Iran Vs Amerika Memanas
Trump: Iran Sedang Kembangkan Rudal yang Ancam AS dan Eropa
Dalam pidato kenegaraan, Presiden AS Donald Trump menuduh Iran sedang mengembangkan rudal yang ancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri.
Ringkasan Berita:
- Trump menuduh Iran sedang berupaya mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan militer AS di luar negeri.
- AS meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah, memicu kekhawatiran akan serangan terhadap Iran.
- Iran menolak tuduhan AS, menegaskan negaranya tidak mengembangkan senjata nuklir.
- Menteri Luar Negeri Iran berharap AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan yang adil soal perjanjian pengembangan program nuklir.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) menuduh Iran sedang mengembangkan rudal yang mampu menyerang negaranya.
“Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membangun rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat,” kata Trump dalam pidato kenegaraan, tanpa memberikan bukti, Selasa (24/2/2026).
Trump telah meningkatkan kekuatan militer AS di Timur Tengah, yang ia sebut "armada".
Armada AS di Timur Tengah mencakup kapal induk Abraham Lincoln, yang didampingi oleh tiga kapal perang yang dilengkapi dengan rudal Tomahawk dan yang digunakan untuk menyerang dua fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Pada akhir Januari lalu, AS juga mengirim kelompok kapal induk kedua ke Timur Tengah, termasuk USS Gerald R. Ford dan tiga kapal perusak yang menyertainya.
Selain itu, satu kapal perusak lagi dikirim ke Laut Arab bagian Utara, dan satu lagi sedang dalam perjalanan, menurut seorang pejabat Angkatan Laut, sehingga total kapal perusak di wilayah yang lebih luas menjadi 13 unit.
Kapal-kapal perang tersebut juga membawa sistem pertahanan udara, seperti dilaporkan New York Times.
Pesawat tempur siluman F-35 dan pesawat serang F/A-18 milik kapal induk tersebut berada dalam jangkauan serang puluhan target di Iran, jika Presiden Trump memerintahkan mereka untuk bertindak.
Laporan New York Times pada 30 Januari lalu, menyebutkan empat jet perang elektronik, yang digunakan untuk mengacaukan radar dan sistem komunikasi, tiba di Yordania.
Citra satelit tanggal 30 Januari menunjukkan setidaknya lima drone MQ-9 Reaper di pangkalan tersebut.
Baca juga: Kirim Kapal Perang ke Timur Tengah, Strategi Donald Trump Intimidasi Iran di Meja Perundingan
Data pelacakan penerbangan dan gambar satelit menunjukkan bahwa Amerika Serikat mengerahkan pesawat tambahan ke kawasan tersebut, termasuk pesawat pengisian bahan bakar di udara serta pesawat pengintai dengan sensor dan kamera berteknologi tinggi.
Selain itu, puluhan pesawat tanker dan kargo juga dipindahkan dari AS ke sejumlah pangkalan di Eropa untuk mendukung logistik pasukan di Timur Tengah.
Konsentrasi pasukan yang besar di kawasan itu memicu spekulasi bahwa Trump mungkin sedang bersiap untuk menyerang Iran jika negara itu tidak menerima tuntutan AS.
Serangan tanpa provokasi terhadap Iran, yang dibom AS pada bulan Juni tahun lalu, kemungkinan akan melanggar hukum internasional.
Trump: Serangan AS Tahun Lalu Menghancurkan Program Senjata Nuklir Iran
Dalam pidatonya, Trump kembali mengatakan bahwa serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu telah menghancurkan "program senjata nuklir" negara tersebut.
Pernyataan Trump bertentangan dengan pernyataan utusan AS Steve Witkoff awal pekan ini yang mengatakan Iran mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk mengembangkan senjata nuklir.
Amerika Serikat telah mengerahkan aset militer terbesar ke Timur Tengah sejak perang di Irak.
Trump mengatakan preferensinya adalah menyelesaikan kebuntuan dengan Iran melalui diplomasi, tetapi mengatakan Iran belum berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: Kita tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Para pejabat Iran berulang kali membantah tuduhan AS bahwa negaranya berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Iran mengatakan bahwa program nuklir mereka hanya untuk penggunaan sipil.
“Iran dalam keadaan apa pun tidak akan mengembangkan senjata nuklir," tulis Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah unggahan di X jam sebelum pidato Trump.
Perundingan AS dan Iran soal Kesepakatan Program Nuklir
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan guna menghindari bentrokan militer dengan Amerika Serikat semakin terbuka, menjelang putaran ketiga perundingan di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).
"Kita memiliki kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mengatasi kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di media sosial.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ancaman militer dari Presiden Donald Trump serta pengerahan pasukan AS di kawasan.
Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan, termasuk yang terbatas, akan dianggap sebagai tindakan agresi dan akan dibalas tegas.
Araghchi menegaskan Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, tetapi tetap mempertahankan hak untuk memanfaatkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Sebelumnya, kedua negara telah menggelar lima putaran perundingan nuklir tahun lalu, namun terhenti setelah serangan Israel yang memicu perang selama 12 hari, lapor France24.
Apa Itu Perjanjian Nuklir Iran dan AS?
Perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disepakati pada 2015 adalah kesepakatan antara Iran dan enam negara besar dunia (AS, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China).
Dalam perjanjian itu, Iran setuju membatasi program nuklirnya agar tidak bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Sebagai gantinya, sanksi ekonomi internasional terhadap Iran dicabut atau dilonggarkan.
Namun pada 2018, Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump keluar dari kesepakatan tersebut.
Setelah itu, AS kembali menjatuhkan sanksi berat kepada Iran.
Langkah ini membuat hubungan kedua negara kembali memanas dan upaya perundingan selanjutnya sering mengalami kebuntuan.
AS terus menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium, karena dikhawatirkan bisa membuka jalan menuju pembuatan senjata nuklir.
Sementara itu, Iran menolak tuntutan tersebut dan menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah haknya sebagai negara berdaulat, selama tetap berada di bawah pengawasan badan internasional, yaitu International Atomic Energy Agency (IAEA).
AS ingin pembatasan yang jauh lebih ketat agar Iran benar-benar tidak memiliki peluang membuat senjata nuklir, sementara Iran menegaskan negaranya mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik dan riset medis.
Situasi semakin tegang dengan meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk, termasuk penambahan kekuatan militer AS, ancaman terhadap fasilitas nuklir Iran, serta serangan terhadap fasilitas tersebut pada tahun lalu, dirangkum dari Al Jazeera.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TRUuMP-3456345643565T.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.