Kamis, 4 Juni 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Zelenskyy: AS Minta Perang Rusia-Ukraina Diakhiri pada Juni

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan AS minta perang Rusia-Ukraina diakhiri pada awal musim panas pada bulan Juni.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Zelenskyy mengatakan AS menginginkan Rusia dan Ukraina mengakhiri perang pada awal musim panas.
  • Ukraina mendukung upaya AS untuk menekan kedua pihak.
  • Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.446 saat Rusia melanjutkan serangannya terhadap infrastruktur energi di Ukraina.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.446 pada Minggu (8/2/2026).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Amerika Serikat (AS) telah memberi Ukraina dan Rusia tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan damai dan mengusulkan agar perang berakhir pada bulan Juni. 

Zelenskyy juga mengatakan, kedua belah pihak telah diundang untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut minggu depan.

Presiden Ukraina itu mengatakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menekan Ukraina dan Rusia untuk mengakhiri perang pada awal musim panas, yang diperkirakan mulai Juni.

“Mereka mengatakan ingin menyelesaikan semuanya pada bulan Juni,” katanya kepada wartawan, Sabtu (7/2/2026). 

“Mereka akan melakukan segala upaya untuk mengakhiri perang dan mereka menginginkan jadwal yang jelas untuk semua peristiwa,” lanjutnya.

Dia mengatakan, jika tenggat waktu baru bulan Juni tidak dipenuhi, Washington kemungkinan akan menekan kedua belah pihak untuk bertemu.

Sebelum Donald Trump menjabat, ia berjanji untuk mengakhiri perang tersebut dalam 24 jam. 

Utusan khususnya untuk Ukraina, Keith Kellogg, kemudian menyarankan kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan dalam waktu 100 hari setelah pelantikan Trump.

Setelah upaya ini gagal, presiden AS menetapkan tenggat waktu baru untuk kesepakatan pada Agustus tahun lalu, yang juga berlalu tanpa tanda-tanda perdamaian, dan pada bulan Desember ia mengatakan draf perjanjian untuk mengakhiri perang hampir 95 persen selesai.

Baca juga: Simulasi Perang Rusia vs NATO, Putin Disebut Bisa Capai Tujuan dalam Hitungan Hari

Ditengahi AS, Rusia dan Ukraina telah melakukan perundingan selama dua pekan terakhir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Namun perundingan itu tidak menghasilkan terobosan, meskipun Kyrylo Budanov, kepala kantor kepresidenan Ukraina, mengatakan negosiasi trilateral tersebut benar-benar konstruktif.

Zelenskyy mengatakan pemerintahan Trump mengusulkan untuk menjadi tuan rumah putaran selanjutnya dari pembicaraan trilateral di AS, kemungkinan di Miami, dalam waktu seminggu. 

"Kami telah mengkonfirmasi partisipasi kami," katanya.

Dia mengisyaratkan tenggat waktu baru bulan Juni untuk perdamaian mungkin terkait dengan kampanye pemilihan paruh waktu Trump. 

“Pemilihan (paruh waktu) jelas lebih penting bagi mereka (rakyat Amerika). Janganlah kita naif,” tambahnya.

Zelenskyy setuju dengan upaya AS yang menetapkan tenggat waktu bagi Rusia dan Ukraina.

“Jika Rusia benar-benar siap mengakhiri perang, maka sangat penting untuk menetapkan tenggat waktu," tegasnya, dikutip dari The Guardian.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang Rusia–Ukraina pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022, ketika Rusia melancarkan serangan militer berskala besar ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan ini menjadi klimaks dari ketegangan berkepanjangan antara kedua negara yang dipicu oleh perbedaan kepentingan politik, keamanan, serta rivalitas geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Konflik Rusia dan Ukraina berakar sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Sejak saat itu, kedua negara berdiri sebagai entitas merdeka dengan orientasi kebijakan yang semakin berlawanan. Ukraina secara bertahap mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, terutama Uni Eropa dan Amerika Serikat, melalui kerja sama di bidang politik, ekonomi, hingga pertahanan.

Langkah Ukraina untuk mendekat ke Barat, termasuk upaya bergabung dengan NATO dan memperkuat integrasi dengan Uni Eropa, dipandang Rusia sebagai ancaman serius terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasionalnya. Ketegangan meningkat tajam pada 2014, menyusul Revolusi Maidan yang menjatuhkan pemerintahan Ukraina yang dianggap pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Moskow.

Berbagai upaya diplomasi internasional sempat dilakukan untuk meredakan konflik, namun tidak berhasil menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Ketegangan terus bereskalasi hingga akhirnya Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer penuh ke Ukraina pada Februari 2022.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan melindungi warga di wilayah Donbas, menjaga stabilitas keamanan nasional, serta menentang perluasan pengaruh NATO di Eropa Timur. Namun, langkah tersebut memicu kecaman keras dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya, yang kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi berat terhadap Rusia.

Menanggapi invasi Rusia, banyak negara Barat memberikan dukungan militer dan finansial dalam jumlah besar kepada Ukraina.

Perang masih berlanjut di tengah upaya negosiasi yang ditengahi oleh AS. Berikut perkembangan selengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

  • Rusia Luncurkan Serangan Besar ke Fasilitas Energi Ukraina

Rusia dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran ke infrastruktur energi Ukraina pada Sabtu malam. 

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan tersebut melibatkan lebih dari 400 drone dan sekitar 40 rudal yang menargetkan jaringan listrik, pembangkit, serta gardu distribusi di sejumlah wilayah, di tengah kondisi sektor energi Ukraina yang sudah tertekan akibat perang dan cuaca musim dingin ekstrem.

Pemerintah Ukraina mengecam serangan itu dan menyerukan respons internasional yang lebih tegas. 

"Setiap hari, Rusia bisa memilih diplomasi yang sesungguhnya, tetapi mereka memilih serangan baru," tulis Zelenskiy di X. 

"Sangat penting agar semua pihak yang mendukung negosiasi trilateral menanggapi hal ini. Moskow harus dilucuti kemampuannya untuk menggunakan sikap dingin sebagai alat tawar-menawar terhadap Ukraina," lanjutnya.

Menteri Energi Denys Shmyhal mengonfirmasi dua pembangkit listrik tenaga termal di wilayah barat dan sistem distribusi utama mengalami kerusakan, sementara tim teknis siap melakukan perbaikan setelah situasi keamanan memungkinkan. 

Hingga kini, Rusia belum memberikan tanggapan resmi.

  • Ukraina Dukung Seruan Paus Leo

Ukraina menyatakan dukungannya terhadap seruan gencatan senjata dalam konflik dengan Rusia selama penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin, menyusul ajakan dari Italia dan Paus Leo agar Olimpiade Milano Cortina dimanfaatkan sebagai momentum untuk mendorong perdamaian. 

Dukungan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, yang menegaskan keselarasan sikap Kyiv dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai gencatan senjata global selama Olimpiade.

Dalam keterangannya kepada Reuters di Kyiv, Sybiha menyatakan bahwa Ukraina terbuka terhadap gencatan senjata selama Olimpiade Musim Dingin yang dijadwalkan berlangsung pada 6–22 Februari, sembari menekankan bahwa kejelasan sikap kini berada di tangan Rusia

"Kami mendukung seruan ini," katanya dalam sebuah wawancara di Kyiv, seraya menambahkan, "Kami tertarik pada gencatan senjata dan jika Rusia sekali lagi menolak, itu akan sekali lagi menegaskan siapa penghalang perdamaian dan siapa yang ingin melanjutkan perang ini."

Ia menegaskan, apabila Moskow kembali menolak, hal tersebut akan semakin memperjelas pihak mana yang menghambat upaya perdamaian. 

Seruan serupa juga disampaikan Paus Leo, yang mengingatkan tradisi gencatan senjata Olimpiade dan mendesak para pemimpin dunia mengambil langkah konkret menuju de-eskalasi dan dialog. 

  • Ukraina Bentuk Batalion Drone Baru di Resimen Penyerangan

Angkatan Bersenjata Ukraina memperkuat peran drone dalam operasi tempur dengan menambah batalyon sistem tanpa awak di setiap resimen penyerangan, sebagaimana disampaikan Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina Oleksandr Syrsky.

Ia menegaskan bahwa perang saat ini telah menjadi ajang persaingan teknologi, di mana efektivitas penggunaan drone sangat menentukan jalannya pertempuran.

Sepanjang Januari, unit pesawat nirawak Ukraina dilaporkan berhasil menghantam lebih dari 66.000 target, dengan keunggulan drone FPV tetap terjaga, sementara penggunaan sistem robot darat juga meningkat signifikan. 

Di sisi lain, Ukraina mencatat Rusia turut memperkuat pasukan tanpa awaknya hingga ratusan ribu personel serta mengembangkan jenis drone baru, termasuk Geran-4 dan Geran-5, lapor Suspilne.

  • PM Hungaria Sebut Ukraina Musuh Negaranya

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mengatakan Ukraina adalah musuh negaranya.

Komentar Orbán merujuk pada "unjuk rasa anti-perang" di kota Szombathely, seperti yang dilaporkan oleh Pravda, mengutip media berita Hungaria, Index.

Orbán mengklaim Ukraina terus-menerus menekan Brussel untuk memutus pasokan energi murah Rusia ke Hungaria, yang menurutnya akan menaikkan harga listrik bagi konsumen Hungaria.

"Siapa pun yang mengatakan hal seperti itu adalah musuh Hungaria, jadi Ukraina adalah musuh kita," kata Orbán, Sabtu.

Dia menambahkan, keluarga-keluarga di Hongaria akan membayar tambahan 1 juta forint (sekitar €2.600) per tahun untuk biaya utilitas jika harga utilitas tidak tetap rendah.

Orbán mengatakan meskipun kedekatan Ukraina dengan Hongaria berarti kerja sama diperlukan, Ukraina seharusnya tidak diizinkan untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Pada 2 Februari lalu, Hungaria mengajukan gugatan ke Mahkamah Kehakiman Uni Eropa untuk menentang aturan REPowerEU yang melarang impor gas Rusia, meski Uni Eropa tetap berkomitmen menghentikan penggunaan gas Rusia sepenuhnya pada 2027.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menilai Perdana Menteri Viktor Orbán sebagai ancaman, termasuk bagi etnis Hungaria di wilayah barat Ukraina, serta menyatakan Kyiv tengah menyiapkan berbagai skenario menjelang pemilu parlemen Hungaria pada April mendatang.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved