Terima Gelar Doktor HC di Arab Saudi, Megawati: Pemberdayaan Perempuan Bukan Ancaman
Megawati terima Doktor HC di Riyadh, tegaskan pemberdayaan perempuan bukan ancaman agama atau budaya. Pesan keadilan gender menggema luas.
Ringkasan Berita:
- Megawati tegaskan pemberdayaan perempuan tak goyangkan agama dan budaya
- Gelar Doktor HC ke-11 diterima di kampus perempuan terbesar dunia
- Dari Riyadh, pesan keadilan gender Megawati menggema lintas batas negara
TRIBUNNEWS.COM, RIYADH – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dalam pemerintahan bukanlah ancaman terhadap agama, budaya, maupun tradisi.
Pernyataan itu disampaikan Megawati saat menutup pidato berjudul “Pemberdayaan Perempuan dalam Pemerintahan” usai menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU), Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026).
“Saya menutup pidato ini dengan sebuah keyakinan bahwa pemberdayaan perempuan dalam pemerintahan bukanlah ancaman terhadap agama, budaya, atau tradisi,” kata Megawati.
Landasan Moral, Hukum, dan Sejarah
Megawati menekankan bahwa pemberdayaan perempuan justru merupakan pelaksanaan nilai keadilan yang diajarkan Islam, ditegaskan konstitusi, dan diwariskan sejarah.
Dengan menempatkan agama, konstitusi, dan sejarah dalam satu tarikan napas, menurutnya pemberdayaan perempuan memiliki legitimasi moral, hukum, dan historis yang kuat.
“Justru sebaliknya, ia adalah pelaksanaan dari nilai-nilai keadilan yang diajarkan Islam, ditegaskan oleh konstitusi, dan diwariskan oleh sejarah,” ujarnya.
Baca juga: 4.000 ASN Bakal Digembleng Latihan Komcad Dua Bulan Mulai April
Ilmu Pengetahuan dan Kebijakan Publik
Dalam pidatonya, Megawati juga menyoroti pentingnya hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik.
Ia menilai pemerintahan yang kuat membutuhkan dasar intelektual kokoh, sementara ilmu pengetahuan membutuhkan keberanian politik untuk mengubah realitas sosial.
“Ilmu pengetahuan dan kebijakan publik harus berjalan beriringan. Pemerintahan yang kuat membutuhkan dasar intelektual yang kokoh. Ilmu pengetahuan membutuhkan keberanian politik agar dapat mengubah realitas sosial. Di sinilah pertemuan antara kampus dan negara menemukan maknanya,” jelasnya.
Peran Kampus dalam Pemberdayaan
Megawati menegaskan, universitas bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai dan kepemimpinan masa depan yang berperspektif keadilan gender.
Ia mencontohkan PNU sebagai bukti bahwa pendidikan adalah jalan utama pemberdayaan perempuan.
“Universitas bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi adalah ruang pembentukan nilai dan kepemimpinan masa depan. Princess Nourah bint Abdulrahman University berdiri sebagai bukti bahwa pendidikan adalah jalan utama pemberdayaan perempuan,” ungkapnya.
Gelar Doktor HC ke-11
Gelar Doktor Honoris Causa dari PNU menjadi gelar kehormatan ke-11 yang diterima Megawati sejak 2001.
Anugerah ini istimewa karena Megawati menjadi tokoh pertama di luar warga negara Arab Saudi yang menerima penghargaan dari universitas perempuan terbesar di dunia, yang menampung sekitar 33.000 mahasiswi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Megawati-Soekarnoputri-gelar-doktor-kehormatan-Princess-Nourah-Bint-Abdulrahman-University.jpg)