Konflik Palestina Vs Israel
Angkatan Laut Israel Akan Cegat Kapal Global Sumud Flotilla Minggu Ini
Angkatan Laut Israel bersiap untuk mencegat kapal-kapal Global Sumud Flotilla yang berlayar ke Jalur Gaza, diperkirakan tiba pada Rabu atau Kamis.
Ini bukan pertama kalinya Israel berencana untuk mengintersepsi kapal Freedom Flotilla yang melakukan misinya ke Gaza tahun ini.
1. Kapal Conscience
Kapal kemanusiaan Conscience, milik Freedom Flotilla Coalition (FFC), dilaporkan diserang dua kali menggunakan drone bersenjata saat berada di perairan internasional dekat Malta, sekitar 17 mil laut (kurang lebih 31 km) dari pantai Malta pada 2 Mei 2025.
Serangan tersebut, menargetkan bagian depan kapal, khususnya generator, yang menyebabkan kebakaran, kerusakan struktur lambung, dan pemadaman daya, hingga membuat kapal berisiko tenggelam.
Kapal tersebut, sebelumnya berangkat dari Bizerte, Tunisia, menuju Malta untuk menjemput sekitar 30 aktivis internasional sebelum melanjutkan perjalanan ke Gaza.
Pemerintah Malta mengonfirmasi 12 kru kapal dan empat penumpang sipil berada di atas kapal saat serangan dan semuanya dinyatakan selamat, tanpa korban jiwa, menurut laporan The Times of Israel.
2. Kapal Madleen
Freedom Flotilla kembali mengirim kapal bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza menggunakan kapal Madleen.
Pada 9 Juni 2025, pasukan Israel menyita paksa kapal di perairan internasional, sekitar 185 km dari Gaza.
Kapal tersebut, sedang membawa bantuan seperti makanan dan obat-obatan dan bukan menuju wilayah Israel.
Israel membenarkan operasi tersebut dengan menyebut misi sebagai "selfie‑yacht", dan menyatakan para aktivis akan ditayangkan rekaman serangan Hamas pada 7 Oktober untuk "memahami apa yang mereka dukung", lapor Al Jazeera.
- Greta Thunberg (Swedia)
- Rima Hassan (MEP Prancis-Palestina)
- Baptiste Andre (Prancis)
- Pascal Maurieras (Prancis)
- Yanis Mhamdi (Prancis)
- Reva Viard (Prancis)
- Thiago Avila (Brasil)
- Suayb Ordu (Turki)
- Sergio Toribio (Spanyol)
- Marco van Rennes (Belanda)
- Yasemin Acar (Jerman)
- Omar Faiad (jurnalis Al Jazeera Mubasher, Prancis).
Empat aktivis, yaitu Greta Thunberg, Baptiste Andre, Sergio Toribio, dan Omar Faiad menandatangani pernyataan mengakui masuk secara ilegal ke Israel dan dideportasi segera ke negara asal melalui Prancis pada 10 Juni 2025.
Sementara delapan aktivis lainnya, termasuk Rima Hassan, Thiago Avila, Yasemin Acar, Suayb Ordu, Marco van Rennes, Reva Viard, menolak menandatangani dokumen itu, dan ditahan di Penjara Givon di Ramla untuk menjalani proses hukum sebelum dideportasi bertahap.
Dua aktivis Prancis, Pascal Maurieras dan Yanis Mhamdi, masih dalam tahanan hingga Agustus untuk menunggu deportasi.
Mereka juga dijatuhi larangan masuk ke Israel selama 100 tahun.
Baca juga: Trump-Netanyahu Gelar Pertemuan Panas: Nasib Gaza Bakal di Persimpangan Damai atau Perang?
Serangan Israel di Jalur Gaza
Serangan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 66.005 warga Palestina dan melukai sekitar 168.162 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, Minggu.
Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk, dengan 440 orang meninggal akibat kelaparan, termasuk 147 anak-anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KAPAL-FREED0M-FLOTILL4-2.jpg)