Selasa, 19 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.312, Zelensky Tuduh Hongaria Intai Ukraina

Perang Rusia-Ukraina hari ke-1.312, Presiden Ukraina Zelensky menuduh Hongaria menggunakan drone pengintai untuk mengawasi Ukraina.

Tayang:
Facebook Zelensky
ZELENSKYY - Foto diunduh dari Facebook Zelensky, Sabtu (27/9/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam unggahan pada Jumat, 26 September 2025. Pada hari Jumat, Zelensky menuduh Hongaria yang dekat dengan Rusia, menggunakan drone pengintai untuk mengawasi Ukraina. 

TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.312 pada Sabtu (27/9/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Perang Rusia–Ukraina berakar dari rangkaian ketegangan panjang sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Rusia tampil sebagai pewaris utama kekuatan Soviet, sementara Ukraina memilih berdiri sebagai negara merdeka.

Sejak awal, relasi kedua negara kerap diwarnai gesekan, mulai dari sengketa perbatasan, pencarian identitas nasional, hingga perbedaan haluan politik.

Situasi memanas usai Revolusi Maidan 2014 yang menggulingkan Presiden pro-Moskow, Viktor Yanukovych.

Pergantian rezim ini membuat Kyiv semakin dekat dengan Barat, langkah yang memicu kemarahan Rusia.

Sebagai respons, Moskow menganeksasi Krimea dan menyokong kelompok separatis di Donetsk serta Luhansk. Konflik pun bereskalasi menjadi perang berkepanjangan di kawasan Donbas.

Puncak ketegangan terjadi pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.

Ia beralasan serangan itu untuk melawan pengaruh “neo-Nazi” di Kyiv, melindungi etnis Rusia di Donbas, serta menggagalkan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO yang dianggap mengancam keamanan Moskow.

Pada Sabtu dini hari, pasukan Rusia menyerang Zaporizhzhia dengan dua drone. 

Kebakaran terjadi dan sebuah toko rusak dan tidak ada korban jiwa atau cedera, menurut laporan kepala ZOVA, Ivan Fedorov.

Baca juga: Menlu Rusia: NATO dan Uni Eropa Sudah Lancarkan Perang ke Moskow, Ukraina Jadi Proksi

"Di Zaporizhia, hampir 9 ribu pelanggan kehilangan akses listrik akibat serangan Rusia," kata kepala ZOVA Ivan Fedorov.

Zelensky Tuduh Hongaria Kirim Drone Pengintai

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 26 September melaporkan militer mencatat masuknya drone pengintai ke wilayah udara Ukraina, yang diduga berasal dari Hongaria

Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrsky menyebut drone itu kemungkinan digunakan untuk mengintai industri di perbatasan.

"Zelensky kehilangan akal sehatnya karena obsesinya terhadap Hongaria. Ia mulai melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada," kata Menteri Luar Negeri Hongaria Péter Szijjártó, menanggapi pernyataan Zelensky, melalui media sosial X.

"Kita mulai melihat banyak hal, Peter, termasuk kemunafikan dan degradasi moral pemerintahanmu… Seranganmu terhadap presiden kita sebanyak apa pun tidak akan mengubah apa yang kita—dan semua orang—lihat," kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Hongaria membantah tuduhan Ukraina

"Tentara Pertahanan Hongaria tidak melakukan penerbangan pesawat nirawak… dan tidak menerima instruksi apa pun terkait hal ini," kata Kementerian Pertahanan Hongaria.

Ketegangan ini terjadi setelah Ukraina lebih dulu melarang masuk tiga pejabat militer Hongaria.

"Tanggapan kami mencerminkan larangan masuk ke Hongaria yang sebelumnya tidak berdasar… Tanggapan yang memadai akan diberikan terhadap setiap tindakan tidak hormat dari Hongaria," kata Andriy Sybiga, lapor Suspilne.

Zelensky: Rusia Kehilangan 3.000 Tentara selama Operasi Dobropil

Presiden Volodymyr Zelenskyy melaporkan dalam operasi serangan balik di Dobropil, militer Rusia kehilangan hampir 3.000 tentara, sebagian besar kerugian yang tidak dapat dipulihkan. 

Hingga 26 September, Ukraina telah membebaskan 168,8 km⊃2; wilayah dan membersihkan 187,7 km⊃2; dari kelompok sabotase Rusia

Secara total, menurut Panglima Oleksandr Syrsky, sekitar 360 km⊃2; berhasil direbut kembali.

Operasi ini bermula setelah pada 11 Agustus, analis DeepState melaporkan infiltrasi pasukan Rusia di utara antara Dobropillya dan Druzhkivka.

Situasi di arah Dobropol–Pokrovsk disebut "rumit", sehingga Ukraina mengirim tambahan pasukan.

Pada 12 Agustus, Korps Azov mengumumkan penguasaan jalur pertahanan di Pokrovske untuk memblokir pasukan Rusia

Syrsky menjelaskan Rusia mengandalkan brigade Angkatan Darat ke-51 dan batalyon yang bergerak hingga 12–20 km. 

Namun pada 21 Agustus, militer Ukraina berhasil membersihkan enam permukiman di arah Pokrov.

Hingga 8 September, Ukraina membebaskan 25,5 km⊃2;, sementara Rusia merebut 13,5 km⊃2;. 

Pada 22 September, Syrsky melaporkan Ukraina telah membebaskan 164,5 km⊃2; dan membersihkan 180,8 km⊃2;, dengan kendali dipulihkan atas tujuh permukiman serta sembilan permukiman lainnya berhasil dibersihkan dari DRG (kelompok sabotase).

Pada 26 September, Syrsky menegaskan Ukraina telah menggagalkan rencana Rusia di Novopavlovsk. Brigade baru dikerahkan di Front Pokrovsky dekat Dobropillya, membuat pasukan Rusia "terjebak". 

Ia menambahkan kampanye ofensif musim semi–musim panas Rusia secara umum gagal.

Denmark Beri Paket Bantuan ke Ukraina

Kementerian Pertahanan Denmark mengumumkan paket bantuan militer ke-27 untuk Ukraina senilai 2,6 miliar kroner atau sekitar 400 juta euro.

Dana tersebut akan digunakan untuk membeli senjata dari produsen Ukraina yang kemudian dialokasikan ke Angkatan Pertahanan Ukraina.

Sebagian dana juga disiapkan untuk "bentuk bantuan lain", meski tidak dirinci.

 "Kebutuhan Ukraina akan dukungan militer masih sangat besar, dan salah satu cara terbaik yang dapat kami lakukan adalah meningkatkan kontribusi kami terhadap industri pertahanan Ukraina," kata Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen.

Sejak 2024, Denmark dan Ukraina menerapkan model bantuan baru yang disebut “model Denmark”, yaitu pembelian senjata untuk Ukraina langsung dari produsen dalam negeri.

Cegah Rusia, Uni Eropa akan Bangun Tembok Anti-Drone

Uni Eropa (UE) berencana membangun “tembok pesawat tak berawak” di sisi timurnya untuk menghadapi ancaman drone dan serangan udara Rusia.

Rencana ini muncul setelah serangan drone di Denmark, Polandia, dan Rumania, serta pelanggaran wilayah udara Estonia oleh jet Rusia.

"Jika Anda menggunakan udara, dan rudal udara dari pesawat tempur Anda untuk menembak drone, maka Anda menggunakan... (sebuah) rudal yang menghabiskan biaya 1 juta untuk membunuh drone yang menghabiskan biaya 10.000," kata Komisaris Pertahanan UE Andrius Kubilius.

Ia menekankan pentingnya radar, sensor akustik, dan sistem pencegat drone.

Sementara itu, muncul rencana pinjaman €140 miliar untuk Ukraina dengan jaminan aset Rusia yang dibekukan.

Dokumen bocor menunjukkan rencana pinjaman tanpa bunga ini bisa diberikan tanpa menyita aset, karena UE yakin Rusia suatu saat harus membayar ganti rugi perang.

Jerman, Prancis, dan Belgia sebelumnya menolak penyitaan aset, tetapi Kanselir Jerman Friedrich Merz kini mendukung pinjaman ini. 

Ia menyarankan persetujuan bisa dilakukan dengan mayoritas suara, tanpa menunggu semua anggota setuju, untuk menghindari veto Hongaria yang pro-Kremlin.

UE juga menyiapkan solusi hukum agar biaya pinjaman nantinya ditanggung Rusia, bukan negara anggota.

Rencana tembok drone dan pinjaman reparasi €140 miliar akan dibahas dalam KTT Kopenhagen minggu depan, dengan target kesepakatan akhir Oktober.

Presiden Belarusia: Putin Punya Proposal Bagus untuk Ukraina

Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengatakan usai bertemu Vladimir Putin di Moskow, Putin akan segera mengumumkan "proposal yang sangat bagus" untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang menurutnya bahkan sudah didengar dan dipertimbangkan oleh Donald Trump di pertemuan puncak Alaska.

Lukashenko menolak membeberkan isi proposal, tetapi menegaskan, "Ini proposal yang bagus untuk Ukraina... Proposal yang sangat bagus."

Ia memperingatkan jika Ukraina menolak, maka situasinya bisa lebih buruk: "Akan lebih buruk lagi; mereka akan kehilangan Ukraina."

Sebelumnya, Rusia menuntut syarat yang dianggap Ukraina sama saja dengan menyerah: menyerahkan wilayah lebih banyak, meninggalkan ambisi masuk NATO, dan membatasi ukuran militernya.

Pernyataan Lukashenko muncul setelah Trump tiba-tiba berkata Ukraina bisa merebut kembali seluruh wilayahnya, karena ekonomi Rusia sedang bermasalah.

Kremlin membantah, menyebut Trump hanya terpengaruh oleh pandangan Volodymyr Zelenskiy setelah keduanya bertemu. 

Zelenskiy sendiri menuduh Putin hanya berpura-pura ingin negosiasi.

Lukashenko menyarankan agar dirinya, Putin, dan Zelenskiy duduk bersama sebagai pemimpin tiga negara Slavia untuk mencapai kesepakatan. 

Namun, Rusia menegaskan pertemuan Putin–Zelenskiy hanya bisa terjadi jika Zelenskiy datang ke Moskow, lapor Reuters.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved