Iran Vs Amerika Memanas
Presiden Iran: Serangan Apa Pun terhadap Pemimpin Tertinggi Khamenei Akan Menjadi Deklarasi Perang
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang.
- Gelombang protes besar akibat krisis ekonomi berujung pada penindakan brutal, dengan ribuan korban tewas dan ratusan ribu luka-luka, sementara akses internet dibatasi untuk menutup informasi.
- Meski pemerintah menyalahkan campur tangan asing, laporan medis dan aktivis menunjukkan skala kekerasan yang sangat besar dan sulit diverifikasi
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Iran memperingatkan bahwa serangan apa pun terhadap pemimpin tertinggi negara itu akan dianggap sebagai deklarasi perang.
Mengutip France24, akses internet sempat kembali pulih di Iran sebelum kembali terputus, kata sebuah lembaga pemantau pada Minggu (18/1/2026).
Warga Iran mengalami pemadaman internet selama setidaknya 10 hari.
Kelompok hak asasi manusia berpendapat pemadaman itu bertujuan menutupi penindakan terhadap protes yang menewaskan ribuan orang.
Demonstrasi yang dimulai pada akhir Desember 2025, dipicu oleh kemarahan warga atas jatuhnya nilai mata uang dan kesulitan ekonomi.
Aksi protes berkembang menjadi protes besar yang secara luas dianggap sebagai tantangan terbesar bagi kepemimpinan Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Unjuk rasa tersebut mereda pada 8 Januari 2026 setelah dilakukan penindakan tegas oleh pasukan keamanan.
Para pejabat Iran menyatakan demonstrasi awalnya berlangsung damai sebelum berubah menjadi “kerusuhan”, dan menyalahkan campur tangan asing, termasuk Amerika Serikat dan Israel.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap pemerintah Iran jika para demonstran terus dibunuh.
Meski AS tampaknya telah mengurungkan niat untuk melakukan intervensi langsung, Trump menyerang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah wawancara dengan Politico pada Sabtu (17/1/2026).
Trump mengatakan sudah saatnya Iran mencari kepemimpinan baru.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Demonstran Iran Merasa Dikhianati Trump - Rencana Pembentukan PBB Tandingan
“Pria itu adalah orang sakit yang seharusnya memimpin negaranya dengan benar dan berhenti membunuh orang,” kata Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kemudian merespons melalui media sosial X.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian, Minggu (18/1/2026).
Sementara para pemimpin di Washington dan Teheran saling melontarkan pernyataan keras, para pejabat Iran mengatakan ketenangan telah kembali ke jalan-jalan.
Pasukan keamanan dengan kendaraan lapis baja dan sepeda motor terlihat berpatroli di pusat Teheran, menurut koresponden AFP.
Sekolah-sekolah di Iran dibuka kembali pada Minggu setelah ditutup selama sepekan.
Sementara itu, Pezeshkian mengatakan dalam rapat kabinet bahwa ia telah merekomendasikan kepada sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi agar pembatasan internet dicabut sesegera mungkin.
Kantor berita Fars melaporkan pada Minggu bahwa kepala eksekutif Irancell, operator seluler terbesar kedua di Iran, dipecat karena gagal mematuhi keputusan pemerintah untuk mematikan internet.
Di luar Iran, demonstrasi solidaritas terus berlangsung di sejumlah kota dalam beberapa hari terakhir, termasuk di Berlin, London, dan Paris.
Meski ada pembatasan ketat, informasi tetap bocor ke luar negeri, dengan laporan tentang dugaan kekejaman terus bermunculan, menurut kelompok hak asasi manusia.
Jumlah Korban Mencapai Ribuan
Menurut laporan yang disusun para dokter di Iran dan dikutip The Sunday Times, sedikitnya 16.500 demonstran dilaporkan tewas dan sekitar 330.000 lainnya terluka selama kerusuhan di Iran selama 3 minggu terakhir ini.
Sementara itu, sebuah lembaga aktivis yang berbasis di Amerika Serikat, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency), menyatakan pada Minggu (18/1/2026) bahwa mereka telah memverifikasi sedikitnya 3.919 kematian akibat gelombang protes yang berujung pada penindakan berdarah, dan memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Dilansir PBS, lembaga tersebut memposting angka terbaru yang direvisi naik dari laporan sebelumnya sebanyak 3.308 korban tewas.
Jumlah korban tersebut, melampaui angka kematian dalam gelombang protes atau kerusuhan lain di Iran dalam beberapa dekade terakhir dan mengingatkan pada kekacauan yang terjadi menjelang Revolusi Iran 1979.
Pemadaman internet membuat verifikasi independen menjadi semakin sulit.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, untuk pertama kalinya pada Sabtu (17/1/2026) mengakui bahwa beberapa ribu orang telah tewas sejak protes dimulai tiga pekan sebelumnya.
Ia menyalahkan kekerasan tersebut pada para demonstran dan musuh asing.
Dalam pidatonya, Khamenei menggambarkan para demonstran sebagai “tentara Amerika Serikat” dan mengklaim mereka dipersenjatai senjata impor dari luar negeri.
Laporan para dokter menyebutkan sebagian besar kematian terjadi dalam dua hari yang digambarkan sebagai fase paling brutal dari penindakan dalam 47 tahun sejarah Republik Islam, dengan mayoritas korban diyakini berusia di bawah 30 tahun.
Profesor Amir Parasta, seorang ahli bedah mata Iran-Jerman dan direktur medis Munich MED, mengatakan kepada The Sunday Times bahwa data tersebut dikumpulkan melalui komunikasi antar-dokter menggunakan terminal satelit Starlink yang diselundupkan setelah akses internet diputus pada 8 Januari.
“Kali ini mereka menggunakan senjata kelas militer,” kata Parasta, seraya menambahkan bahwa dokter menemukan banyak luka tembak dan cedera akibat pecahan peluru di kepala, leher, dan dada.
Ia menyebut, sedikitnya 700 hingga 1.000 orang kehilangan satu mata.
Data dari delapan rumah sakit mata besar dan 16 unit gawat darurat yang dikutip dalam laporan tersebut memperkirakan jumlah korban luka antara 330.000 hingga 360.000 orang.
Salah satu rumah sakit mata di Teheran, Klinik Noor, mendokumentasikan sekitar 7.000 kasus cedera mata, menurut laporan tersebut.
Seorang dokter mata yang dikutip The Sunday Times mengatakan, lonjakan cedera mata akibat peluru karet telah membebani kapasitas rumah sakit.
Saksi lain menyebut, lebih dari 800 operasi pengangkatan mata dilakukan hanya dalam satu malam di Teheran.
Sumber medis juga mengatakan sejumlah pasien meninggal akibat kekurangan pasokan darah.
Saksi mata yang diwawancarai The Sunday Times menggambarkan pasukan keamanan menembakkan peluru tajam ke arah demonstran, termasuk tembakan yang diarahkan ke kepala, serta mengerahkan penembak jitu di atap gedung.
Laporan tersebut, juga menyebut penggunaan senapan Kalashnikov dan senapan mesin yang dipasang di kendaraan.
Banyak demonstran yang terluka dilaporkan menghindari rumah sakit karena takut ditangkap.
Terlepas dari besarnya jumlah korban yang dilaporkan, skala penuh kekerasan masih belum sepenuhnya jelas karena pemadaman komunikasi yang terus berlangsung, kini memasuki hari ke-10, serta pembatasan terhadap peliputan independen.
Para aktivis hak asasi manusia dan tenaga medis yang dikutip dalam laporan tersebut memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, karena banyak kematian dan cedera tidak tercatat.
Baca juga: Pengunjuk Rasa Iran Merasa Dikhianati Donald Trump, Bantuan Tak Datang
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ali-Khamenei-bersama-Presiden-Iran-Masoud-Pezeshkian1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.