Konflik Thailand Vs Kamboja
Trump Turun Gunung, Telepon Thailand dan Kamboja demi Hentikan Perang Perbatasan
Trump turun tangan setelah gencatan senjata Juli gagal, sementara bentrokan terbaru Thailand–Kamboja menimbulkan korban dan memicu ancaman eskalasi
Ringkasan Berita:
- Trump turun tangan setelah gencatan senjata yang ia mediasi pada Juli kembali gagal, sementara bentrokan terbaru di perbatasan Thailand–Kamboja memicu korban dan ancaman eskalasi kawasan.
- Thailand menolak negosiasi, menyebut situasi belum kondusif, sedangkan Kamboja siap berdialog kapan saja.
- Eskalasi militer meningkat setelah Thailand mengerahkan jet F-16 sebagai respons atas serangan Kamboja, memicu kekhawatiran konflik dapat meluas di Asia Tenggara.
TRIBUNNEWS.COM - Konflik bersenjata di perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas dan memaksa Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun tangan.
Dalam rapat umum di Pennsylvania, Trump menyatakan bahwa dirinya akan melakukan panggilan telepon langsung kepada kedua pemimpin negara.
Langkah ini diambil setelah upaya gencatan senjata yang ia mediasi pada Juli lalu kembali gagal dipatuhi sepenuhnya.
Terbaru, bentrokan dilaporkan terjadi di area sensitif yang kerap menjadi sumber sengketa. Konflik ini sontak memicu kekhawatiran akan meningkatnya korban sipil.
Tak hanya mengancam stabilitas bilateral, konflik ini berisiko menyeret Asia Tenggara ke dalam ketegangan yang lebih luas.
Alasan itu yang mendorong Trump ikut turun tangan. Menurutnya, komunikasi langsung dengan kedua pemimpin negara menjadi langkah paling cepat untuk mendorong penurunan tensi.
Dengan cara ini Washington berharap konflik bisa mereda, terutama karena wilayah tersebut merupakan jalur ekonomi penting dan dekat dengan pusat permukiman warga.
“Situasi ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Saya akan berbicara langsung dengan mereka. Tujuan kami jelas: hentikan kekerasan dan kembali ke meja dialog,” ujar Trump dikutip dari Reuters.
Lebih lanjut, sejumlah analis menilai keinginan Trump melakukan panggilan langsung juga didorong oleh reputasi diplomatiknya.
Setelah berhasil menengahi kesepakatan damai sementara, ia kini berupaya mempertahankan peran AS sebagai mediator utama di kawasan.
Namun, para pengamat menyebut tekanan internasional saja belum cukup.
Thailand dan Kamboja harus menunjukkan komitmen kuat untuk menghindari eskalasi dan memastikan pasukan di lapangan mematuhi perintah gencatan senjata.
Baca juga: Perang Thailand-Kamboja Terus Memanas, Menlu Thailand: Bukan Bangkok yang Memulai
Thailand Ragukan Mediasi, Kamboja Siap Berunding
Setelah Trump mengumumkan rencananya untuk melobi pemerintah Thailand dan Kamboja, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyatakan bahwa situasi saat ini belum memungkinkan untuk membuka ruang negosiasi, bahkan dengan bantuan pihak ketiga.
Menurut Sihasak, kondisi di lapangan yang masih diwarnai baku tembak dan serangan balasan membuat peluang mediasi “hampir tidak ada”.
Ia menegaskan bahwa Thailand belum melihat tanda-tanda deeskalasi yang dapat menjadi dasar bagi perundingan damai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-Desak-NATO-Setop-Beli-Minyak-Moskow.jpg)