Konflik Palestina Vs Israel
Qatar: Pembicaraan Hamas–Israel Soal Isu Sulit Ditunda Sementara
Mediator Qatar mengatakan pembicaraan tidak langsung antara Hamas–Israel mengenai isu sulit ditunda sementara hingga gencatan senjata tahap 1 selesai.
Ringkasan Berita:
- Qatar menunda kelanjutan negosiasi tidak langsung antara Hamas dan Israel mengenai isu-isu paling rumit hingga gencatan senjata tahap pertama berakhir.
- Persenjataan Hamas merupakan pertanyaan yang belum terjawab dalam perundingan itu.
- Hamas terbuka dengan diskusi mengenai cara mencegah kelompoknya menjadi ancaman bagi Israel.
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengatakan para mediator memutuskan untuk menunda diskusi mengenai isu-isu paling rumit dalam negosiasi antara Israel dan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
Keputusan tersebut diambil karena kurangnya kesiapan pihak-pihak terkait untuk menanganinya pada tahap saat ini.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar menjelaskan bahwa melakukan negosiasi komprehensif sejak awal akan menghambat kemajuan yang dicapai sejauh ini.
Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengemukakan proses bertahap dalam menangani masalah tersebut berkontribusi pada pencapaian hasil nyata, terutama gencatan senjata dan pembebasan tahanan.
Ia menambahkan salah satu pertanyaan mendasar yang masih menggantung adalah masa depan persenjataan Hamas.
"Ada perbedaan mendasar antara Hamas menyerahkan persenjataannya kepada Otoritas Palestina atau kepada pihak lain," katanya.
Perdana Menteri Qatar menekankan langkah selanjutnya adalah membahas pembentukan pasukan stabilisasi internasional.
Ia mengindikasikan Hamas terbuka untuk membahas cara mencegahnya menimbulkan ancaman terhadap Israel.
Gencatan senjata tahap pertama antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada hari Jumat (10/10/2025), setelah pemerintah Israel meratifikasi perjanjian itu.
Hamas, pada gilirannya, diwajibkan untuk membebaskan sandera Israel dalam waktu 72 jam setelah Israel meratifikasi dokumen tersebut, dan Israel akan membebaskan ratusan warga Palestina yang ditahan di penjara.
Kedua pihak mencapai kesepakatan itu setelah melakukan perundingan tidak langsung sejak hari Senin (6/10/2025) dengan partisipasi mediator Qatar, Mesir dan pengawasan AS dan Turki.
Baca juga: Donald Trump Dapat Medali Penghargaan Sipil Tertinggi dari Israel
Pada akhir September lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan proposal yang berisi 20 poin untuk mengakhiri perang genosida di Jalur Gaza.
Jumlah Korban Serangan Israel
Serangan Israel menewaskan 67.806 warga sipil Palestina dan melukai 170.066 lainnya, termasuk 459 orang tewas akibat kelaparan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 hingga Jumat (10/10/2025).
Pada Minggu (12/10/2025), 124 jenazah ditemukan dan 33 lainnya terluka di Jalur Gaza selama 24 jam terakhir.
Selain itu, 2.615 orang tewas dan 19.182 lainnya terluka karena serangan Israel ketika mereka mencari bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah di Jalur Gaza sejak Mei 2025 hingga Jumat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PM-QAT4R-3453243.jpg)