5 Populer Internasional: Demo di Iran Memanas - Usaha NATO Lindungi Greenland dari AS
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya demonstrasi besar di Iran menewaskan ratusan warga sipil dan aparat keamanan
Ringkasan Berita:
- Demonstrasi besar di Iran menewaskan ratusan warga sipil dan aparat keamanan, memicu krisis politik dan ekonomi.
- Pemerintah Iran menuding keterlibatan AS dan Israel dalam kerusuhan, bahkan menyebut adanya operasi Mossad di dalam negeri.
- Di tengah ketegangan global, negara-negara Eropa mengusulkan pengerahan pasukan NATO ke Greenland untuk menghadapi ambisi teritorial Presiden AS Donald Trump.
TRIBUNNEWS.COM - Dunia internasional diwarnai sejumlah peristiwa penting, mulai dari demo di Iran yang memanas, hingga wacana pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat yang belum juga mereda.
Berikut rangkuman berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.
1. Demonstrasi di Iran Tewaskan Lebih dari 100 Aparat Keamanan
Demonstrasi yang terjadi di sejumlah wilayah Iran disebut menewaskan lebih dari 100 petugas keamanan.
Dikutip dari Al Jazeera, data itu disampaikan media pemerintah Iran dalam aksi protes terkait krisis ekonomi.
Televisi pemerintah pada Minggu mengatakan 30 anggota polisi dan aparat keamanan tewas di Provinsi Isfahan, serta enam lainnya di Kermanshah, Iran barat, dalam kerusuhan terbaru.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa 109 personel keamanan telah tewas dalam protes yang terjadi di berbagai wilayah Iran.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran menyatakan seorang stafnya meninggal dunia akibat serangan terhadap salah satu gedung bantuan di Gorgan, ibu kota Provinsi Golestan.
Media pemerintah juga melaporkan sebuah masjid dibakar di Mashhad, Iran timur, pada Sabtu malam.
Angka korban tersebut dilaporkan ketika otoritas Iran meningkatkan upaya untuk meredam protes terbesar di negara itu dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat ribuan orang turun ke jalan memprotes melonjaknya biaya hidup dan inflasi.
Ratusan Korban Jiwa dari Sipil
Dikutip dari hindustantimes.com, menurut Human Rights Activists News Agency (HRNA) yang berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas dalam tindakan penindakan terhadap demonstrasi nasional di Iran melonjak pada Minggu menjadi sedikitnya 538 orang.
Sementara itu lebih dari 10.600 orang telah ditahan.
Dari data tersebut, jumlah korban tewas dari unsur demonstran atau sipil mencapai 490 orang.
Dengan akses internet di Iran terputus dan jaringan telepon diputus, pemantauan demonstrasi dari luar negeri menjadi semakin sulit.
2. Demo Memanas, Iran Peringatkan AS-Israel Tak Ikut Campur dengan Opsi Militer
Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melakukan serangan terhadap wilayahnya di tengah memanasnya demonstrasi anti-pemerintah di Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Iran akan melakukan serangan pendahuluan terhadap target AS dan Israel jika Iran mendeteksi adanya serangan yang akan segera terjadi.
Protes yang berawal pada akhir Desember lalu itu menyebar ke banyak wilayah, memicu kerusuhan, meningkatkan korban jiwa hingga 500 orang.
AS dan Israel mendukung demonstran anti-pemerintah Iran yang menuntut perubahan politik di Iran.
“Hendaknya mereka yang mengancam Iran diberi peringatan. Serangan apa pun terhadap Iran akan menjadikan wilayah pendudukan, semua pusat dan pangkalan militer, serta kapal-kapal Amerika di kawasan itu sebagai sasaran yang sah,” kata Ghalibaf pada Minggu (11/1/2026).
“Kami tidak membatasi diri hanya menanggapi setelah serangan terjadi dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman yang objektif, sehingga tidak ada yang melakukan kesalahan perhitungan yang akan membawa mereka pada bencana,” tambahnya.
Aksi protes yang dimulai pada hari Minggu, 28 Desember lalu, dengan para pemilik toko di Teheran yang berunjuk rasa menentang memburuknya perekonomian Iran telah menyebar ke kota-kota lain, dan juga melibatkan para mahasiswa.
Rial Iran telah melemah terhadap dolar AS dan mata uang dunia lainnya, sehingga menaikkan harga impor dan merugikan pedagang ritel, seperti diberitakan Al Jazeera.
Pada 6 Januari, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menepis pernyataan Trump yang menyebut tangannya "berlumuran darah rakyat Iran" sementara para pendukungnya meneriakkan "Matilah Amerika!" dalam rekaman yang ditayangkan oleh televisi pemerintah Iran.
Media pemerintah kemudian berulang kali menyebut para demonstran sebagai "teroris," yang membuka jalan bagi penindakan keras seperti yang terjadi setelah protes nasional lainnya dalam beberapa tahun terakhir.
3. 'Teroris Mossad' Diklaim Serang Polisi Iran, Israel Akui Agennya Kini Beroperasi di Iran
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklaim “teroris Mossad” menyerang para polisi di Iran di tengah berlangsungnya unjuk rasa besar di negaranya.
Klaim itu dilontarkan Araghchi setelah pada hari Minggu, (11/1/2026), mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyatakan Mossad atau agen Israel berjalan-jalan di jalanan Iran.
“Direktur CIA yang diperintah Presiden [AS Donald] Trump secara terbuka dan tanpa malu-malu menyoroti apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mossad dan para pendukungnya,” ujar Araghchi, Sabtu, di media sosial X.
Dikutip dari Press TV, Araghchi memperingatkan AS dan Israel mengenai konsekuensi yang akan muncul karena mendukung para perusuh dalam aksi unjuk rasa di Iran. Araghchi mempertanyakan apakah pemerintah AS bakal menoleransi aksi serangan terhadap polisi seperti itu apabila terjadi di AS.
Di samping itu, dia mengkritik pemerintah Presiden AS Donald Trump yang menurutnya mendukung aksi kebrutalan di AS. Namun, Trump justru bungkam terhadap aksi perusuh di negara lain.
Araghchi menyinggung kasus seorang perempuan di AS yang tewas karena ditembak oleh agen ICE (Lembaga Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai). Dalam kasus itu Trump justru menuding korban sebagai “teroris dalam negeri”.
Jaringan terorganisir diduga menyusup ke Iran
Sekretaris Dewan Keamanan Iran Ali Larijani pada hari Minggu mengklaim “jaringan yang terorganisir dan merusak” telah menyusup di antara para pengunjuk rasa dan menjalankan aksi kekerasan. Larijani menyebut taktik yang dilakukan jaringan itu mirip dengan taktik ISIS.
Kepada kantor berita Tasnim, Larijani berkata kerusuhan yang terjadi di Iran belakangan ini harus dipisahkan dari aksi unjuk rasa yang dipicu oleh krisis ekonomi.
Sebelumnya, Tasnim melaporkan ada 109 aparat keamanan yang tewas karena kerusuhan di seluruh Iran.
4. Jerman dan Inggris Ajak NATO Tempatkan Pasukan Gabungan di Greenland
Inggris dan Jerman mengajak negara-negara anggota NATO menempatkan pasukan di Greenland demi mencegah pengambilalihan wilayah tersebut oleh Amerika Serikat dari tangan Denmark.
Inggris dan Jerman bersama sejumlah negara Eropa sedang membahas rencana kehadiran militer di Greenland untuk menunjukkan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa benua itu serius tentang keamanan Arktik.
Langkah tersebut juga untuk meredam ancaman AS di bawah Presiden Donald Trump yang berambisi mengambil alih wilayah Denmark yang berdaulat sendiri.
Jerman mengusulkan pembentukan misi gabungan NATO untuk melindungi wilayah Arktik, menurut orang-orang yang mengetahui rencana tersebut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terpisah telah mendesak Sekutu untuk meningkatkan kehadiran keamanan mereka di Kutub Utara dan baru-baru ini menghubungi para pemimpin termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz untuk membahas masalah ini.
Serangan AS untuk menangkap pemimpin Venezuela bulan ini, serta retorika Donald Trump yang meningkat tentang kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengendalikan Greenland, telah memaksa para pemimpin Eropa untuk dengan cepat menyusun strategi.
Mereka ingin menunjukkan bahwa Eropa dan Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) mengendalikan keamanan kawasan tersebut, sambil mencoba melemahkan argumen Trump untuk mengambil alih Greenland, kata orang-orang yang berbicara dengan syarat anonim.
5. Kanada Ketakutan, Giliran Negara Berikutnya yang Dicaplok Trump
Warga Kanada kini ketakutan negaranya bakal dicaplok Amerika Serikat (AS) dan jadi negara bagian AS ke-51 setelah militer AS menyerbu Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro disusul ambisi Presiden Donald Trump merebut Greenland dari tangan Denmark.
Hal itu telah mengguncang Kanada, memaksa warga menanggapi dengan serius ancaman tersebut terhadap kedaulatan Kanada.
Pernyataan Pemerintahan Trump bahwa "Ini adalah belahan bumi kita" membuat komentar Trump sebelumnya tentang aneksasi Kanada tampak semakin tidak seperti sekadar penghinaan yang pernah dia tujukan kepada mantan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, atau taktik negosiasi dalam perang dagangnya dengan pemimpin Kanada saat ini, Mark Carney.
Tahun lalu, AS Donald Trump melontarkan ambisinya memperluas wilayah AS termasuk Greenland, tetapi juga Kanada, sebagai 'negara bagian ke-51'.
Gabriella Gricius, peneliti di Universitas Konstanz di Jerman, dan Mathieu Landriault menilai menguatnya ambisi pemerintahan Trump mengambil alih Greenland membawa implikasi politik yang jelas bagi kebijakan keamanan Kanada.
"Jika AS berhasil menekan atau mencaplok Greenland berdasarkan 'keamanan nasional,' mungkin akan ada kekhawatiran di Kanada bahwa pembenaran serupa dapat digunakan terhadap Kanada," kata Gabriella Gricius.
Situasi dengan Greenland, di satu sisi, memiliki dampak politik yang jelas terhadap kebijakan keamanan Kanada tetapi konsekuensi operasionalnya lebih sedikit.
"Yang ditunjukkan kepada para pembuat kebijakan Kanada adalah bahwa mereka harus lebih waspada terhadap tetangga selatan mereka dan lebih siaga terhadap perilaku yang tidak dapat diprediksi serupa, seperti operasi pengaruh dalam politik domestik Kanada, sebagai cara untuk mendapatkan pengaruh dalam pembicaraan perdagangan AS-Kanada," jelas Gricius.
(Tribunnews.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BERITA-POPULER-INTERNASIONAL-13jan26.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.