Selasa, 5 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pasca-Kematian Ali Khamenei, Ulama Senior Iran Serukan Jihad Lawan AS dan Israel

Ulama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi menyerukan komando jihad global untuk melawan AS dan Israel.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
  • Pasca kematian Ali Khamenei, ulama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi menyerukan komando jihad global.
  • Makarem Shirazi menegaskan bahwa membalas kematian Khamenei bukan lagi sekadar urusan politik, melainkan kewajiban suci atau fardhu ain bagi umat Muslim di seluruh dunia.
  • Tewasnya Khamenei dianggap sebagai titik nadir dalam hubungan diplomatik di kawasan tersebut, yang kini berada di ambang perang terbuka.

TRIBUNNEWS.COM - Tokoh agama paling berpengaruh di Iran, Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi resmi menyerukan komando jihad global.

Seruan itu muncul pasca kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu.

Makarem Shirazi menegaskan bahwa membalas kematian Khamenei bukan lagi sekadar urusan politik, melainkan kewajiban suci atau fardhu ain bagi umat Muslim di seluruh dunia.

"Musuh harus dibuat menyesali perbuatan dan kata-kata mereka," tegas Makarem Shirazi, mengutip WANA.

Langkah drastis ini diambil setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak akhir Februari lalu.

Tewasnya Khamenei dianggap sebagai titik nadir dalam hubungan diplomatik di kawasan tersebut, yang kini berada di ambang perang terbuka.

Para pengamat menilai maklumat jihad dari Makarem Shirazi ini bisa menjadi pematik bagi kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon, Irak, hingga Yaman untuk melancarkan serangan balasan yang lebih masif.

Sebelumnya, para pengamat juga telah memperingatkan atas tindakan Israel yang membunuh para pemimpin di Iran.

Dalam waktu singkat, serangkaian serangan presisi telah menewaskan tokoh-tokoh penting yang menjadi jembatan antara Iran dengan kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Bagi Israel, ini adalah pesan tegas bahwa tidak ada tempat yang aman bagi musuh-musuh mereka.

Langkah ini dianggap perlu untuk memutus rantai komando dan logistik yang selama ini menyokong perlawanan terhadap Tel Aviv.

Baca juga: Netanyahu Ngaku Main Sendiri saat Serang Ladang Gas Iran, Bawa-bawa Nama Trump

Meski terlihat sukses di permukaan, banyak ahli internasional yang mulai waswas.

Strategi "pembunuhan terarah" ini dinilai seperti pedang bermata dua.

"Menghabisi seorang pemimpin mungkin memberikan kemenangan taktis sesaat, tapi secara strategis, ini bisa memicu eskalasi yang tidak terkendali," ungkap Ketua Keamanan Global dan Geostrategi di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Jon Alterman kepada AP News.

Ada kekhawatiran bahwa Iran, yang merasa terpojok, akan mengambil langkah ekstrem.

Pilihannya mulai dari serangan balasan besar-besaran, hingga percepatan program nuklir yang selama ini menjadi kekhawatiran dunia.

Selain itu, organisasi yang kehilangan pemimpinnya biasanya akan segera melakukan regenerasi dengan sosok-sosok muda yang jauh lebih radikal dan sulit ditebak arahnya.

Ancaman Balas Dendam Iran

Pemerintah Iran melontarkan ancaman keras bahwa mereka tidak akan lagi menahan diri jika infrastruktur energi mereka kembali menjadi sasaran serangan.

Pernyataan ini muncul setelah aksi saling serang antara Israel dan Iran mulai menyasar sektor vital gas dunia.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa serangan balasan yang diluncurkan Iran sebelumnya barulah "pemanasan".

Araghchi menyebut Iran hanya menggunakan sebagian kecil dari kekuatan militernya saat menggempur balik Israel dan sekutunya.

Baca juga: Mesir dan UEA Minta Perang Iran Diredam, Negara Teluk Bertahan di Tengah Ancaman

"Satu-satunya alasan kami masih menahan diri adalah karena menghargai upaya deeskalasi. Tapi ingat, zero restraint (tidak ada lagi ampun) jika infrastruktur kami diserang lagi!" tegas Araghchi, mengutip The Guardian.

Serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran memicu reaksi berantai yang mengerikan.

Iran membalas dengan menghantam kompleks gas Ras Laffan di Qatar.

Akibatnya fatal: Qatar melaporkan 20 persen kapasitas ekspor LNG mereka lumpuh.

Mengingat Qatar adalah pemasok utama gas dunia, pasar saham global langsung rontok.

Para ahli memprediksi dampak kerusakan ini tidak akan hilang dalam satu-dua tahun, melainkan bisa bertahun-tahun ke depan.

Dunia kini di ambang krisis energi massal.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved