China Eksekusi Mati 11 Bos Penipuan Online yang Beroperasi di Myanmar
Operasi scam center dan judi online yang dikelola mafia Ming meraup keuntungan lebih dari Rp22 triliun antara tahun 2015 dan 2023.
Adapun kelompok mafia lainnya yang telah divonis adalah Llima anggota keluarga Bai juga telah dijatuhi hukuman mati pada November lalu.
Sementara persidangan terhadap dua kelompok terdakwa lainnya dari keluarga Wei dan Liu hingga kini belum selesai.
Persidangan keluarga Ming pada September lalu digelar secara tertutup, meskipun lebih dari 160 orang, termasuk keluarga para korban, diizinkan menghadiri sidang pembacaan vonis tahun lalu.
Berdasarkan data dari Pengadilan Tinggi China, operasi penipuan dan sarang judi mafia Ming meraup keuntungan lebih dari 10 miliar yuan (sekitar Rp22 triliun) antara tahun 2015 dan 2023.
Pengadilan yang menolak banding mereka pada November lalu menyatakan bahwa kejahatan klan ini telah mengakibatkan kematian 14 warga negara China dan melukai banyak orang lainnya.
Selain 11 orang yang dieksekusi pada hari ini, lebih dari 20 anggota keluarga Ming lainnya dijatuhi hukuman penjara mulai dari lima tahun hingga seumur hidup.
Ming Xuechang, pemimpin klan tersebut, dilaporkan tewas bunuh diri pada tahun 2023 saat mencoba menghindari penangkapan oleh militer Myanmar.
Keluarga Ming termasuk di antara sedikit keluarga bergaya "Godfather" yang naik takhta di Laukkaing pada awal 2000-an.
Hal ini terjadi setelah panglima perang kota tersebut digulingkan dalam operasi militer yang dipimpin oleh Min Aung Hlaing, yang kemudian menjadi pemimpin pemerintahan militer Myanmar pascakudeta 2021.
Ming Xuechang mengelola salah satu pusat penipuan paling terkenal di Laukkaing yang bernama Crouching Tiger Villa.
Pada awalnya, perjudian dan prostitusi menjadi sumber pendapatan utama keluarga ini.
Baca juga: Migrant Watch: Menlu Keliru Serahkan Penanganan WNI Kerja Scam di Kamboja ke Aparat Setempat
Namun, mereka akhirnya merambah ke bisnis penipuan daring yang dikelola oleh orang-orang yang diculik dan dipaksa bekerja di bawah ancaman.
Meski tindakan tegas dengan eksekusi mati diterapkan pemerintahan Xi Jinping, bisnis ilegal ini kini dilaporkan terus berjalan dan telah berpindah ke wilayah di mana pengaruh China cenderung lebih lemah.
Kini para mafia penipuan online mulai memusatkan markas mereka di Kamboja dan Laos.
(Tribunnews.com/Bobby)