Minggu, 14 Juni 2026

OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Chatbot Khusus untuk Konten Medis

OpenAI menggarisbawahi bahwa ChatGPT Health dirancang untuk mendukung penggunanya terkait info kesehatan bukan menggantikan tenaga medis

Tayang:
Penulis: Bobby W
Tribunnews/ M Alvian Fakka
ILUSTRASI CHATGPT - Foto untuk Ilustrasi ChatGPT yang dibuat pada Rabu (15/10/2025) 
Ringkasan Berita:
  • OpenAI luncurkan ChatGPT Health, fitur khusus untuk pertanyaan kesehatan yang dapat terintegrasi dengan aplikasi seperti Apple Health dan MyFitnessPal
  • OpenAI menegaskan fitur ini bersifat pendukung, bukan pengganti dokter, dirancang guna bantu memahami informasi medis dan persiapan konsultasi
  • Penggunaan AI untuk urusan kesehatan kerap menuai kritik dari pakar medis, terutama terkait risiko “halusinasi AI” seperti temuan diagnosis keliru dan kasus chatbot medis yang justru memberi saran berisiko

TRIBUNNEWS.COM - OpenAI secara resmi memperkenalkan fitur terbaru bernama ChatGPT Health pada Rabu (7/1/2026) waktu setempat.

Fitur ini dirancang khusus OpenAI untuk menjawab pertanyaan terkait kesehatan serta memungkinkan pengguna mengintegrasikan catatan medis dan aplikasi kebugaran secara langsung ke dalam platform.

Melalui inovasi ini, pengguna dapat menghubungkan ChatGPT dengan aplikasi kesehatan populer seperti Apple Health dan MyFitnessPal. Langkah ini diambil karena data internal menunjukkan bahwa topik kesehatan merupakan salah satu alasan utama penggunaan ChatGPT

Adapun OpenAI mencatat ratusan juta pengguna global mengajukan pertanyaan terkait kebugaran setiap minggunya.

Mengingat sensitivitas informasi kesehatan, OpenAI menekankan bahwa ChatGPT Health beroperasi di ruang virtual yang terpisah dari percakapan umum lainnya.

Fitur ini dilengkapi dengan enkripsi khusus dan isolasi data untuk memastikan informasi pribadi tetap terlindungi.

"Informasi kesehatan sangat bersifat pribadi. Itulah sebabnya fitur Health dibangun sebagai ruang khusus dengan perlindungan tambahan dan kontrol yang mudah digunakan," tulis pihak OpenAI dalam keterangan resminya.

Ilustrasi ChatGPT di WhatsApp
Ilustrasi ChatGPT di WhatsApp (X/Twitter)

Selain itu, perusahaan menegaskan bahwa percakapan yang terjadi di dalam fitur Health tidak akan digunakan untuk melatih model dasar (AI) mereka.

Pengguna juga memiliki kendali penuh untuk melihat atau menghapus riwayat kesehatan mereka kapan saja melalui pengaturan personalisasi.

OpenAI menggarisbawahi bahwa ChatGPT Health dirancang untuk membantu pengguna memahami informasi kesehatan yang sering kali tersebar di berbagai aplikasi, PDF, dan portal medis. 

Fitur ini diharapkan dapat membantu pengguna mempersiapkan diri sebelum bertemu dokter atau memahami hasil laboratorium dalam bahasa yang lebih sederhana.

Namun, perusahaan memberikan catatan penting bahwa teknologi ini bersifat suportif.

Baca juga: Grok AI Disorot, Komdigi Ancam Putus Akses Layanan X

"ChatGPT Health dirancang untuk mendukung, bukan menggantikan, perawatan medis profesional. Fitur ini tidak ditujukan untuk diagnosis atau pengobatan," tegas OpenAI.

Dalam proses pengembangannya, OpenAI melibatkan lebih dari 260 dokter dari 60 negara selama dua tahun terakhir.

Kolaborasi ini menghasilkan HealthBench, sebuah kerangka penilaian yang memastikan respons AI memenuhi standar klinis, mengedepankan keamanan, dan menghormati konteks individu.

Saat ini, akses ke ChatGPT Health mulai diberikan secara bertahap kepada pengguna dengan paket Free, Go, Plus, dan Pro di luar wilayah Area Ekonomi Eropa, Swiss, dan Inggris.

Untuk integrasi catatan medis tertentu, saat ini baru tersedia untuk pengguna di Amerika Serikat dengan dukungan dari jaringan data kesehatan b.well.

OpenAI berencana untuk memperluas akses ini ke seluruh pengguna web dan iOS dalam beberapa minggu mendatang.

Bagi mereka yang berminat, OpenAI telah membuka daftar tunggu (waitlist) resmi untuk mendapatkan akses lebih awal.

Risiko "Halusinasi" Medis

Meski menawarkan kemudahan, langkah OpenAI menghadirkan fitur kesehatan khusus ini tidak lepas dari sorotan tajam para pakar medis dan privasi.

Kontroversi utama berpusat pada akurasi informasi dan risiko keamanan pasien.

Para kritikus memperingatkan fenomena "halusinasi AI", di mana model bahasa besar terkadang memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan namun secara faktual salah atau berbahaya secara medis.

Pada tahun 2024, sebuah studi yang diterbitkan di JAMA Pediatrics menemukan bahwa ChatGPT membuat diagnosis yang salah dalam lebih dari 80 persen kasus pediatrik dari skenario dunia nyata.

Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya ketergantungan pada AI untuk diagnosis anak-anak. 

Kontroversi serupa juga bisa dilihat pada kasus yang dialami oleh chatbot yang dikembangkan oleh National Eating Disorders Association (NEDA) di Amerika Serikat.

NEDA diketahui sempat mengganti saluran bantuan komnikasi mereka dengan fitur chatbot AI bernama "Tessa". 

Baca juga: Lagu AI Membanjiri YouTube Music, Pengguna Ramai-ramai Mengeluh

Tak lama kemudian, layanan ini viral setelah pengguna melaporkan bahwa Tessa memberikan saran untuk membatasi asupan kalori dan mengukur lemak tubuh.

Saran ini dinilai fatal mengingat anjuran tersebut sangat berbahaya untuk diberikan bagi para pengidap gangguan makan (eating disorders).

Hal ini menunjukkan bahwa AI bisa kehilangan sensitivitas empati dan konteks psikologis yang krusial dalam medis.

(Tribunnews.com/Bobby)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved