Iran Vs Amerika Memanas
Blak-blakan Tolak Perang Iran, Intelijen AS Pilih Angkat Kaki dari Pemerintahan Trump
Intelijen AS mundur! Tolak perang Iran, bongkar dugaan tekanan Israel dan lobi. Gedung Putih membantah, konflik internal pemerintahan pun mencuat.
Ringkasan Berita:
- Joe Kent mundur dari pemerintahan Donald Trump karena menolak perang dengan Iran yang dinilai tidak mengancam langsung AS.
- Kent menuding keputusan perang dipengaruhi tekanan Israel dan lobi domestik, namun Gedung Putih membantah dan tetap menyebut Iran sebagai ancaman nyata.
- Pengunduran diri ini memicu polemik dan menunjukkan retaknya int
TRIBUNNEWS.COM - Keputusan mengejutkan datang dari lingkaran dalam pemerintahan Donald Trump.
Pejabat keamanan senior yang menjabat sebagai Direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional, Joe Kent, mengumumkan bahwa pihaknya resmi mengundurkan diri setelah secara terbuka menolak kelanjutan perang melawan Iran.
Pengunduran diri ini langsung menjadi sorotan karena Kent merupakan pejabat paling senior yang secara terang-terangan mengkritik kebijakan militer AS dalam konflik tersebut.
Joe Kent dikenal sebagai veteran pasukan khusus dan mantan perwira CIA dengan pengalaman panjang di medan perang, termasuk di Irak. Ia juga kehilangan istrinya dalam serangan bom di Suriah pada 2019.
Dalam cuitannya di platform X yang dipublikasi BBC International, Kent menyampaikan alasan utama pengunduran dirinya. Ia menilai bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat.
Kent bahkan menuding bahwa keputusan perang dipengaruhi oleh tekanan eksternal, termasuk dari Israel dan kelompok lobi di dalam negeri AS.
Ia menyebut adanya “ruang gema” informasi yang menurutnya menyesatkan Presiden hingga percaya bahwa Iran merupakan ancaman nyata.
Lebih jauh, Kent menegaskan sikap pribadinya sebagai veteran militer. Ia mengaku tidak dapat mendukung pengiriman pasukan ke perang yang dinilai tidak memberikan manfaat langsung bagi rakyat Amerika.
Alasan inilah yang mendorong Kent mengakhiri perang karena tidak ingin generasi berikutnya mengalami nasib serupa dalam konflik yang dianggap tidak perlu.
Gedung Putih Membantah Keras
Pernyataan Kent langsung dibantah oleh Gedung Putih. Pemerintahan Donald Trump menegaskan bahwa keputusan menyerang Iran didasarkan pada bukti kuat bahwa Teheran berencana menyerang lebih dulu.
Baca juga: Iran Serang 9 Negara dalam Semalam, Fasilitas LNG Qatar hancur, Krisis Energi Global di Ambang Mata
Trump bahkan menilai Kent sebagai sosok “baik”, namun lemah dalam isu keamanan. Ia juga menyebut pengunduran diri tersebut sebagai keputusan yang tepat.
Juru bicara Gedung Putih menambahkan bahwa tudingan Kent tidak berdasar dan dianggap merendahkan keputusan presiden sebagai panglima tertinggi.
Sinyal Retaknya Soliditas Pemerintahan
Surat Kent juga memicu polemik di dalam negeri AS. Anti-Defamation League (ADL) menilai isi surat tersebut mengandung stereotip antisemitisme, terutama terkait tudingan terhadap Israel dan media.
Sejumlah kelompok pro-Israel turut mengkritik keras pernyataan Kent, menyebutnya berbahaya dan tidak berdasar.
Namun disisi lain, beberapa tokoh politik justru membela Kent. Ia bahkan disebut sebagai “pahlawan” oleh sebagian kalangan yang menolak keterlibatan AS dalam perang luar negeri.