Senin, 13 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Starmer Siap Bantu Negara Teluk Cegat Drone Iran, Libatkan Pakar dari Ukraina dan Militer Inggris

Perdana Menteri  Inggris, Keir Starmer mengatakan pakar dari Ukraina akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran.

Ringkasan Berita:
  • Keir Starmer menyatakan Inggris akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran dengan melibatkan pakar dari Ukraina.
  • Sementara itu, Rusia meningkatkan serangan rudal dan drone ke Ukraina sepanjang Februari, terutama menargetkan infrastruktur energi.
  • Presiden Volodymyr Zelensky juga memuji langkah Belgia yang menyita kapal tanker diduga bagian dari armada bayangan Rusia.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.468 pada Senin (2/3/2026).

Perdana Menteri  Inggris, Keir Starmer mengatakan pakar dari Ukraina akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran.

Langkah itu diambil setelah serangan balasan Iran menyusul operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.

Starmer menegaskan Inggris tidak terlibat langsung dalam serangan tersebut.

Namun London akan terus menjalankan langkah pertahanan di kawasan Timur Tengah.

Inggris juga berencana mengirim pakar militer bersama ahli Ukraina untuk membantu mitra Teluk menembak jatuh drone Iran.

Sementara itu analisis Agence France-Presse menunjukkan Rusia meningkatkan serangan rudal ke Ukraina sepanjang Februari.

Rusia dilaporkan menembakkan 288 rudal dan lebih dari 5.000 drone jarak jauh, terutama menargetkan infrastruktur energi Ukraina.

Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan perubahan situasi di Iran harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyatnya.

Ia juga menuduh Teheran memasok drone Shahed kepada Rusia yang telah digunakan dalam perang di Ukraina.

Di sisi lain, Belgia menyita kapal tanker Ethera yang diduga bagian dari armada bayangan Rusia untuk menghindari sanksi Barat.

Baca juga: Kronologi Anak Bos Kriminal Ukraina Diculik di Bali, Dimintai Tebusan Rp 168 Miliar

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina dimulai secara terbuka pada 24 Februari 2022, saat Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah wilayah Ukraina.

Serangan ini terjadi setelah hubungan kedua negara memburuk selama bertahun-tahun, terutama karena perbedaan sikap politik dan keamanan.

Akar konflik bermula sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Rusia dan Ukraina menjadi negara merdeka dengan arah kebijakan yang berbeda.

Ukraina kemudian semakin mendekat ke negara-negara Barat, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, melalui kerja sama politik, ekonomi, dan pertahanan.

Langkah Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan dan kepentingan nasionalnya.

Ketegangan meningkat pada 2014 setelah pergantian pemerintahan di Ukraina, yang diikuti dengan pencaplokan Krimea oleh Rusia dan pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas.

Upaya perdamaian sempat dilakukan melalui jalur diplomasi internasional, namun tidak membuahkan hasil jangka panjang.

Situasi akhirnya memuncak ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022.

Invasi tersebut memicu kecaman dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat, yang kemudian menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia.

Di sisi lain, Ukraina menerima bantuan militer dan keuangan dari sekutu-sekutunya.

Hingga kini, konflik masih berlangsung karena persoalan wilayah dan kepentingan strategis kedua pihak belum menemukan titik temu.

Amerika Serikat terus berperan dalam berbagai upaya diplomasi untuk mendorong penyelesaian perang.

Starmer Siap Bantu Cegat Drone Iran

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan para ahli dari Ukraina akan membantu negara-negara Teluk mencegat drone Iran.

Langkah ini merupakan respons terhadap serangan balasan Iran setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.

Starmer menegaskan Inggris tidak terlibat langsung dalam serangan tersebut.

Namun London akan terus menjalankan langkah pertahanan di kawasan Timur Tengah.

“Kami tidak bergabung dalam serangan ini, tetapi kami akan melanjutkan tindakan defensif kami di kawasan ini,” kata Starmer pada Minggu (1/3/2026) malam.

Ia juga menyebut Inggris akan membawa para ahli dari Ukraina bersama pakar militer Inggris untuk membantu mitra Teluk menembak jatuh drone Iran.

Hingga kini Ukraina belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan tersebut.

Baca juga: Dunia Terbelah! Ukraina Dukung Serangan AS-Israel ke Iran, Rusia Sebut Agresi Ilegal

Serangan Rudal Rusia ke Ukraina Meningkat

Analisis Agence France-Presse menunjukkan Rusia meningkatkan serangan rudal ke Ukraina sepanjang Februari.

Serangan malam hari tersebut terutama menargetkan infrastruktur energi Ukraina.

AFP mencatat Rusia meluncurkan 288 rudal sepanjang Februari.

Jumlah itu meningkat sekitar 113 persen dibandingkan Januari yang mencapai 135 rudal.

Selain itu Rusia juga meluncurkan 5.059 drone jarak jauh ke berbagai kota Ukraina selama serangan malam.

Angka tersebut meningkat sekitar 13 persen dibandingkan Januari.

Data ini diperoleh dari analisis angka harian yang dirilis angkatan udara Ukraina.

Zelensky Soroti Perubahan di Iran

Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan perubahan situasi di Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Iran.

Dalam pidato video malamnya, Zelensky menilai Iran turut memicu konflik regional.

Ia menyebut Teheran juga memasok drone kepada Rusia dalam perang yang telah berlangsung empat tahun di Ukraina.

“Penting agar kesempatan untuk perubahan di Iran ini digunakan dengan benar,” kata Zelensky.

Ia menambahkan rakyat Iran telah lama menghadapi tekanan dari rezim mereka.

Baca juga: Zelenskyy Akan Tunjuk Perwakilan Baru Ukraina di Belarusia

Zelensky juga mengungkapkan Rusia telah menembakkan lebih dari 57.000 drone tipe Shahed rancangan Iran ke Ukraina selama perang berlangsung.

Belgia Sita Kapal Tanker Diduga Milik Armada Bayangan Rusia

Belgia menyita sebuah kapal tanker minyak yang diduga bagian dari armada bayangan Rusia.

Armada tersebut disebut digunakan Moskow untuk menghindari sanksi Barat terkait perang di Ukraina.

Operasi penyitaan dilakukan oleh pasukan khusus Belgia yang dibantu helikopter Prancis di Laut Utara pada Sabtu malam.

Jaksa menyatakan kapal tanker bernama Ethera mengibarkan bendera Guinea secara palsu.

Kapal itu diduga sedang menuju Rusia ketika disita di zona ekonomi eksklusif Belgia.

Zelensky Apresiasi Operasi Belgia

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky memuji langkah Belgia menyita kapal tanker tersebut.

Menurutnya kapal itu telah lama berada dalam daftar sanksi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris.

Namun kapal tersebut tetap mengangkut minyak Rusia secara ilegal dengan menggunakan bendera dan dokumen palsu.

Zelensky menyambut tindakan tegas Belgia terhadap sumber pendanaan Moskow.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Prancis yang mendukung operasi penyitaan tersebut.

Serangan Drone Ukraina Lukai Warga Rusia

Tiga orang dilaporkan terluka setelah puing drone jatuh di sebuah rumah di kota Novorossiysk.

Korban terdiri dari dua perempuan dan satu pria.

Kota tersebut berada di pesisir Laut Hitam Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya menembak jatuh 172 drone Ukraina semalam.

Drone tersebut terdeteksi di wilayah Rusia, Laut Hitam, dan Laut Azov.

Sebanyak 67 drone ditembak jatuh di atas Laut Hitam dan 66 di wilayah Krasnodar.

Baca juga: Rusia, Ukraina, AS akan Lanjutkan Pertemuan di Abu Dhabi pada Awal Maret

Wilayah Krasnodar merupakan lokasi pelabuhan dan pangkalan angkatan laut Rusia di Novorossiysk.

Sementara itu pertandingan Russian Premier League antara FC Sochi dan Spartak Moscow ditunda dari Minggu menjadi Senin.

Penundaan dilakukan karena adanya peringatan rudal berulang di kota resor Laut Hitam tersebut.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved