Rabu, 6 Mei 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Gara-gara Konflik Iran, Dialog Damai Ukraina-Rusia Macet, Zelensky Ngaku Kecewa

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengaku kecewa, karena dialog damai dengan Rusia macet gara-gara konflik Iran.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengaku kecewa ketika pembicaraan trilateral antara Ukraina, Rusia, dan AS harus dihentikan.
  • Penghentian pembicaraan ini diakibatkan adanya konflik senjata antara AS-Israel dengan Iran.
  • Delegasi Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada pekan ini.
  • Namun, rentetan serangan rudal dan drone yang melibatkan Iran dan Israel membuat wilayah Teluk menjadi zona berisiko tinggi.

TRIBUNNEWS.COM - Upaya menciptakan perdamaian di Ukraina kembali menemui jalan buntu.

Kali ini disebabkan dengan adanya konflik senjata antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Akibatnya, pembicaraan trilateral antara Ukraina, Rusia, dan AS harus dihentikan.

"Kita harus realistis. Fokus mitra internasional kita sekarang sedang terbagi karena krisis di Timur Tengah," ujar Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengutip Anadolu.

Delegasi Ukraina dan Rusia dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada pekan ini.

Namun, rentetan serangan rudal dan drone yang melibatkan Iran dan Israel membuat wilayah Teluk menjadi zona berisiko tinggi.

Bahkan, ruang udara di beberapa negara kawasan tersebut sempat ditutup, membuat logistik pertemuan diplomatik menjadi mustahil.

Zelensky tak menampik bahwa Amerika Serikat kini memiliki "pekerjaan rumah" yang lebih berat.

Sebagai penengah dalam konflik Ukraina, AS kini juga harus sibuk meredam potensi perang besar di Timur Tengah.

Kondisi ini membuat tekanan diplomatik terhadap Moskow sedikit melonggar.

Meski mengaku kecewa dengan penundaan ini, Zelensky menegaskan Ukraina tidak akan mundur dari meja perundingan.

Baca juga: Perang AS-Israel Vs Iran, Ukraina Usul Barter Senjata di Timur Tengah

Ia berharap situasi di Iran segera mereda agar dialog trilateral bisa kembali digelar.

Di sisi lain, Kremlin melalui juru bicaranya, Dmitry Peskov, sebelumnya juga sempat melontarkan nada pesimis.

Menurut Moskow, perundingan di Abu Dhabi "hampir mustahil" terlaksana di tengah hujan rudal yang menghiasi langit Timur Tengah.

Kini, nasib perdamaian Ukraina bergantung pada seberapa cepat ketegangan di belahan dunia lain mereda.

Selama Timur Tengah masih membara, tampaknya Kyiv dan Moskow harus menunggu lebih lama untuk duduk bersama di meja hijau.

Dukungan Zelensky untuk Timur Tengah

Zelensky resmi memerintahkan jajarannya untuk menyusun rencana bantuan militer bagi negara-negara di kawasan Teluk.

Langkah ini diambil menyusul meningkatnya serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran di wilayah Timur Tengah.

Zelensky menegaskan bahwa Ukraina memiliki keahlian khusus dalam menangani teknologi drone Iran, terutama tipe Shahed.

Sebagaimana diketahui, drone jenis ini merupakan senjata utama yang digunakan Rusia untuk menggempur infrastruktur Ukraina dalam dua tahun terakhir.

"Militer kami memiliki kemampuan yang mumpuni. Ahli-ahli dari Ukraina akan terjun langsung ke lokasi, dan saat ini tim kami tengah merundingkan teknis kerja samanya," ujar Zelensky, mengutip Kyiv Independent.

Baca juga: Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar ke Ukraina pada Musim Semi

Zelensky mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Yordania, dan Bahrain.

Ia juga menjadwalkan pembicaraan serupa dengan pihak Kuwait dalam waktu dekat.

Menurut Zelensky, negara-negara tersebut menghadapi ancaman yang identik dengan apa yang dirasakan warga Ukraina setiap hari.

"Mereka menghadapi ancaman serius dari drone serang Iran. Ini adalah 'Shahed' yang sama dengan yang menghancurkan kota-kota dan desa-desa kami," tegasnya.

Guna merealisasikan rencana ini, Zelensky telah memberikan instruksi khusus kepada Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, serta lembaga intelijen dan komando militer Ukraina.

Mereka diminta segera menyerahkan proposal bantuan yang efektif tanpa mengurangi kekuatan pertahanan dalam negeri Ukraina sendiri.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri memuncak sejak akhir Februari lalu setelah adanya serangan terkoordinasi dari Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur militer Iran.

Sebagai balasan, Teheran yang merupakan sekutu dekat Rusia mulai meluncurkan serangan balasan ke berbagai titik di negara-negara Teluk.

Kehadiran ahli Ukraina di Timur Tengah diharapkan dapat membantu sistem pertahanan udara negara-negara sekutu dalam mencegat serangan drone dan rudal balistik yang kian intensif.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved