Senin, 8 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Malam Peringatan Revolusi Berubah Tegang: Teriakan Anti-Khamenei Menggema di Langit Teheran

Teriakan anti-Khamenei kembali menggema di Teheran jelang peringatan Revolusi Iran, menandakan ketidakpuasan publik di tengah tekanan.

Tayang:
X/Ayatollah Ali Khamenei/@khamenei_ir
TERIAKAN ANTI KHAMENEI - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Teriakan anti-Khamenei kembali menggema di Teheran jelang peringatan Revolusi Iran, tanda ketidakpuasan publik masih membara di tengah tekanan ekonomi dan politik. 
Ringkasan Berita:
  • Warga di Teheran dan beberapa kota meneriakkan slogan anti-Khamenei jelang peringatan Revolusi Iran
  • Aksi dipicu kekecewaan ekonomi dan politik: inflasi tinggi, daya beli turun, sanksi berkepanjangan, serta pembatasan kebebasan sipil dan penanganan keras terhadap protes.
  • Insiden terjadi di tengah pengamanan ketat pascagelombang protes besar. Munculnya kembali slogan menunjukkan ketidakpuasan publik masih tinggi di tengah tekanan domestik dan eksternal.

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah warga di ibu kota Iran dilaporkan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan menentang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Selasa malam (10/2/2026).

Aksi yang terekam dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial terjadi menjelang peringatan tahunan Revolusi Islam 1979.

Dalam rekaman yang diunggah oleh akun pemantau protes di Telegram dan platform X, terdengar teriakan seperti “matilah Khamenei”, “matilah diktator”, dan “matilah Republik Islam”.

Slogan-slogan itu dilaporkan disuarakan warga dari balkon dan atap rumah di beberapa kawasan permukiman Teheran.

Selain di Teheran, laporan mengenai teriakan anti-pemerintah juga muncul dari beberapa kota lain, termasuk Isfahan dan Shiraz.

Video yang beredar menunjukkan suara slogan bergema di kawasan permukiman, terutama di wilayah padat penduduk.

Salah satu saluran pemantau lokal bahkan melaporkan bahwa aparat keamanan dikerahkan ke sejumlah kawasan dan merespons dengan mengumandangkan takbir melalui pengeras suara setelah warga mulai meneriakkan slogan penolakan.

Namun hingga kini, keaslian video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh sejumlah media internasional.

Mengutip dari France24, aksi warga meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan menentang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menjelang peringatan Revolusi Islam, karena dipicu oleh akumulasi kekecewaan terhadap kondisi ekonomi dan situasi politik dalam negeri.

Tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor utama. Inflasi tinggi, melemahnya nilai mata uang, meningkatnya harga kebutuhan pokok, serta terbatasnya lapangan kerja membuat daya beli masyarakat terus menurun.

Sanksi internasional yang berkepanjangan juga memperparah kondisi ekonomi dan memicu ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah.

Baca juga: Iran Bergerak ke Oman, Sinyal Kuat Cari Dukungan Jelang Negosiasi Panas dengan AS

Selain faktor ekonomi, ketidakpuasan juga dipicu oleh pembatasan kebebasan sipil dan kebijakan sosial yang dinilai ketat oleh sebagian masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu penegakan aturan sosial, pembatasan akses informasi, serta tindakan aparat terhadap aksi protes turut memperkuat sentimen kritik terhadap otoritas.

Atas dasar itu sejumlah warga memanfaatkan momen peringatan Revolusi Iran untuk menyuarakan aspirasi dan kritik terhadap arah kepemimpinan negara, termasuk terhadap peran dan kebijakan Pemimpin Tertinggi.

 Muncul di Tengah Situasi Keamanan Ketat

Aksi teriakan anti-pemerintah yang terdengar pada Selasa malam terjadi di tengah situasi keamanan yang masih ketat setelah gelombang protes besar mengguncang Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Protes sebelumnya menentang sistem pemerintahan Republik Islam dan berujung pada tindakan keras aparat keamanan.

Kelompok aktivis melaporkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap dalam operasi penertiban yang dilakukan otoritas.

Sejak penindakan tersebut, laporan mengenai aktivitas protes terbuka sempat menurun dalam dua pekan terakhir.

Namun, kemunculan kembali slogan-slogan anti-pemerintah dinilai sebagai tanda bahwa ketidakpuasan publik masih terus berlangsung meski berada di bawah pengawasan ketat aparat.

Peristiwa itu terjadi bersamaan dengan kegiatan pemerintah yang menyalakan kembang api untuk menandai malam menjelang 22 Bahman dalam kalender Persia.

Tanggal tersebut merupakan momen penting yang memperingati kemenangan Revolusi Islam 1979 dan biasanya diisi dengan pawai nasional sebagai bentuk dukungan terhadap sistem pemerintahan ulama.

Menurut kelompok pemantau hak asasi manusia yang berbasis di luar negeri, Human Rights Activists News Agency (HRANA), kejadian tersebut menunjukkan bahwa gelombang protes nasional masih berlanjut meskipun pemerintah telah memperketat pengawasan dan langkah pengendalian.

Para pengamat menilai kemunculan kembali slogan-slogan tersebut mencerminkan tekanan sosial dan politik yang masih tinggi di dalam negeri.

Di saat yang sama, Iran juga menghadapi tekanan eksternal terkait isu program nuklir serta meningkatnya dinamika geopolitik di kawasan.

Kondisi ini menempatkan negara tersebut dalam situasi yang sensitif, di mana pemerintah harus menghadapi tantangan stabilitas domestik sekaligus tekanan internasional secara bersamaan.

(Tribunnews.com / Namira)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved