Kamis, 7 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Melesetnya Kalkulasi Intelijen Barat: Mengapa Stok Rudal Iran Tak Pernah Habis?

Alih-alih melemah, intensitas serangan Teheran justru mencapai puncaknya sesaat sebelum gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan.

Tayang:
Tribunnews.com/(Tangkap layar Al Mayadeen)
PESAWAT AS HANCUR - Gambar Pesawat AWACS E-3 Sentry buatan AS yang hancur total dirudal Iran. Bagaimana mungkin Iran masih memiliki stok yang begitu besar setelah gempuran balasan yang masif dari pihak Barat? 

Ringkasan Berita:
  • Selama lima minggu, kawasan Timur Tengah dilanda intensitas serangan tinggi berupa ratusan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke arah Israel, negara-negara Teluk, dan pangkalan militer AS. 
  • Serangan justru mencapai puncaknya menjelang gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April.
  • Data dari Dmitri Alperovitch menunjukkan bahwa pada puncak konflik 2 Maret, Iran meluncurkan rata-rata 215 rudal dan 567 drone per hari.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama lima minggu penuh, langit Timur Tengah diwarnai oleh desing ratusan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke arah Israel, negara-negara Teluk, dan pangkalan militer AS. 

Alih-alih melemah, intensitas serangan Teheran justru mencapai puncaknya sesaat sebelum gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan berlaku pada 8 April lalu.

Fenomena ini menyisakan pertanyaan besar bagi para analis militer: Bagaimana mungkin Iran masih memiliki stok yang begitu besar setelah gempuran balasan yang masif dari pihak Barat?

Masalah Matematika Intelijen Barat

Data yang dihimpun oleh Dmitri Alperovitch, pendiri Silverado Policy Accelerator, menunjukkan bahwa pada puncak konflik (2 Maret), rata-rata peluncuran harian mencapai 215 rudal dan 567 drone. Jika ditotal selama 38 hari perang, Iran sedikitnya telah menembakkan 1.900 rudal balistik dan 5.200 drone.

Angka ini menciptakan "anomali matematika" bagi intelijen Barat. 

Sebelum perang, intelijen Israel memperkirakan stok rudal Iran hanya berkisar di angka 2.500 unit—angka yang diamini oleh mayoritas analis Barat.

"Ada ketidaksesuaian besar antara klaim intelijen dengan realitas di lapangan," ujar Dmitri Alperovitch dalam keterangannya yang dikutip situs Telepolis.

"Jika kita menjumlahkan rudal yang sudah ditembakkan dengan klaim AS bahwa mereka telah menghancurkan atau melumpuhkan dua pertiga stok Iran, maka totalnya mencapai 3.560 rudal. Itu 40 persen lebih banyak dari estimasi awal stok mereka. Secara teori, Iran seharusnya sudah kehabisan rudal beberapa minggu lalu, tapi kenyataannya mereka justru meningkatkan intensitas serangan."

Kapasitas Produksi yang Terlupakan

Kesalahan estimasi ini diduga kuat berasal dari ketidaktahuan Barat atas skala industri militer Iran yang telah dibangun selama empat dekade. 

Carl Parkin dari Center for Nonproliferation Studies mengungkapkan bahwa kapasitas produksi Iran jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Berdasarkan analisis citra satelit terbaru pada September 2025, Parkin mengidentifikasi adanya 44 hingga 56 lubang pengecoran (casting pits) untuk bahan bakar padat rudal di tiga lokasi utama: Shahroud, Khojir, und Parchin.

"Washington kemungkinan besar melewatkan lini produksi terbaru di Shahroud yang baru rampung pada 2024," ungkap Carl Parkin. 

"Dengan infrastruktur tersebut, Iran mampu memproduksi antara 136 hingga 217 rudal bahan bakar padat setiap bulan jika beroperasi penuh. Ini adalah kapasitas industri tingkat tinggi, bukan sekadar perakitan skala kecil."

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved