Iran Vs Amerika Memanas
Selat Hormuz Memanas: Ini Daftar Negara yang Diizinkan Melintas, Indonesia Termasuk?
Selat Hormuz memanas! Iran batasi kapal asing, harga minyak melonjak. Sejumlah negara diizinkan melintas, tapi bagaimana nasib Indonesia?
Ringkasan Berita:
- Ketegangan di Selat Hormuz meningkat, Iran membatasi kapal dari AS dan sekutunya, memicu lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel.
- Iran memberi izin terbatas kepada negara seperti Pakistan, India, dan Turki, sementara China, Prancis, dan Italia masih bernegosiasi.
- Posisi Indonesia belum jelas; dua kapal Pertamina disebut mendapat izin, namun belum ada konfirmasi resmi, dan pemerintah masih melobi Iran.
TRIBUNNEWS.COM – Situasi di Selat Hormuz kian memanas seiring meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Jalur vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu kini berada di bawah pengawasan ketat Teheran, dengan kebijakan selektif terhadap kapal-kapal yang diizinkan melintas.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, namun tidak bagi kapal-kapal yang berasal dari Amerika Serikat dan sekutunya.
Kebijakan ini langsung berdampak besar terhadap stabilitas energi global, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan minyak dunia.
Akibatnya harga minyak mentah Brent melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel, naik signifikan dari kisaran 65 dolar AS sebelum konflik pecah.
Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi energi dunia.
Negara yang Diizinkan Melintas
Meski situasi memanas, Iran tetap memberikan izin terbatas kepada sejumlah negara untuk melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini dilakukan melalui pendekatan diplomasi dan negosiasi langsung.
Mengutip dari Al Jazeera berikut daftar negara yang diizinkan melintas di Selat Hormuz, jalur penting dunia.
1. Pakistan
Kapal tanker berbendera Pakistan dilaporkan berhasil keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz, menandakan adanya jalur aman terbatas bagi negara tersebut.
Izin bagi kapal tanker berbendera Pakistan diduga berkaitan dengan hubungan bilateral yang relatif stabil dengan Iran.
Baca juga: PBB Kecam Serangan Iran ke Negara Teluk, Pengamat: Sangat Superfisial
Kedua negara memiliki kedekatan geografis serta kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan perbatasan.
Selain itu, Pakistan tidak secara langsung terlibat dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat maupun sekutunya, sehingga dianggap sebagai pihak netral.
Faktor ini membuka peluang bagi kapal-kapalnya untuk mendapatkan jalur aman terbatas demi menjaga arus perdagangan energi tetap berjalan.
2. India
Melalui pernyataan duta besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, disebutkan bahwa beberapa kapal India mendapat pengecualian khusus.
Dua kapal tanker LPG bahkan dilaporkan telah melintas dengan aman menuju India.
Pengecualian terhadap kapal-kapal India tidak lepas dari kepentingan ekonomi yang besar antara kedua negara. India merupakan salah satu importir energi utama dari kawasan Timur Tengah, termasuk dari Iran di masa lalu.
3. Turki
Satu kapal milik Turki juga berhasil melintas setelah mendapatkan izin langsung dari otoritas Iran. Hal ini dikonfirmasi oleh Menteri Transportasi Turki, Abdulkadir Uraloglu.
Hal ini menandakan adanya jalur diplomasi aktif yang memungkinkan Turki tetap menjaga kepentingan logistik dan energinya tanpa terjebak dalam eskalasi konflik.
Izin diberikan bukan tanpa alasan, pasalnya Turki dikenal memiliki hubungan yang cukup seimbang dengan Iran, sekaligus tidak sepenuhnya berpihak dalam konflik yang sedang berlangsung.
Negara yang Masih Bernegosiasi
Sementara itu sejumlah negara diketahui masih melakukan negosiasi intensif dengan Iran untuk mendapatkan jalur aman melintasi Selat Hormuz di tengah situasi yang belum stabil.
Upaya ini dilakukan guna memastikan kelancaran distribusi energi dan perdagangan di tengah ancaman pembatasan pelayaran. Berikut daftarnya :
1. China
China menjadi salah satu negara yang paling aktif melakukan pendekatan diplomatik. Ketergantungan China terhadap jalur ini sangat tinggi, dengan sekitar 45 persen impor minyaknya melewati Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat Beijing berkepentingan besar untuk memastikan kapal-kapal pengangkut minyak dan gas tetap dapat melintas dengan aman.
Negosiasi yang dilakukan mencerminkan upaya China menjaga stabilitas pasokan energi domestiknya di tengah gejolak geopolitik.
2. Prancis dan Italia
Sementara itu, negara Eropa seperti Prancis dan Italia juga dilaporkan mulai membuka jalur komunikasi dengan Iran.
Kedua negara tersebut berupaya mengamankan izin pelayaran bagi kapal-kapal mereka melalui pendekatan diplomatik.
Langkah ini diambil untuk menghindari gangguan rantai pasok energi dan perdagangan yang dapat berdampak langsung pada perekonomian mereka.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di tengah kebijakan ketat Iran dalam menyeleksi kapal yang melintas di Selat Hormuz, posisi Indonesia hingga kini masih belum jelas.
Belakangan informasi yang beredar menyebutkan bahwa dua kapal pengangkut energi milik Pertamina telah memperoleh izin untuk melintas.
Namun, kabar tersebut tidak disertai pernyataan resmi. Pemerintah belum mengkonfirmasi apakah Indonesia termasuk dalam daftar negara yang secara resmi diizinkan melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Sejauh ini Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI tengah melobi pihak Iran demi memastikan keselamatan dua kapal tanker Pertamina yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro dari Selat Hormuz.
(Tribunnews.com / Namira)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.