Ramadan 2026
Ramadan di Gaza, Harga Pangan Melonjak: Semua Tersedia, tapi Tidak Ada yang Terjangkau
Warga Gaza menyambut Ramadan dengan kesulitan ekonomi akibat harga pangan yang melonjak.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM – Warga Gaza menyambut datangnya bulan suci Ramadan setelah perang yang berlangsung lebih dari dua tahun.
Namun, suasana perayaan yang biasanya meriah masih terasa suram.
Serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 72.061 orang dan melukai 171.715 orang sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan yang dikutip Al Jazeera.
Lonjakan harga pangan dan melemahnya daya beli membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Video yang diunggah Viory pada Rabu (18/2/2026) menunjukkan warga berjalan di pasar di antara kurma, sayuran, buah-buahan, acar, dan dekorasi Ramadan.
Meski kios-kios tampak ramai dan berwarna-warni, realitas ekonomi bagi sebagian besar pembeli tetap memprihatinkan.
“Makanan dan minuman tersedia, tetapi tidak semua orang dapat membelinya karena harganya tinggi. Harganya sudah tidak terjangkau bagi konsumen,” kata seorang pedagang bernama Mohammed Al-Hilu.
Mengenang kondisi sebelum perang, ia menambahkan, "Dulu orang-orang mampu membeli, harga wajar, dan semua orang bekerja. Sekarang situasinya jauh lebih sulit."
Yahya Yassin, warga lainnya, menyuarakan kekhawatiran serupa.
“Seperti yang Anda lihat, situasinya sangat sulit sekarang. Tidak ada pekerjaan, tidak ada lapangan kerja, dan orang-orang tidak punya uang.”
“Memang benar semuanya tersedia di pasar, tetapi tidak ada uang tunai.”
Kurangnya stabilitas keuangan menjadi hambatan utama bagi warga Gaza tahun ini.
Baca juga: Israel Tolak Mundur dari Gaza, Ancam Lanjutkan Serangan jika Hamas Tak Kunjung Serahkan Senjata
“Ada keluarga yang sama sekali tidak memiliki penghasilan,” kata seorang warga bernama Jalal.
Namun, ia menambahkan bahwa situasi keamanan tahun ini relatif membaik.
“Orang-orang bisa pergi ke pasar. Tahun lalu tidak ada seorang pun karena mereka takut datang.”