Iran Vs Amerika Memanas
Balas Dendam Nyawa Orang Tercinta, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Lebih Keras ke AS-Israel
Mojtaba Khamenei resmi menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya tewas, analis prediksi sikap lebih keras ke AS–Israel
Dalam analisis kebijakan luar negeri, keputusan menunjuk putra pemimpin yang tewas dalam serangan AS–Israel dipandang sebagai pesan bahwa Teheran tidak akan mundur menghadapi tekanan militer maupun politik dari Washington dan Tel Aviv.
Langkah tersebut disebut sebagai bentuk “defiance” atau perlawanan strategis terhadap Barat, sekaligus menunjukkan bahwa elite Iran memilih mempertahankan garis keras revolusioner dibanding membuka ruang kompromi.
Prediksi Kepemimpinan Lebih Keras
Para pengamat Timur Tengah memperkirakan kepemimpinan Mojtaba berpotensi lebih keras dibanding pendahulunya.
Beberapa faktor yang mendorong prediksi tersebut antara lain:
-Latar belakang hubungan kuat dengan IRGC, yang dikenal sebagai kelompok garis keras dalam politik Iran.
-Situasi perang terbuka dengan Israel dan AS, yang membuat kompromi diplomatik semakin kecil.
-Faktor pribadi, karena keluarganya menjadi korban dalam serangan militer Barat.
Analis memperkirakan Mojtaba akan menekankan strategi “ketahanan revolusi”—yakni memperkuat militer, memperluas jaringan proksi regional, dan menindak keras oposisi domestik, dikutip dari Reuters.
Beberapa pakar politik Timur Tengah juga memperingatkan bahwa kepemimpinan Mojtaba bisa diiringi peningkatan represi di dalam negeri.
Hal itu berkaitan dengan reputasinya yang dianggap dekat dengan aparat keamanan yang sebelumnya menekan gerakan protes di Iran.
Di sisi lain, konflik regional juga diperkirakan semakin memanas karena kepemimpinan baru Iran muncul di tengah perang terbuka dengan Israel dan ketegangan langsung dengan Amerika Serikat.
Dengan latar belakang perang, kehilangan anggota keluarga, serta dukungan kuat dari aparat militer, kepemimpinan Mojtaba Khamenei dinilai akan menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Republik Islam Iran. (*)