Sabtu, 18 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Perang AS-Israel Vs Iran, Ukraina Usul Barter Senjata di Timur Tengah

Di tengah perang AS-Iran, Presiden Ukraina Zelenskyy mengusulkan barter senjata dengan negara-negara di Timur Tengah.

Editor: Nuryanti
Kantor Kepresidenan Ukraina
ZELENSKY - Foto ini diambil pada Rabu (19/3/2025) dari publikasi resmi Kantor Presiden Ukraina, memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb (tidak terlihat dalam foto) di Helsinki pada Rabu (19/3/2025). -- Di tengah perang AS-Iran, Presiden Ukraina Zelenskyy mengusulkan barter senjata dengan negara-negara di Timur Tengah. 
Ringkasan Berita:
  • Zelenskyy menawarkan pertukaran senjata dengan negara di Timur Tengah yang menampung pangkalan militer AS dan menjadi sasaran serangan balasan Iran.
  • Zelenskyy mendukung serangan terhadap Iran karena menuduh Iran mengirim drone Shahed ke Rusia dan digunakan dalam perang Rusia-Ukraina.
  • Iran meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di negara Timur Tengah, setelah AS-Israel menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan pertukaran senjata kepada negara-negara di Timur Tengah di tengah perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada Sabtu lalu, yang dibalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di berbagai negara Timur Tengah.

Sejumlah negara yang menjadi sasaran serangan balasan Iran di antaranya, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain.

Menanggapi perang tersebut, Zelenskyy menjalin komunikasi dengan negara di Timur Tengah dan menawarkan bantuan.

"Kita sedang membangun hubungan dengan negara-negara Timur Tengah," kata Zelenskyy kepada wartawan pada Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa Ukraina memiliki sistem pertahanan udara Patriot yang dapat mencegat rudal Shahed yang diluncurkan Iran.

Presiden tersebut menawarkan untuk menukar sistem Patriot dengan rudal PAK-3 yang dimiliki oleh negara-negara Timur Tengah.

"Kita bisa melakukan hal yang sama. Misalnya, saat ini mereka memiliki sistem pertahanan udara Patriot, rudal PAK-3 - mereka memiliki semua itu. Apakah itu penting? Itu sangat penting bagi mereka, pertama-tama. Tetapi apakah itu melindungi dari ratusan 'syahid'? Anda dan saya tahu bahwa itu tidak melindungi, itu adalah model yang tidak berfungsi," kata Zelensky.

Pada saat yang sama, ia mencatat bahwa Ukraina mengalami kekurangan rudal Patriot.

"Kita kekurangan rudal PAK-3. Jadi, misalnya, jika kita berbicara tentang senjata selama perang yang kita kekurangan, ini adalah rudal PAK-3, dan jika mereka memberikannya kepada kita, kita akan memberi mereka pencegat," ujarnya.

Baca juga: Kemampuan 15 Rudal Balistik dan Jelajah Iran: Ada yang Mampu Jangkau Jarak Setara Jakarta-Aceh

"Ini adalah pertukaran yang setara. Tentu saja, kita akan melakukannya. Dan, yah, jika tim bekerja sekarang, mari kita lihat hasilnya," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Zelenskyy mengatakan Ukraina telah mendapat beberapa tawaran dari negara di Timur Tengah.

"Di tingkat tim Ukraina dan tim Uni Emirat Arab, tim Qatar, dan negara-negara lain, kita akan menentukan bagaimana kita semua bersama-sama dapat memberikan perlindungan yang lebih besar bagi kehidupan," kata Zelenskyy.

"Keahlian Ukraina dalam perlindungan terhadap (drone) 'shahed' saat ini adalah yang terbesar di dunia, dan 'shahed' merupakan tantangan terbesar di kawasan itu. Jelas mengapa ada begitu banyak permohonan kepada Ukraina," jelasnya.

Namun ia menegaskan bantuan kepada para mitranya dapat dilakukan tanpa mengurangi prioritas Ukraina terhadap perang melawan Rusia.

"Tetapi kerja sama apa pun untuk melindungi mitra kita hanya dapat dilakukan tanpa mengurangi potensi kita sendiri di sini, di Ukraina," kata presiden.

Zelenskyy mengatakan Ukraina mendukung negara-negara di Timur Tengah dalam menghadapi serangan Iran karena Kyiv meyakini bahwa Iran membantu Rusia dengan mengirimkan drone Shahed yang dipakai dalam perang mereka.

"Selama beberapa dekade, rezim Iran telah berinvestasi dalam menghancurkan kehidupan tetangganya dan siapa pun yang dapat mereka jangkau. Atas dasar inilah mereka menjadi kaki tangan Rusia dalam perang melawan Ukraina. Setiap 'syahid' di langit Ukraina membuktikan bahwa rezim Iran harus dimintai pertanggungjawaban atas upaya mereka untuk menghancurkan kehidupan dan manusia," kata Zelensky, lapor Suspilne.

Ukraina Tawari Bantuan Ahli Penembak Drone

Sebelumnya, Zelenskyy menawarkan bantuan kepada AS dan mitra Timur Tengah untuk mengirim para ahli penembak drone untuk menangkis serangan Iran.

"Situasi di Timur Tengah menunjukkan betapa sulitnya memberikan perlindungan 100 persen terhadap rudal dan para Syahid. ... Semua orang sekarang melihat bahwa pengalaman kita di bidang pertahanan sebagian besar tidak tergantikan," kata Zelenskyy, Senin (2/3/2026).

"Kyiv siap untuk berbagi pengalaman ini dengan negara-negara yang telah membantu Ukraina melewati musim dingin terburuk selama perang skala penuh," jelasnya.

Pada hari yang sama setelah pernyataan Zelenskyy, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan Inggris akan bekerja sama dengan Ukraina untuk mengirim ahli penembak drone.

Starmer juga mengatakan para ahli Ukraina akan memberikan panduan ahli tentang cara mencegat drone Iran.

"Kami tidak akan bergabung dalam serangan-serangan ini, tetapi kami akan melanjutkan tindakan defensif kami di wilayah tersebut," kata Starmer. 

"Dan kami juga akan membawa para ahli dari Ukraina, bersama dengan para ahli kami sendiri, untuk membantu mitra-mitra Teluk menembak jatuh drone Iran yang menyerang mereka," lanjutnya.

Zelenskyy kemudian menanggapi pernyataan Keir Starmer dengan mengatakan Ukraina terbuka untuk opsi tersebut, namun belum menerima undangan resmi dari Inggris.

"Saya belum menerima permintaan langsung apa pun dari Inggris, atau dari mitra kami mana pun, atau perwakilan dari Timur Tengah. Saya belum berbicara dengan siapa pun tentang hal ini, jadi tidak ada lagi yang perlu dibahas," katanya, Selasa (3/3/2026).

Namun ia menegaskan bahwa Ukraina terbuka untuk berbagi pengalaman dan teknologi dengan mitra-mitranya, lapor Pravda.

Perang AS-Israel VS Iran

AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran setelah perundingan putaran ketiga antara kedua negara di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026, berakhir tanpa kesepakatan jelas terkait perundingan untuk pembatasan program nuklir Iran.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa programnya bertujuan damai.

Sejak tahun lalu, AS telah memperingatkan akan mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam perundingan.

Bahkan, pada tahun sebelumnya, AS sempat menyerang fasilitas nuklir Iran untuk membantu Israel dalam serangan selama 12 hari terhadap negara itu. Tekanan tersebut disebut-sebut untuk memaksa Iran mengikuti keinginan Washington.

Meski hubungan sempat memanas akibat serangan tersebut, AS dan Iran kembali duduk di meja perundingan.

Oman yang menjadi mediator menyebut ada “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan di Jenewa. Namun, kedua pihak tetap gagal menyepakati poin-poin penting sehingga belum tercapai kesepakatan final dan pembahasan lanjutan direncanakan.

Harapan tercapainya kesepakatan pupus setelah AS dan Israel tiba-tiba kembali menyerang Iran pada Sabtu lalu. Serangan itu membuat Iran memutuskan mundur dari proses perundingan.

Sebelumnya, pada 2015, Iran dan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, pernah menyepakati perjanjian nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membatasi program nuklirnya agar tidak berkembang menjadi senjata, sebagai imbalan atas pencabutan sebagian sanksi internasional.

Namun pada 2018, Amerika Serikat keluar dari perjanjian tersebut. Keputusan itu kembali memicu ketegangan dan membuat upaya negosiasi selanjutnya kerap menemui jalan buntu.

Washington terus menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium karena dikhawatirkan bisa digunakan untuk membuat senjata nuklir, tuduhan yang dibantah Iran.

Sementara itu, Teheran menilai tuntutan tersebut melanggar hak kedaulatannya dan bersikeras bahwa pengayaan uranium tetap sah selama diawasi lembaga internasional.

AS pun menginginkan pembatasan yang lebih ketat agar program nuklir Iran tidak bisa disalahgunakan untuk kepentingan militer.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved