Cara Kerja Jepang Tidak PHK, Tapi Kirim ke Tempat Jauh Seperti ke Indonesia
Bukan PHK, perusahaan Jepang kerap memindahkan karyawan ke lokasi jauh seperti Indonesia agar mereka mundur sendiri. Terungkap di drama Yandoku
Ringkasan Berita:
- Drama Yandoku di Fuji TV menyoroti praktik perusahaan Jepang yang jarang melakukan PHK, melainkan mendorong pensiun dini atau memindahkan karyawan ke lokasi jauh seperti Indonesia
- Tokoh Kotone terancam dikirim ke luar negeri usai konflik internal rumah sakit
- Skema mutasi jauh ini disebut kerap dipakai agar karyawan memilih mundur sendiri.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Memang masih dalam drama Fuji TV kemarin malam jam 21.00 waktu Jepang, namun kenyataan perusahaan Jepang memang tidak melakukan PHK, tetapi dua jalur dilakukan yaitu pensiun dini atau ditransfer ke tempat yang jauh sehingga yang bersangkutan mengundurkan diri.
"Hal ini terlihat pada drama Fuji TV kemarin malam serial Yandoku, kisah dokter yang semula berasal dari geng motor wanita (yanki), otaknya pintar sehingga bisa jadi dokter di Jepang," ungkap analis tenaga kerja Jepang kepada Tribunnews.com Selasa (3/3/2026).
Di episode itu, Kotone (dimainkan oleh Hashimoto Kanna) melakukan operasi darurat atas keputusannya sendiri. Meski demi menyelamatkan pasien, tindakannya dianggap melanggar aturan rumah sakit tempatnya bekerja. Nakata (Kepala Dokter rumah sakit) menjatuhkan sanksi skorsing.
Kotone yang tidak menerima keputusan itu bahkan nekat masuk rumah sakit saat masa skorsing. Ia menantang Nakata dengan mengatakan bahwa tindakannya tidak salah, dan mempertanyakan perubahan sikap Nakata dalam satu tahun terakhir.
Namun Nakata menjawab dingin, “Itu bukan urusanmu,” memperlihatkan jarak yang makin lebar di antara keduanya.
Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi Ogah Sebut Serangan AS ke Iran Melanggar Hukum
Setelah keputusan Nakata, Managing Director Rumah Sakit menuduh Nakata melakukan skorsing karena supaya Kotone tidak dipindahkan ke Indonesia ya?
Nakata pun membantah dengan mengatakan bahwa Kotone sudah sangat keterlaluan kelakuannya di rumah sakit sehingga dia men skors nya.
Saat kasus darurat datang dan hanya Nakata yang bisa melakukan operasi, ia tampak ragu karena sudah satu tahun tidak melakukan operasi.
Namun ketika Kotone menawarkan diri untuk menangani operasi tersebut, Nakata akhirnya mengizinkan.
Operasi berhasil dilakukan, tetapi misteri seputar kondisi kesehatan Nakata dan hubungannya dengan kematian Arisa semakin menguat.
Di akhir episode, Nakata memperingatkan Kotone agar tidak lagi menyelidiki kasus Arisa yang eninggal setelah dioperasi Nakata setahun lalu.
Hal ini mempertegas bahwa ada rahasia besar yang belum terungkap.
Apakah kondisi fisik Nakata, absennya ia dari meja operasi, dan kasus kematian Arisa saling berkaitan? Sepertinya jawabannya ada pada mantan dokter, Odagiri, yang menjadi kunci misteri selanjutnya.
Episode ini bukan hanya menampilkan drama medis, tetapi juga konflik emosional, persahabatan, dan benih-benih romansa, sekaligus meninggalkan tanda tanya besar bagi penonton tentang nasib Nakata di episode-episode mendatang.
"Sedangkan pengusiran Kotone ke Indonesia juga dilakukan perusahaan Jepang lain yang tidak melakukan PHK, tetapi menjauhkan yang bersangkutan dari kantor pusat perusahaan di Jepang," tambah ahli HRD Jepang itu lagi.
Diskusi loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/phkjepang12222.jpg)