Selasa, 19 Mei 2026

Suriah Ungkap Fakta Mengejutkan: Penyerang Pos Militer AS Ternyata Anggota Pasukan Sendiri

Suriah mengaku pelaku penembakan di Palmyra adalah anggotanya sendiri yang terpapar ekstremisme.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube LIVENOW From FOX
AHMED AL-SHARAA - Tangkapan Layar YouTube LIVENOW From FOX yang diambil pada Kamis (6/11/2025). momen pemimpin de facto Suriah Ahmed al-Sharaa (kiri) bertemu dengan Donald Trump (kanan). Suriah mengaku pelaku penembakan di Palmyra adalah anggotanya sendiri yang terpapar ekstremisme. Serangan ini tewaskan 3 warga AS dan picu ancaman balasan keras Trump. 

Ringkasan Berita:
  • Pelaku penembakan di Palmyra ternyata anggota pasukan keamanan Suriah yang sudah diputuskan untuk dipecat karena terpapar ekstremisme, namun proses administratif belum sempat dijalankan.
  • Serangan terjadi saat pertemuan militer Suriah–AS, menewaskan dua tentara AS dan satu penerjemah sipil, serta melukai tiga personel lainnya.
  • Insiden ini memicu sorotan internasional dan respons keras AS, dengan Presiden Trump bersumpah melakukan pembalasan serius terhadap ISIS.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Suriah mengungkap fakta mengejutkan terkait penembakan mematikan di wilayah Palmyra, Suriah tengah, yang menewaskan dua tentara dan satu penerjemah sipil Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu.

Mengutip laporan Al Arabiya, kementerian Dalam Negeri Suriah mengklaim bahwa pelaku penembakan di Palmyra sebenarnya sudah akan dipecat dari pasukan keamanan.

Keputusan pemecatan itu diambil karena yang bersangkutan dinilai terpapar paham ekstremisme dan dianggap berpotensi membahayakan keamanan.

"Otoritas Suriah telah memutuskan untuk memecatnya dari dinas keamanan sebelum serangan itu karena memiliki pemikiran Islam ekstremis," ucap juru bicara Kemendagri Suriah Noureddine Al Baba kepada stasiun televisi pemerintah

Namun, meski keputusan sudah dibuat, proses administratif pemecatan belum sempat dijalankan.

Dalam rentang waktu itulah, pelaku justru melakukan aksi penembakan.

Adapun peristiwa berdarah terjadi saat berlangsung pertemuan antara perwira Suriah dan Amerika Serikat di sebuah lokasi militer di wilayah Palmyra, Suriah tengah.

Tanpa peringatan, pelaku tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah pasukan Amerika Serikat, sehingga situasi langsung menjadi kacau dan memicu baku tembak di lokasi.

Akibat serangan tersebut, dua tentara Angkatan Darat Amerika Serikat dan satu penerjemah sipil AS tewas di tempat akibat luka tembak.

Selain itu, tiga personel militer AS lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.

Tak lama setelah penembakan terjadi, pasukan koalisi yang berada di lokasi segera melakukan tindakan balasan.

Pelaku berhasil dilumpuhkan dan dinyatakan tewas di tempat kejadian. Meski pelaku telah tewas, insiden ini meninggalkan dampak serius.

Baca juga: Trump Ngamuk 3 Pasukan AS Tewas di Suriah, Ucap Sumpah Bakal Serang Balik

Hingga memicu sorotan internasional karena menunjukkan celah serius dalam sistem pengawasan internal aparat keamanan Suriah.

Mengantisipasi terulangnya hal serupa, pemerintah Suriah menyatakan akan mengambil langkah tegas dan berlapis menyusul insiden penembakan di Palmyra yang menewaskan warga Amerika Serikat.

Sikap ini disampaikan untuk menegaskan bahwa negara tidak mentoleransi ekstremisme di dalam institusi keamanannya sendiri.

Pembalasan Besar-besaran Jadi Sinyal Tegas AS

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved