Minggu, 26 April 2026

Top Rank

10 Negara dengan Pernikahan Anak Tertinggi di Dunia: India Memimpin, Indonesia Nomor Berapa?

Berdasarkan data yang dirilis Statista pada November 2025, India memiliki jumlah pengantin anak terbanyak di dunia.

Penulis: Nuryanti
Editor: Endra Kurniawan
KOMPAS.COM
ILUSTRASI PERNIKAHAN DINI - Terdapat 10 negara dengan pernikahan anak tertinggi di dunia. Berdasarkan data yang dirilis Statista pada November 2025, India memiliki jumlah pengantin anak terbanyak di dunia. 

Hal ini menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan karena mempersulit mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang aman dan bergaji tinggi, hidup mandiri, dan membangun masa depan yang lebih cerah untuk mengangkat keluarga mereka keluar dari kemiskinan. 

Kurangnya pendidikan juga membuat anak perempuan bergantung secara finansial pada suami mereka – menjebak mereka dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan.

Alih-alih mampu memanfaatkan sumber daya berupa pikiran, ide, dan energi kaum muda, negara-negara malah menghabiskan lebih banyak uang untuk mendukung anak-anak yang menghadapi dampak sosial dan kesehatan akibat pernikahan anak.

Cara Mengakhiri Pernikahan Anak

Menghilangkan pernikahan anak, pernikahan dini, dan pernikahan paksa membutuhkan upaya jangka panjang dan sumber daya yang memadai.

Setiap individu dapat membantu dengan bersuara dan mengedukasi orang lain tentang bahaya pernikahan anak terhadap anak-anak.

Baca juga: BKKBN Libatkan Tokoh Agama untuk Menekan Pernikahan Dini

Pemerintah perlu menerapkan kebijakan dan undang-undang yang jelas untuk melindungi anak-anak dari pernikahan anak dan menjamin hak setiap anak untuk bersekolah dan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.  

Mereka juga perlu menerapkan langkah-langkah perlindungan sosial yang komprehensif untuk memerangi kemiskinan dengan fokus pada rumah tangga termiskin dan paling kurang beruntung.

Program untuk mengatasi norma sosial dan mempromosikan perilaku positif di antara keluarga, dengan fokus pada laki-laki dan anak laki-laki, juga sangat dibutuhkan. 

Dan mereka perlu membuat sistem kesehatan dan dukungan utama mudah diakses oleh para penyintas pernikahan anak.

Layanan bantuan dan akses ke konselor terlatih serta layanan rehabilitasi dapat mengubah hidup para gadis. 

Dengan berinvestasi dalam kesempatan dan pendidikan bagi anak perempuan, negara-negara dapat mencegah mereka dinikahkan di usia muda, mencegah trauma dan patah hati, dan sebaliknya memanfaatkan potensi mereka yang tak terbatas.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved