Sabtu, 11 April 2026

Perangkat Lunak Mata-mata AS Jatuh ke Tangan Hacker, Data Jutaan Pengguna iPhone Terancam

Jika ponsel menggunakan versi iOS yang lebih lama, proses peretasan dapat terjadi dalam hitungan detik, tanpa interaksi tambahan dari pengguna.

HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
PERETASAN DATA - Ilustrasi peretasan data melalui telepon seluler. Laporan terbaru menyebut, perangkat lunak yang tadinya digunakan Amerika Serikat (AS) untuk tindakan mata-mata, kini jatuh ke tangan peretas yang mengancam keamanan data jutaan pengguna iPhone. 

Perangkat Lunak Mata-mata AS Jatuh ke Tangan Hacker, Data Jutaan Pengguna iPhone Terancam

TRIBUNNEWS.COM - Dalam sebuah laporan perkembangan yang mengkhawatirkan bagi dunia keamanan siber, para ahli dan pakar teknis mengungkapkan 'kebocoran' sebuah alat peretasan canggih.

Alat peretas ini diyakini awalnya digunakan dalam operasi intelijen Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya jatuh ke tangan peretas internet.

"Dari apa yang tadinya menjadi alat mata-mata, alat peretas itu berubah dari senjata rahasia pemerintah menjadi ancaman digital yang memengaruhi jutaan pengguna iPhone di seluruh dunia," tulis laporan Khbrni, dikutip Jumat (6/3/2026). 

Baca juga: Situs Terpercaya Ini Disalahgunakan Hacker untuk Mencuri Data Pengguna

Menurut peringatan yang dikeluarkan oleh para peneliti keamanan siber, alat yang dikenal sebagai "Coruna" adalah salah satu alat peretasan paling canggih.

Pola kerjanya mengandalkan sistem kerentanan keamanan yang saling terhubung dan bekerja bersama untuk meretas sistem telepon tanpa pengguna menyadari aktivitas mencurigakan apa pun.

Menurut analisis teknis, serangan ini terutama menargetkan peramban Safari,

"Peretasan dapat dimulai segera setelah pengguna mengklik tautan berbahaya. Setelah halaman terbuka, kode berbahaya tersebut secara diam-diam mulai memindai perangkat untuk menentukan versi sistem operasi," tambah laporan itu.

Jika telepon seluler (ponsel) menggunakan versi iOS yang lebih lama, proses peretasan dapat terjadi dalam hitungan detik, tanpa interaksi tambahan dari pengguna.

"Investigasi teknis menunjukkan kalau  alat ini awalnya tidak dirancang untuk tujuan kriminal, tetapi merupakan bagian dari alat canggih yang digunakan dalam operasi spionase pemerintah yang sangat sensitif," tambah laporan itu.

Namun pada awal tahun 2025, para ahli keamanan siber mendeteksi kebocorannya ke internet, setelah itu virus tersebut mulai menyebar dengan cepat di antara kelompok-kelompok peretas internasional.

Sejak saat itu, telah ada indikasi penggunaannya dalam operasi spionase digital yang meluas, termasuk mengeksploitasi situs web yang diretas untuk menargetkan pengunjung secara massal, dalam pergeseran berbahaya dari serangan yang ditargetkan ke serangan acak yang dapat memengaruhi pengguna mana pun.

Apa yang Bisa Dilakukan Peretas dengan Ponsel Anda?

Jika peretasan berhasil, penyerang akan mendapatkan hak akses yang tinggi ke dalam sistem ponsel, memberi mereka akses ke data sensitif seperti:

  • Pesan
  • Foto
  • Catatan pribadi
  • Informasi rekening keuangan
  • Data dompet digital serta mata uang kripto
  • Lokasi geografis perangkat dapat diakses langsung.

Mereka juga dapat mengunduh alat tambahan ke ponsel untuk meningkatkan kendali atasnya atau menggunakannya nanti dalam operasi mata-mata lainnya.

Rekomendasi Penanggulangan Peretasan

Terlepas dari bahaya yang ditimbulkan oleh alat ini, para ahli menegaskan bahwa kelemahan utamanya terletak pada ketergantungannya pada kerentanan yang telah diperbaiki dalam versi iOS terbaru.

Karena itu, para ahli merekomendasikan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang sederhana namun penting, terutama:

  • Segera perbarui sistem operasi Anda ke versi terbaru yang tersedia.
  • Hindari membuka tautan yang tidak dikenal atau mencurigakan.
  • Aktifkan Mode Perlindungan Tingkat Lanjut (Mode Penguncian) jika ada kekhawatiran keamanan.

Pakar keamanan siber percaya bahwa kebocoran alat mata-mata canggih dari lingkungan intelijen ke internet dapat menjadi salah satu tantangan digital paling serius di tahun-tahun mendatang.

"Karena alat-alat ini, yang awalnya dirancang untuk operasi spesifik, dapat dengan mudah berubah menjadi senjata digital acak yang mengancam pengguna di seluruh dunia," tutup laporan tersebut.

 

 

(oln/khbrn/*)

 

 
 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved