Iran Vs Amerika Memanas
Iran Tebar Ancaman: Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Kini Berada dalam Jangkauan Rudal
Pemerintah Iran telah menebar ancaman kepada Amerika Serikat (AS) bahwa pangkalan militer Washington di Timur Tengah sudah berada di jangkauan rudal.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan antara Iran dan AS pasca-negosiasi yang berlangsung di Ibu Kota Oman, Muscat pada Jumat (6/2/2026) kemarin, tampaknya tak kunjung mereda.
- Kini, pemerintah Iran secara terbuka memperingatkan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di kawasan Timur Tengah, kini berada dalam jangkauan rudal-rudal presisi mereka.
- Teheran menegaskan bahwa setiap upaya agresi dari pihak luar akan dijawab dengan serangan balasan yang "menghancurkan dan tanpa ampun".
TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai level baru yang mengkhawatirkan.
Pemerintah Iran secara terbuka memperingatkan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika Serikat (AS) yang tersebar di kawasan Timur Tengah, kini berada dalam jangkauan rudal-rudal presisi mereka.
Pernyataan keras ini dikeluarkan oleh pejabat senior militer Iran sebagai respons atas meningkatnya kehadiran armada tempur AS di perairan Teluk.
Teheran menegaskan bahwa setiap upaya agresi dari pihak luar akan dijawab dengan serangan balasan yang "menghancurkan dan tanpa ampun".
Dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan oleh media pemerintah, pihak militer Iran mengklaim telah memetakan koordinat seluruh instalasi militer AS di wilayah tersebut.
Mereka menekankan bahwa pangkalan-pangkalan yang selama ini dianggap sebagai benteng pertahanan Washington justru kini menjadi "target empuk" bagi sistem rudal balistik dan drone kamikaze Iran.
"Pangkalan-pangkalan militer mereka di sekitar kita bukanlah sumber kekuatan bagi mereka, melainkan titik lemah yang bisa kita lumpuhkan kapan saja," ujar seorang petinggi militer Iran dalam laporan tersebut, mengutip Russia Today.
Ancaman ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengerahan tambahan armada laut dan pesawat tempur ke kawasan tersebut, guna menekan program nuklir dan pengaruh regional Iran.
Teheran menyebut langkah Washington tersebut sebagai "provokasi berbahaya" yang dapat memicu perang besar.
Para analis keamanan internasional melihat gertakan Teheran ini sebagai bagian dari strategi pencegahan.
Iran ingin menunjukkan bahwa biaya yang harus dibayar Amerika Serikat jika terjadi konflik terbuka akan sangat mahal, mengingat aset-aset vital AS di Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab berada dalam risiko langsung.
Baca juga: Iran Tak Takut dengan Ancaman Perang AS, Nekat Lakukan Pengayaan Nuklir: Tak Perlu Didikte
Tak Akan Hentikan Pengayaan Uranium
Pemerintah Iran menegaskan sikap pantang mundur terkait program nuklirnya di tengah ancaman militer Amerika Serikat yang semakin nyata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran tidak akan pernah menghentikan aktivitas pengayaan uranium, bahkan jika situasi berubah menjadi konflik bersenjata atau perang terbuka.
Pernyataan keras ini disampaikan Araghchi pada Minggu (8/2/2026), menanggapi ultimatum Trump yang menuntut Iran menghentikan total program nuklirnya atau menghadapi serangan militer.
Mengutip Al Arabiya, Araghchi menegaskan bahwa pengayaan uranium adalah hak kedaulatan Iran yang bersifat final.