Rabu, 15 April 2026

Eks PM Thailand Abhisit di Jakarta: Politik Butuh Pemimpin yang Berani Ambil Risiko

Abhisit Vejjajiva, politik Asia Tenggara, demokrasi, keberanian politik, pemimpin reformis, elite politik, risiko politik, Jakarta, forum demokrasi.

Penulis: willy Widianto
Tribunnews.com/Handout
KEPEMIMPINAN – Mantan Perdana Menteri Thailand sekaligus Ketua Partai Demokrat Thailand, Abhisit Vejjajiva, menjadi pembicara utama dalam ERIA School of Government Leadership Lecture Series di Jakarta, Rabu (22/10/2025). Ia menyampaikan pentingnya keberanian berpegang pada prinsip dalam menghadapi tantangan demokrasi dan kepemimpinan kawasan. 
Ringkasan Berita:
  • Abhisit tegaskan politik bukan soal aman, tapi soal keberanian.
  • Pemimpin harus siap ambil risiko demi perubahan dan keadilan.
  • Demokrasi stagnan jika elite hanya main aman dan jaga citra.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah polarisasi politik dan krisis kepercayaan publik yang melanda sejumlah negara Asia Tenggara, mantan Perdana Menteri Thailand, Abhisit Vejjajiva menyampaikan satu pesan penting: kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian berpegang pada prinsip.

Abhisit, yang menjabat sebagai Perdana Menteri ke-27 Thailand pada 2008–2011 dan dikenal sebagai tokoh politik konservatif di Asia Tenggara, hadir sebagai pembicara utama dalam kuliah tamu tentang kepemimpinan yang digelar Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Acara ini merupakan bagian dari seri ketiga Leadership Lecture Series dan dihadiri oleh mahasiswa, diplomat muda, serta pembuat kebijakan.

Dalam paparannya, Abhisit menelusuri perjalanan politik Thailand dan membagikan refleksi tentang dinamika demokrasi di Asia Tenggara.

Ia menekankan bahwa tantangan politik, ekonomi, dan sosial tidak bisa ditangani secara terpisah oleh satu negara, melainkan membutuhkan kerja sama regional dan komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi.

“Berpegang pada prinsip membantu pemimpin mengambil keputusan yang benar dan mendorong terciptanya perdamaian,” ujar Abhisit.

Ia juga menyoroti pentingnya integritas dan akuntabilitas dalam mengambil keputusan sulit, meski berisiko secara politik. Menurutnya, keberanian untuk tetap teguh pada nilai adalah fondasi utama dalam menghadapi tekanan kekuasaan dan tuntutan publik.

Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi: Bukan Xenofobia, tetapi Kami akan Tindak Tegas Orang Asing Pelanggar Hukum

Dekan ERIA School of Government, Nobuhiro Aizawa, menyebut kuliah ini sebagai ruang pembelajaran lintas generasi yang relevan dengan tantangan kawasan saat ini.

“Kami percaya bahwa memahami nilai-nilai kepemimpinan lintas konteks politik sangat penting bagi generasi muda yang kelak akan berperan dalam kebijakan publik,” ujar Aizawa.

Ia menambahkan, di tengah perbedaan politik yang kian tajam, para pemimpin perlu meninjau kembali peran partai politik dan kemauan politik dalam memperkuat kerja sama regional serta mendorong kepentingan jangka panjang kawasan.

Kuliah ini menjadi ruang reflektif bagi peserta dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan tata kelola pemerintahan demokratis, nilai-nilai kepemimpinan, dan masa depan ASEAN. Diskusi berlangsung hangat dan terbuka, menyentuh isu-isu strategis seperti pembangunan inklusif, diplomasi regional, dan peran generasi muda.

Di tengah kompleksitas zaman, kepemimpinan yang empatik dan berani mengambil risiko menjadi sorotan utama — bukan hanya sebagai teori, tapi sebagai kebutuhan nyata di Asia Tenggara hari ini.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved