Selasa, 14 April 2026

Ramadan 2026

Ramadan di Gaza, Harga Pangan Melonjak: Semua Tersedia, tapi Tidak Ada yang Terjangkau

Warga Gaza menyambut Ramadan dengan kesulitan ekonomi akibat harga pangan yang melonjak.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
Ringkasan Berita:
  • Warga Gaza menyambut Ramadan dengan kesulitan ekonomi akibat harga pangan yang melonjak.
  • Banyak keluarga tidak memiliki penghasilan sehingga makanan di pasar sulit terjangkau.
  • Meski situasi keamanan lebih baik setelah gencatan senjata, pemulihan kehidupan warga masih berat.


TRIBUNNEWS.COM – Warga Gaza menyambut datangnya bulan suci Ramadan setelah perang yang berlangsung lebih dari dua tahun.

Namun, suasana perayaan yang biasanya meriah masih terasa suram.

Serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 72.061 orang dan melukai 171.715 orang sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan yang dikutip Al Jazeera.

Lonjakan harga pangan dan melemahnya daya beli membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Video yang diunggah Viory pada Rabu (18/2/2026) menunjukkan warga berjalan di pasar di antara kurma, sayuran, buah-buahan, acar, dan dekorasi Ramadan.

Meski kios-kios tampak ramai dan berwarna-warni, realitas ekonomi bagi sebagian besar pembeli tetap memprihatinkan.

“Makanan dan minuman tersedia, tetapi tidak semua orang dapat membelinya karena harganya tinggi. Harganya sudah tidak terjangkau bagi konsumen,” kata seorang pedagang bernama Mohammed Al-Hilu.

Mengenang kondisi sebelum perang, ia menambahkan, "Dulu orang-orang mampu membeli, harga wajar, dan semua orang bekerja. Sekarang situasinya jauh lebih sulit."

RAMADHAN DI GAZA - Tangkap layar video Viory menampilkan warga berjalan-jalan di pasar Gaza, Rabu (18/2/2026). Warga Gaza menyambut Ramadan dengan kesulitan ekonomi akibat harga pangan yang melonjak.
RAMADHAN DI GAZA - Tangkap layar video Viory menampilkan warga berjalan-jalan di pasar Gaza, Rabu (18/2/2026). Warga Gaza menyambut Ramadan dengan kesulitan ekonomi akibat harga pangan yang melonjak. (Tangkap layar video Viory)

Yahya Yassin, warga lainnya, menyuarakan kekhawatiran serupa.

“Seperti yang Anda lihat, situasinya sangat sulit sekarang. Tidak ada pekerjaan, tidak ada lapangan kerja, dan orang-orang tidak punya uang.”

“Memang benar semuanya tersedia di pasar, tetapi tidak ada uang tunai.”

Kurangnya stabilitas keuangan menjadi hambatan utama bagi warga Gaza tahun ini.

Baca juga: Israel Tolak Mundur dari Gaza, Ancam Lanjutkan Serangan jika Hamas Tak Kunjung Serahkan Senjata

“Ada keluarga yang sama sekali tidak memiliki penghasilan,” kata seorang warga bernama Jalal.

Namun, ia menambahkan bahwa situasi keamanan tahun ini relatif membaik.

“Orang-orang bisa pergi ke pasar. Tahun lalu tidak ada seorang pun karena mereka takut datang.”

Kondisi musim dingin yang keras telah memperparah penderitaan.

Cuaca dingin ekstrem yang menewaskan anak-anak serta hujan deras yang membanjiri kamp pengungsian dan meruntuhkan bangunan yang sudah rusak.

“Banyak yang telah berubah pada Ramadan kali ini dibandingkan Ramadan sebelum perang,” kata Raed Koheel dari Kota Gaza kepada Al Jazeera.

“Dulu suasananya lebih menyenangkan. Jalan-jalan diterangi dekorasi. Semua jalan memiliki hiasan. Anak-anak kami bahagia.”

Meski demikian, di tengah kehancuran yang luar biasa, sebagian warga Palestina berusaha mempertahankan tradisi Ramadan.

Di Khan Younis, kaligrafer Hani Dahman melukis tulisan “Selamat Datang, Ramadan” dalam bahasa Arab di antara reruntuhan, sementara anak-anak menyaksikan.

“Kami di sini, di kamp Khan Younis, mencoba membawa kebahagiaan ke hati anak-anak, perempuan, laki-laki, dan seluruh keluarga,” kata Dahman.

“Kami mengirimkan pesan kepada dunia bahwa kami adalah orang-orang yang mencintai kehidupan.”

Lampu hias Ramadan kini tergantung di antara puing-puing.

Mohammed Taniri, yang menyaksikan upaya tersebut, mengatakan: “Ketika mereka menyediakan dekorasi yang indah dan sederhana seperti itu, hal itu membawa kegembiraan bagi anak-anak. Terlepas dari semua kesulitan, mereka berusaha menciptakan suasana yang indah.”

Ramadan tahun ini merupakan yang pertama sejak gencatan senjata diumumkan di Gaza, setelah dua tahun penduduk Jalur Gaza menjalani bulan suci di tengah konflik, kehancuran, pengungsian, serta kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah.

Meski tidak ada lagi penembakan aktif yang memberi sedikit kelegaan, jalan menuju pemulihan masih panjang dan berat.

Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender lunar Islam dan dianggap sebagai salah satu bulan tersuci bagi umat Muslim.

Selama bulan ini, puasa dari fajar hingga matahari terbenam dijalankan sebagai salah satu dari lima rukun Islam.

Tarawih Pertama

Pada Selasa (17/2/2026), warga Palestina melaksanakan salat Tarawih pertama untuk menyambut Ramadan.

Dilansir Viory, ribuan warga Palestina berkumpul di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, pada Selasa malam untuk menunaikan salat Tarawih pertama tahun ini, seiring terlihatnya bulan sabit yang menandai dimulainya Ramadan.

Rekaman video memperlihatkan para jemaah melaksanakan salat Tarawih di halaman masjid dalam suasana damai yang dipenuhi iman, kesalehan, dan semangat spiritual.

“Dari Masjid Al-Aqsa, kami mengucapkan selamat Ramadan. Sejak salat Tarawih pertama, para jemaah terus berdatangan ke masjid. Semoga tetap dipenuhi umat Muslim dalam suasana damai,” kata seorang warga setempat, Mohammed Al Khatib.

Media Palestina melaporkan bahwa pasukan Israel memberlakukan pembatasan di gerbang Masjid Al-Aqsa, memeriksa identitas para jemaah, serta melarang sebagian dari mereka memasuki area masjid.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved