Konflik Rusia Vs Ukraina
Zelenskyy: Ukraina Minta Iran Tak Bantu Rusia Sejak 2022
Zelenskyy mengatakan Iran telah membantu Rusia sejak 2022 dengan mengirim drone Shahed, yang kemudian dikembangkan oleh Rusia.
Ringkasan Berita:
- Zelenskyy menyebut Iran melanggar janji dengan tetap memasok drone Shahed ke Rusia sejak 2022.
- Iran juga membantu pembangunan pabrik dan pelatihan operator, sementara Rusia mengembangkan teknologi drone tersebut.
- Ukraina kini siap berbagi keahlian pertahanan udara dan menyoroti lemahnya sanksi terhadap Rusia.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Ukraina telah memperingatkan Iran pada tahun 2022, ketika Iran menjual batch pertama drone serang Shahed kepada Rusia.
Saat itu Ukraina menghubungi Iran dan meminta agar Iran tidak memasok senjata ke Rusia, dan Iran menyatakan tidak akan ada pengiriman lebih lanjut.
"Sementara itu, rezim Iran memasok Rusia dengan gelombang pertama 'Shahed' – 1.000 drone. Kami menghubungi pihak Iran di tingkat dinas intelijen. Kami meminta mereka untuk tidak memasok senjata ke Rusia, karena jika 'Shahed' yang dipasok itu membunuh warga sipil kami, Iran akan menjadi sekutu Rusia, begitu kata kami kepada mereka," kata Zelenskyy di platform X, Selasa (17/3/2026), merujuk pada wawancaranya dengan i24NEWS dan The Jerusalem Post.
"Mereka (Iran) menjawab, 'Tidak, tidak, kami bukan sekutu dalam hal ini. Kami menjual satu gelombang 'Shahed' ini kepada Rusia. Jumlahnya akan 1.200 atau 1.300 drone, dan itu saja. Tidak ada pasokan lagi.' Tapi mereka berbohong," lanjutnya.
Zelenskyy menegaskan kembali Iran tidak hanya menyediakan ribuan drone Shahed kepada Rusia, tetapi juga menyerahkan lisensi untuk produksinya.
"Mereka membantu Rusia membangun dua pabrik yang memproduksi drone ini, dan awalnya mereka mengoperasikan drone dan melatih orang-orang Rusia," ujar Zelenskyy.
Pada 12 Maret, Zelenskyy mengatakan drone Shahed pertama yang digunakan Rusia untuk menyerang Ukraina diluncurkan oleh operator Iran, karena personel Rusia masih perlu dilatih.
Pada 10 Maret, Zelenskyy mengatakan para ahli Ukraina di bidang keamanan dan penanggulangan UAV akan melakukan perjalanan ke Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Sebelumnya, pada 3 Maret, Presiden Ukraina juga mengatakan negaranya menghadapi kekurangan rudal PAC-3 untuk sistem pertahanan udara Patriot dan siap untuk menukarkan drone pencegatnya dengan rudal tersebut.
Baca juga: Ukraina Minta Uang dan Teknologi Sebagai Imbalan Bantu Negara Timur Tengah Lawan Drone Iran
Zelenskyy: Rusia Bantu Iran Kembangkan Drone Shahed
Dalam wawancara dengan The Jerusalem Post, Zelensky mengatakan Rusia membantu Iran meningkatkan drone Shahed setelah pertama kali menggunakan Ukraina sebagai tempat uji coba senjata tersebut.
“Kami memiliki pengalaman mengerikan dengan drone-drone ini,” katanya.
“Kami menghadapi 350 atau 500 drone Iran, Shahed, setiap hari, siang dan malam," lanjutnya.
Zelenskyy mengatakan drone Shahed saat ini mungkin telah dikembangkan dari versi awalnya.
“Ukraina pada akhirnya menjadi semacam tempat percobaan untuk drone-drone ini,” kata Zelensky.
“Anda bahkan tidak bisa membandingkan kelas pertama Shahed, yang ada di awal perang, dengan Shahed saat ini," ujarnya.
Zelenskyy percaya kemitraan Rusia dan Iran berkembang setelah Iran memasok drone ke Rusia, kemudian Rusia membantu Iran mengembangkan drone tersebut sebagai imbalannya.
Menurut laporan intelijen Ukraina, Iran tidak hanya mengirim drone, namun juga membantu Rusia memproduksi senjata dalam negeri, termasuk memberikan pengetahuan manufaktur.
“Mereka memberikan izin produksi,” katanya, seraya melanjutkan, “Dan mereka menciptakan serta membantu mereka membangun dua pabrik.”
Ukraina yakin Rusia sedang mengurangi produksi rudal sambil meningkatkan produksi drone secara drastis, termasuk drone dengan sistem yang lebih murah dan dapat dirancang untuk penyebaran massal.
“Rusia mulai bergerak. Mereka beralih dari jumlah rudal. Mereka mulai mengurangi produksi rudal dan meningkatkan jumlah, volume besar, drone yang berbeda, bukan hanya Shahed, sekarang drone lain, drone yang lebih murah,” kata Zelenskyy.
Zelenskyy yakin Rusia telah mengembangkan drone Shahed Iran, yang buktinya terlihat pada drone Shahed yang ditembak jatuh di salah satu negara Timur Tengah.
“Kami melihat beberapa detail dari salah satu Shahed, yang dihancurkan di salah satu negara Timur Tengah,” katanya.
“Kami melihat beberapa detail. Itu detail buatan Rusia. Kami mengetahuinya karena Iran tidak memproduksinya," lanjutnya.
Presiden tersebut menyimpulkan bahwa Rusia dianggap membantu Iran meningkatkan kemampuan drone yang digunakan di Timur Tengah.
Ukraina Siap Bantu Menangkis Serangan Iran
Presiden Ukraina berulang kali menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu negara-negara di Timur Tengah yang wilayahnya diserang Iran.
Negara-negara tersebut menampung pangkalan militer Amerika Serikat (AS), negara yang bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Iran membalas serangan AS dan Israel dengan menargetkan pangkalan militer keduanya di Timur Tengah.
“Kami siap. Saya sudah mengatakan bahwa kami akan mengirim tiga kelompok ahli militer kami," kata Zelenskyy.
“Sekarang, ada tiga kelompok di sana. Sekarang terserah negara-negara tersebut bagaimana melibatkan keahlian kami," ungkapnya.
Dia menekankan peran Ukraina murni bersifat defensif.
“Mereka meminta keahlian kami tentang pertahanan udara,” katanya, seraya menambahkan, “Pertahanan udara, itu bukan serangan.”
Serangan AS-Israel terhadap Iran mendorong Iran memblokade Selat Hormuz, jalur perdagangan energi global, yang berdampak pada meroketnya harga minyak dan ancaman krisis energi.
AS melonggarkan sanksi terhadap Rusia selama 30 hari, dengan mengizinkan negara atau perusahaan di berbagai negara untuk membeli minyak Rusia yang masih berada di kapal laut.
Menurut Zelenskyy, dampak serangan terhadap Iran secara tidak langsung menunjukkan betapa lemahnya sanksi terhadap Rusia.
“Tidak semua orang menjatuhkan sanksi kepada Rusia, tidak menghentikan keuntungan minyak dan gas dari penjualan energi,” kata Zelenskyy.
Selain itu, serangan AS-Israel terhadap Iran membuat AS menunda perundingan trilateral antara AS, Rusia, dan Ukraina.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Z3L3NSKY-4523523.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.