Iran Vs Amerika Memanas
AS Mode Siap Tempur, Komandan CENTCOM Sudah Siapkan Opsi untuk Serang Iran
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper memberikan pengarahan kepada Donald Trump soal serangan ke Iran.
Ringkasan Berita:
- Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper sudah memberikan pengarahan terkait tindakan militer terhadap Iran kepada Presiden Donald Trump.
- Trump sebelumnya telah memerintahkan pengerahan militer besar-besaran AS di Timur Tengah.
- Kini, Trump tengah mempertimbangkan untuk memerintahkan kampanye militer terhadap Iran.
TRIBUNNEWS.COM - Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, memberi pengarahan kepada Presiden AS Donald Trump pada Kamis (26/2/2026).
Pengarahan ini berfokus pada pilihan-pilihan untuk tindakan militer terhadap Iran.
Trump sebelumnya telah memerintahkan pengerahan militer besar-besaran AS di Timur Tengah.
Kini, Trump tengah mempertimbangkan untuk memerintahkan kampanye militer terhadap Iran.
Menurut laporan Axios, pengarahan yang dihadiri juga oleh Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine ini terdapat beberapa fokus utama yang dibahas.
Pertama, memastikan kesiapan senjata penembus bunker untuk menetralisir fasilitas pengayaan uranium bawah tanah.
Lalu menyiapkan serangan presisi terhadap lokasi peluncuran rudal yang mengancam pangkalan AS.
Terakhir opsi untuk melakukan blokade total atau penghancuran armada kapal cepat Iran di Teluk.
Seorang pejabat tinggi yang mengetahui isi pertemuan tersebut menyatakan bahwa Trump tidak lagi tertarik pada "pesan diplomatik yang halus".
Presiden, katanya, ingin menunjukkan setiap gangguan terhadap kepentingan AS akan dibayar dengan kerugian yang berkali-kali lipat lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak CENTCOM masih menolak berkomentar terkait pengarahan tersebut.
Baca juga: Negosiasi Nuklir AS–Iran di Jenewa Berakhir Buntu, Bayang-Bayang Perang Kembali Mencuat
Perundingan di Jenewa Berakhir
Putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss telah berakhir, Kamis (26/2/2026).
Meskipun kedua belah pihak mengklaim adanya "kemajuan" dalam upaya meredakan ketegangan nuklir, pertemuan tersebut berakhir tanpa pengumuman poin-poin kesepakatan yang mendalam, menyisakan tanda tanya besar bagi komunitas internasional.
Setelah perundingan berakhir, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan teknis lebih lanjut akan diadakan minggu depan di Wina, Austria.
"Ini adalah pembicaraan yang paling serius dan paling lama," kata Araghchi, mengutip Al Jazeera.
Kedua pihak telah berselisih mengenai isu-isu penting, termasuk pengayaan uranium dan rudal.
Washington telah berulang kali menekankan bahwa mereka tidak akan menerima pengayaan nuklir apa pun yang terjadi di wilayah Iran, bahkan pada tingkat penggunaan sipil yang disepakati selama kesepakatan nuklir 2015 yang disetujui Iran dengan kekuatan dunia.
Trump secara sepihak meninggalkan kesepakatan itu pada tahun 2018.
Menjelang perundingan Jenewa, para pejabat AS semakin fokus pada program rudal balistik Iran.
Mereka mengatakan rudal-rudal tersebut mengancam pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah serta Israel.
Iran menolak untuk membahas senjata konvensionalnya.
Baca juga: Tunggu Perintah Trump, Unit Drone Kamikaze Pertama Pentagon Siap untuk Serangan ke Iran
Para pejabat Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, telah berulang kali mengatakan mereka tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir.
Saat berbicara dengan para pejabat setempat selama kunjungan ke provinsi tersebut, Pezeshkian juga menanggapi pernyataan Trump soal Iran adalah "sponsor teror nomor satu di dunia".
Pezeshkian mengatakan sejumlah pejabat Iran dan ilmuwan nuklir telah dibunuh selama beberapa dekade, terutama setelah revolusi Islam tahun 1979 di negara itu.
"Jika kenyataan dilihat secara adil, akan menjadi jelas bahwa Iran bukan hanya bukan pendukung terorisme, tetapi salah satu korban utama teror di kawasan ini dan di seluruh dunia," kata Pezeshkian.
Kantor berita IRNA milik pemerintah Iran mengatakan bahwa proposal Teheran diharapkan dapat mengukur "keseriusan" AS dalam pembicaraan, karena berisi tawaran "saling menguntungkan".
Para pejabat Iran belum secara terbuka membahas semua detail proposal mereka.
Tetapi diyakini proposal tersebut mencakup pengenceran sebagian uranium yang diperkaya 60 persen milik negara itu dan menyimpan uranium tersebut di dalam negeri.
Otoritas Iran membayangkan hal itu dapat dipadukan dengan peluang ekonomi bagi AS yang terkait dengan minyak dan gas Iran serta pembelian pesawat terbang.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.