besar di Nepal yang berujung pada krisis politik dan kekosongan pemerintahan.
TRIBUNNEWS.COM – Pengamat politik sekaligus Direktur Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menyoroti aksi protes besar di Nepal yang berujung pada krisis politik dan kekosongan pemerintahan setelah Perdana Menteri (PM) KP Sharma Oli mengundurkan diri pada Selasa (9/9/2025).
Menurutnya, menilai peristiwa tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia.
“Kerusuhan di Nepal menjadi pembelajaran yang sangat penting, meninggalnya istri Perdana Menteri yang dibakar massa, presidennya kabur, pemerintahan kosong, dan akhirnya diambil alih militer."
"Hanya karena apa? Katanya terinspirasi dari Indonesia, jadi ini akan menjadi alarm penting bagi pejabat di Indonesia, elite atau politisi di Indonesia,” kata Pangi, Kamis (11/9/2025).
Pangi menilai, aksi yang dimotori para Generasi Z (Gen Z) itu dipicu gaya hidup mewah pejabat dan anak-anak pejabat di tengah krisis ekonomi rakyat.
“Budaya flexing pejabat saat rakyat susah mencari kerja, mengalami PHK massal tanpa bantuan, penderitaan, penindasan, dan ketidakadilan, itulah yang melahirkan protes,” ujarnya.
Ia menekankan, protes di Nepal justru digerakkan oleh anak-anak muda, termasuk pelajar SMA.
"Ini gerakan bocah SMA, ketika mereka pidato pada bulan Maret kemarin itu kan berapi-api sekali, jadi mereka hanya fokus pada isu korupsi, kemudian pengangguran, lapangan pekerjaan yang susah,” jelasnya.
Menurut Pangi, fenomena di Nepal memberi pesan serius bagi elite politik di Indonesia.
"Saya mencermati ketika ada di Indonesia, ada tuntutan 17+8 ini bagaimana roh perjuangannya sama yaitu bagaimana reformasi TNI, reformasi Polri, bagaimana TNI kembali ke barak, tidak mengurus pangan, lebih humanis, tidak intimidasi, tidak represif atau tidak melakukan kekerasan brutal kepada rakyat."
Ia mengingatkan agar pejabat lebih sensitif terhadap penderitaan rakyat.
“Kalau pejabat masih senang flexing, foya-foya, hanya mengurus pangkat dan jabatan, tapi abai pada kesejahteraan rakyat, itu akan jadi bom waktu,” tegasnya.
Baca juga: Orasi Membakar Semangat Gen Z Nepal, Abiskar Raut Makin Viral
People Power Nepal Gulingkan PM Sharma Oli
Gen Z Nepal menunjukkan kekuatan luar biasa melalui gerakan "people power" yang berhasil memaksa PM KP Sharma Oli mengundurkan diri.
Aksi protes besar-besaran di ibu kota Kathmandu dan berbagai daerah lain dipicu oleh kemarahan terhadap korupsi yang merajalela.
Meski pemerintah memblokir platform media sosial utama seperti Facebook untuk meredam gerakan antikorupsi, para aktivis muda dengan cerdik beralih ke aplikasi seperti Viber dan TikTok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/GEDUNG-DIBAKAR-Demonstrasi-di-Nepal-sejumlah-gedung-dibakar.jpg)