Iran Vs Amerika Memanas
Wamen HAM Mugiyanto Sudah 3 Hari 'Terdampar' di Doha, Ungkap Nasib Ratusan WNI
Mugiyanto beserta delegasi Indonesia lainnya belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Jenewa, Swiss, akibat penutupan ruang udara.
Ringkasan Berita:
- Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM), Mugiyanto, dikabarkan terdampar di Doha, Qatar sejak Minggu (1/3/2026).
- Hingga hari ini, Mugiyanto beserta delegasi Indonesia lainnya belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Jenewa, Swiss.
- Sebab penutupan ruang udara di kawasan Timur Tengah menyusul eskalasi perang besar yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM), Mugiyanto, dikabarkan terdampar di Doha, Qatar sejak Minggu (1/3/2026).
Hingga hari ini, Selasa (3/3/2026), Mugiyanto beserta delegasi Indonesia lainnya belum bisa melanjutkan perjalanan menuju Jenewa, Swiss, akibat penutupan ruang udara di kawasan Timur Tengah menyusul eskalasi perang besar yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Baca juga: Ledakan di Langit Doha Qatar, UEA Hadapi Serangan Rudal dari Iran
Mugiyanto yang sedianya akan menghadiri Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa, melaporkan situasi terkini melalui keterangan video dari Doha.
"Ini adalah hari ketiga kami terdampar di Doha, di Qatar. Sampai hari ketiga, situasinya masih belum kondusif, masih belum ada kepastian kapan konflik ini akan berakhir," ujar Mugiyanto dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Mugiyanto mengatakan, berdasarkan data yang diterima dari Duta Besar Indonesia untuk Qatar, Guruh Langkasamudra, tercatat ada lebih dari 100 warga negara Indonesia (WNI) yang tertahan di Bandara Internasional Hamad, Doha.
Namun, jumlah ini diprediksi jauh lebih besar jika digabungkan dengan negara-negara tetangga yang juga terdampak penutupan wilayah udara.
"Ada juga puluhan bahkan ratusan WNI yang juga terdampar. Ada yang di Uni Emirat Arab (Dubai), Kuwait, Arab Saudi, hingga Bahrain. Kita semua tidak bisa terbang," lanjutnya.
Mugiyanto mengungkapkan kondisi di lapangan cukup mencekam.
Selain persoalan rasa aman, otoritas di beberapa negara setempat telah memberlakukan kebijakan pembatasan aktivitas yang ketat.
"Kami punya persoalan dengan rasa aman. Di tempat kami berada sekarang, kita bahkan tidak boleh keluar rumah," tegasnya.
Terdamparnya Wamen HAM dan ratusan WNI ini merupakan dampak langsung dari meletusnya konflik militer terbuka di kawasan Teluk.
Ketegangan memuncak setelah Israel, dengan dukungan militer Amerika Serikat, meluncurkan serangan udara ke sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta mengancam pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Hal ini memaksa negara-negara seperti Qatar, Yordania, Irak, dan Lebanon menutup ruang udara mereka demi keamanan penerbangan sipil.
Situasi ini memicu kekacauan jadwal penerbangan internasional (flight cancelations) secara global, khususnya bagi maskapai yang memiliki base di Timur Tengah seperti Qatar Airways dan Emirates.