Jumat, 17 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Waspada Tipu Daya AS di Meja Perundingan, Trump dan Motjaba Adu Urat Saraf Soal Hormuz

Jika Washington berniat menjadikan negosiasi ini sebagai "operasi tipu daya", Iran siap menempuh jalur lain untuk mempertahankan hak nasionalnya.

|
Editor: Willem Jonata
Instagram Abbas Araghchi/@araghchi
PERUNDINGAN NUKLIR IRAN - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi saat upacara peringatan untuk mengenang Saba Babaei (Kuniko Yamamura), ibu dari martir Mohammad Babaei di Taman Kota Teheran, Rabu, 12 Juli 2022. AS dan Iran akan melanjutkan putaran kedua perundingan nuklir pada Sabtu, 19 April 2025 di Roma, Italia. (Foto: Instagram Abbas Araghchi/@araghchi) 

Ringkasan Berita:
  • Iran dan AS telah mengirimkan delegasi tingkat tinggi. Namun, kedua kubu menyimpang kecurigaan dan ketidakpercayaan
  • Teheran datang ke meja perundingan dengan niat baik untuk mencapai kesepakatan. Namun, Pengalaman Iran bernegosiasi dengan AS selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen
  • Perundingan bakal alot. Salah satu titik krusial yang diyakini bakal menyandera perundingan ini adalah perbedaan pandangan mengenai Selat Hormuz

 

TRIBUNNEWS.COM - Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, diprediksi berjalan sangat alot.

Meski kedua belah pihak telah mengirimkan delegasi tingkat tinggi, kubu masing-masing menyimpan kecurigaan dan ketidakpercayaan. Khususnya Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran datang ke meja perundingan dengan niat baik dan kesiapan untuk mencapai kesepakatan.

Baca juga: Momen Emosional Araghchi di Pesawat Menuju Islamabad, Tatap Foto Anak Minab dan Tas Kecil Mereka

Namun, ia memberikan catatan tebal mengenai rekam jejak diplomasi Amerika yang dianggapnya sering kali berakhir dengan pengkhianatan.

"Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen. Dua kali dalam kurang dari setahun, di tengah proses negosiasi, mereka justru menyerang kami," ujar Ghalibaf setibanya di Islamabad, seperti dikutip NBC News.

"Kami punya niat baik, tapi kami sama sekali tidak punya kepercayaan," katanya lagii.

Ia memperingatkan, jika Washington berniat menjadikan negosiasi ini hanya sebagai "operasi tipu daya", Iran siap menempuh jalur lain untuk mempertahankan hak nasionalnya.

Salah satu titik krusial yang diyakini bakal menyandera perundingan ini adalah perbedaan pandangan yang tajam mengenai Selat Hormuz.

Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia ini menjadi ajang "adu urat saraf" antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Dalam sebuah pesan yang menandai 40 hari wafatnya martir Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru.

Iran menuntut ganti rugi penuh atas kerusakan perang, biaya pemulihan korban luka, hingga uang darah (diyat) bagi para martir.

"Kami tidak mencari perang, tapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami. Seluruh Front Perlawanan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan," tegas Mojtaba.

Di sisi lain, Donald Trump menunjukkan sikap keras kepala yang serupa.

Sebelum menaiki Air Force One, Trump menyatakan tidak akan membiarkan Iran menarik biaya masuk di Selat Hormuz.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved